Si Jari Panjang, dan Kengerian Yang Dibawanya

Tiba-tiba saja, kamu terbangun dari tidurmu, dan tanpa sebab yang jelas, kamu sangat sulit menggerakkan tubuhmu. Rasa dingin yang ganjil seketika menjalar ke seluruh tubuhmu, membuatmu ketakutan… membuatmu sadar bahwa saat ini ada sesuatu yang sedang bersamamu, mengawasimu… Antara sadar dan tidak, kamu melihat sesuatu itu, kamu mencoba berteriak memanggil siapapun, melantunkan doa-doa, namun semua terasa percuma. Ketakutanmu tak kunjung mereda, bayang hitam itu semakin pekat, dan kamu menghabiskan semenit, yang terasa seperti sejam itu, meronta melepaskan diri dari bayang hitam itu. Saat akhirnya kamu telah sadar sepenuhnya, energimu seakan tersedot habis, bahkan untuk bangkit pun kamu sulit…

Sleep paralysis? Yap. Itu dia.

***

741px-John_Henry_Fuseli_-_The_Nightmare

The Nightmare, karya Johann Heinrich Füssli (1781). Sumber: Wikipedia

Hingga detik ini, aku bersyukur pada Allah SWT karena telah menjagaku sepanjang hari, dan terutama saat malam hari. Terima kasih ya Allah, untuk keajaiban surah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, dan Ayat Kursi yang selama beberapa hari belakangan ini selalu menjagaku dari kejadian-kejadian buruk yang sempat membuatku takut tidur di kamarku sendiri.

Flashback dulu sebentar ya, sekaligus pengakuan dosa juga. Dulu aku adalah salah satu dari sekian umat Muslim berotak bebal yang kerap menyepelekan pentingnya berdoa sebelum tidur, dan terutama, menyepelekan kekuatan surah-surah pendek yang kusebut di atas tadi. Padahal sleep paralysis ini, atau yang orang Jawa sering bilang ‘ketindihan’, sudah kualami sejak SMP. Bapakku pun sudah dari dulu berpesan, sering-seringlah mengamalkan keempat surah dan Ayat Kursi itu untuk mendapat perlindungan dari Allah. Tapi sering kali aku memilih langsung tidur saja tanpa berdoa sama sekali. Gara-gara sifat malas itu, konsekuensi yang kuterima cukup membuatku terganggu. Oh bukan cukup lagi, tapi SANGAT MENGGANGGU.

sleep-paralysis-440x265

Yang parah dari ‘ketindihan’ ini adalah: aku bisa mengalaminya sampai tiga kali dalam semalam. Gila, sekali aja udah tobat! Aku bergulat berusaha bangun (melepaskan diri dari ‘sesuatu’ yang menahanku itu, dunia medis menyebut itu sebagai halusinasi) dan berhasil, meskipun efeknya badan jadi terasa amat sangat lemas. Karena lemas itu, aku tertidur lagi dan ketindihan LAGI. Begitu terus, dan hingga akhirnya aku nyerah dan kabur ke kamar orangtuaku. Padahal jarak kedua kamar ini ngga jauh sama sekali, hanya perlu melewati TV, tapi aku sampai jatuh bangun menuju kamar orangtuaku, karena badanku terasa lemas sekali. Lututku sampai memar-memar gara-gara berulang kali terjatuh.

Tapi itu semua kalah, kalau dibandingkan dengan kejadian yang kualami beberapa hari yang lalu ini.

Untuk yang kesekian kalinya, aku mendadak terjaga dan badanku sulit kugerakkan. Aku tahu ini terjadi lagi. Aku mau berteriak tapi ngga ada satupun suara yang keluar. Yang paling horor adalah, aku benar-benar merasakan jari-jari panjang dan kasar menahan kedua tanganku hingga sulit bergerak. Aku berjuang keras untuk membebaskan diri dan membuka mata, dan saat itulah… aku melihat ada sesuatu yang berlari dengan cepat di dekat pintu kamar. Tingginya sejajar dengan gagang pintu, dan kepalanya besar. Saat aku menulis ini, aku berpikir mungkin itu tuyul hydrocephalus. Tetep aja ngga ada lucu-lucunya.

Aku mengumpul-ngumpulkan keberanian (dan energi yang sudah menyusut drastis) untuk keluar dari kamar, kemana lagi kalau bukan ke kamar orangtuaku. Satu ranjang saja sudah penuh dengan orangtuaku, aku paksakan untuk berjejal-jejal disana. Tapi aku nyerah, sempit bangeeet… Gimana bisa tidur kalau tempat yang tersisa cuman di ujung tempat tidur, benar-benar di ujung? Rasa takut ternyata kalah dengan rasa ngantuk, aku kembali ke kamarku, mencoba untuk tidur lagi. Ngga mau si jari panjang dan tuyul hydrocephalus itu datang lagi, kali ini aku berdoa. Surah Al Fatihah, Al Falaq, An Nas masing-masing tiga kali, dan Ayat Kursi. Alhamdulillah, aku bisa tidur nyenyak sampai Subuh.

Meme-You-will-never-know-true-fear-until

Aku tahu, ada penjelasan medis untuk itu. Berdasarkan beberapa artikel yang kubaca di internet, penyebab ‘ketindihan’ itu adalah keadaan tubuh itu sendiri. Tubuh yang terlalu lelah dan stress berlebihan bahkan sampai terbawa mimpi ini yang bertanggung jawab terhadap kacaunya gelombang otak sehingga otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Teorinya, tidur yang normal terjadi dalam beberapa tahap. Tahap 1, tahap paling ringan dan kesadaran masih tersisa setengahnya; Tahap 2, tahap tidur yang lebih dalam daripada tahap 1; Tahap 3, tidur paling dalam dan sulit dibangunkan, dan tahap 4 yaitu tahap REM (Rapid Eye Movement), disinilah biasanya terjadi mimpi. Pada kasus ‘ketindihan’ ini, dari tahap 1 langsung loncat ke tahap REM dan saat mendadak bangun, tubuh belum siap untuk bangun karena tahap tidur yang ‘loncat’ tadi, sementara otak sudah terbangun. Halusinasi seperti melihat bayangan hitam yang menindih tubuh kita justru semakin memperparah keadaan dan membuat panik.

Sampai saat ini aku belum tau, apa insiden si jari panjang dan tuyul hydrocephalus itu efek dari stress, atau memang sedang ada ‘sesuatu’ yang mengganggu? Tapi rasanya itu terlalu mengerikan untuk disebut halusinasi. Entahlah…

***&&&***

2 thoughts on “Si Jari Panjang, dan Kengerian Yang Dibawanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s