Aku, Sebagai Orang yang Jatuh Cinta

When you like somebody, you always feel like you’re not good enough.

Because you always want to look good in front of him…But you don’t

Feel the way for me at all.

(Shut Up Flower Boy Band)

in_love_and_lonely

Seingatku, aku tadi ada di halaman. Ada Tuti yang bertanya kenapa aku terlambat pulang. Ada Vivi yang sedang masak di dapur. Ada Adi yang sedang duduk-duduk sambil bermain kartu. Tapi tiba-tiba saja aku sudah terbaring disini, jilbabku sudah terlepas, dan aku merasa rambutku lembab. Aku mendengar Rara mengomeli Herni karena tehnya terlalu panas. Indah duduk bersimpuh di dekatku, di tangannya terdapat sebotol minyak kayu putih. Ada yang sedang menarik lepas kedua kaus kakiku. Di luar kamar, kudengar Keke sedang memarahi seseorang.

“… anak orang kamu ajak jalan kesana kemari? Dia kan lagi puasa!”

Kenapa ribut-ribut? Kenapa aku disini?

“… yang penting dia udah sadar… trauma liat orang pingsan…”

Itu suara Indah. Siapa? Siapa yang pingsan? Aku?

Aku beringsut bangun, dan seseorang entah siapa langsung dengan sigap membantuku duduk. Dia membujukku minum teh hangat, aku terpaksa menurut. Tak ada gunanya menolak dengan alasan puasa, karena puasaku sudah batal.

Ternyata aku yang pingsan. Tentu saja, siapa lagi yang bertampang pucat dan sempoyongan di tempat ini selain aku. Sepertinya aku ambruk di halaman depan dekat dapur ‘darurat’ milik kami para mahasiswa KKN, karena itulah ingatan terakhirku sebelum aku terbangun disini. Ternyata pesta perbaikan gizi dengan menyantap daging kambing guling di acara resepsi pernikahan keluarga Kak Wisnu tidak cukup ampuh menaikkan tensi darahku.

Makin banyak saja yang mengomel di luar, sekarang Rara juga berkolaborasi dengan Keke, merepet dengan kecepatan gigi empat kepada seseorang yang mereka anggap bertanggung jawab terhadapku. Aku tidak mendengar suara pembelaan dari ‘tersangka’, Darma. Atau lebih tepatnya, aku tidak mendengar dengan jelas apa yang dia bicarakan. Suaranya tenggelam di antara omelan kedua ‘ibuku’, Rara dan Keke.

Darma berada dalam posisi yang salah karena dia tidak peka dengan kondisi tubuhku yang menurun drastis. Hari ini kami semua memang baru saja menyelesaikan ujian lisan KKN di tempat yang cukup jauh dari desa, dan saat ujian berakhir, kami tidak langsung pulang ke rumah kontrakan. Kami jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk membeli kado. Kami sepakat untuk mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan dengan saling bertukar kado, karena KKN sudah berakhir. Aku menumpang motor Darma, dan sebagai penumpang yang patuh, aku tidak bisa mendesaknya untuk cepat-cepat pulang, karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan. Inilah yang akhirnya membuatku merasa bodoh. Kalau memang aku merasa segan meminta supaya cepat pulang, kenapa aku tidak pindah tumpangan saja pada Parta atau Kak Dimas atau siapapun yang sudah berniat untuk langsung pulang setelah membeli kado. Harusnya aku bilang saja kalau aku tidak enak badan dan ingin istirahat di rumah. Mungkin aku tidak akan pingsan seperti ini.

Dia dimarahi, ya? pikirku. Tapi aku tak merasa bersalah untuk hal itu. Bahkan aku senang dia dimarahi. Aku senang ada seseorang yang terang-terangan memarahinya demi aku. Aku senang bisa melihat cela pada diri Darma, cela yang memanusiakan dia, yang membuat dia tak lagi sempurna.

Apa aku membencinya? Kenapa aku merasa senang mendengarnya dimarahi? Aku sendiri tidak tahu apakah saat ini aku membencinya atau tidak. Satu hari, aku merasa aku telah melupakannya, lupa kalau aku pernah menyukainya. Kemudian hari ini, aku berharap bisa bertukar kado dengannya, meskipun kado yang kubungkus adalah boneka Tiger. Aku tidak bisa menetapkan pikiranku, ini membuatku sangat bodoh.

“Kamu istirahat aja dulu ya, nanti Putri bangunin kamu kalo masakannya udah mateng,” kata Rina. “Aku mau ke tempat mancing dulu sama Lanang.”

Aku mengangguk pelan. “Pintunya jangan ditutup,” kataku.

“Iya,” kata Rina. Dia kemudian pergi. Sesaat setelah Rina pergi, suasana kamar jadi terasa sepi. Aku memejamkan mataku.

***

Aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta dengan seseorang. hanya karena orang itu tampan seperti Sadha Triyudha, tidak berarti aku langsung menyukainya dan selalu memikirkannya setiap saat. Bahkan terkadang, aku benar-benar melupakan soal fisik saat sedang jatuh cinta. Katakanlah, Sadha Triyudha adalah tipe idealku, aku ingin suatu saat nanti jatuh cinta dan dicintai oleh laki-laki seperti Sadha Triyudha. Tapi kenyataannya, cinta tak mengenal siapa itu Sadha Triyudha.

Saat sedang jatuh cinta, aku selalu tak punya alasan pasti kenapa aku bisa begitu menyukai orang itu. Aku tak mampu meyakinkan teman-temanku yang terkadang mengernyitkan dahi dan berkata, “Kamu suka dia, Fit? Seriusan?”. Aku hanya bisa menjelaskan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi tiap kali aku sedang jatuh cinta? Menulis diary? Tidak, aku tidak harus merasa jatuh cinta dulu untuk bisa menulis diary. Memikirkan dirinya sepanjang hari? Hei, ayolah, aku memang bukan orang yang sibuk tapi aku punya banyak yang bisa kulakukan dalam 24 jam daripada hanya melamunkan orang yang sama sepanjang hari. Mencoba untuk dekat dengannya? Hmm… tentu. Semua orang pasti merasa ingin selalu dekat dengan orang yang dia suka. Tapi bagiku, ada satu hal lagi.

Aku selalu merasa tidak berguna di depan orang yang aku sukai.

Seperti sudah menjadi kebiasaan kalau hampir setiap orang yang kusukai itu menduduki ‘jabatan’ yang berkelas di lingkungan mereka masing-masing. Dari mulai juara umum, ketua club sastra, atau menjabat sebagai semacam pemimpin regional dalam suatu yayasan beasiswa. Orang-orang yang berkelas di lingkungan masing-masing. Padahal aku sama sekali tidak berniat harus naksir dengan orang-orang dengan ‘jabatan’ tinggi. Entahlah, itu semua terjadi begitu saja, dan saat rasa itu tumbuh semakin kuat, semakin kuat juga rasa tidak percaya diriku. Aku merasa seperti kutu yang mengganggu bagi mereka.

Dan itu terulang lagi kali ini.

Setelah aku mengenal Darma lebih jauh, aku sempat berpikir kalau terkadang Tuhan pun tak adil, terkadang Tuhan ‘membiarkan’ beberapa makhluk ciptaanNya memborong semua keistimewaan yang kuinginkan setengah mati. Hal utama yang dia miliki, yang membuatku iri tapi juga sekaligus kagum, adalah kecerdasannya. Gaya berbicaranya menyiratkan jenis kecerdasan yang berbeda, kecerdasan yang tak terbatasi oleh teori-teori buku, jenis kecerdasan yang tak terbingkai oleh kacamata tebal-lebar a la Betty La Fea, dan jenis kecerdasan yang tidak membuatnya terisolasi dari lingkungannya. Tak butuh waktu lama bagi seorang Darma untuk membuat orang-orang di sekitarnya kagum padanya. Termasuk aku.

Oh dan satu lagi, dia jago berbahasa Inggris. Demi Tuhan, itu adalah impianku seumur hidup, impianku sejak kecil!

Tapi harus kuakui, dia terkadang juga aneh. Sifat kritisnya terkadang membuat mengernyitkan dahi, karena pertanyaan-pertanyaannya yang ngga penting. Contohnya saja, saat dia mencoba kurma untuk pertama kalinya. Dia menggigit daging buah itu, memperhatikan bijinya, lalu bertanya,

“Fit, bijinya bisa dimakan, ngga?”

“Coba aja ditelen, trus setelah itu minum air. Ntar lagi 2 hari bakal numbuh tunas di dalem perutmu.” Dia hanya tertawa mendengar jawaban ngawurku.

Lain waktu, dia bertanya lagi padaku. “Fit, kalo cewek lagi datang bulan, tapi dia tetep ngga mau makan seharian kayak lagi puasa, itu boleh ngga?”

“Ya boleh lah paaak… Lagian dari kemaren-kemaren pertanyaanmu aneh mulu sih, ngga kuat otakku nangkepnya,” jawabku.

Dia tertawa. Mungkin menurutmua, aku ini adalah tipe orang yang suka bercanda, ceplas ceplos, selalu terlihat ceria. Aku, tanpa sadar, telah membentuk image sebagai seorang ‘pelawak’ dengan sering melontarkan celetukan-celetukan, ledekan, candaan semauku, polos apa adanya. Aku tak pernah gagal membuatnya tertawa, dan aku menyukai itu. aku telah membuat seseorang merasa bahagia.

Tapi apakah aku merasa bahagia? Maksudku, benar-benar bahagia? Apakah saat ngobrol berdua dengannya setelah selesai makan malam? Saat berusaha melucu dan membuatnya tertawa? Saat dia memboncengku? Saat dia merasa bersalah dan khawatir melihatku sakit? Saat teman-teman meledek kami berdua? Aku mengingat setiap detil peristiwa itu, aku bahkan masih ingat dengan noda kusam di baju putihnya, tapi kenangan-kenangan itu tidak membuatku benar-benar bahagia. Aku tidak tersipu-sipu malu saat mengingat kejadian-kejadian lucu yang seharusnya menyenangkan itu.

Sepertinya… aku telah berkorban pada sesuatu yang tidak semestinya.

Dp-BBM-Cinta-Bertepuk-Sebelah-Tangan

***

“Kamu yang terlalu berharap.”

Ajaib. Aku bahkan belum mengutarakan keluhanku, tapi temanku Yuli sudah ‘menembak’ dengan sangat jitu. Yuli memang jago meramal, tapi kurasa si psikolog gadungan yang nyasar ke jurusan Ilmu Komputer ini tidak memerlukan bakat mistisnya itu untuk mengetahui kalau apa yang kurasakan saat ini adalah sesuatu yang tidak sehat. Aku lebih banyak murung daripada bahagia selama menyukai Darma. Aku terlalu sibuk untuk menjadi seseorang yang baik dan ceria di mata Darma. Setiap hari aku membiarkan diriku dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan “Apa hari ini aku terlihat baik di matanya?”, “Apa leluconku hari ini lucu?”, atau “Apa hari ini aku terlihat cantik?”. Aku tak peduli sekalipun hatiku berulang kali berteriak kelelahan dan menolak untuk berubah menjadi orang lain. Aku menguras tenagaku untuk menjadi sempurna, aku menguras tenagaku untuk selalu tersenyum meskipun sebenarnya hatiku menangis dan memohon untuk menyudahi ini semua. Aku telah membohongi diriku sendiri, dengan menutupi kenyataan bahwa selama ini akulah yang berusaha membuatnya bahagia, sementara dia tidak melakukan hal yang sama padaku. Tidak seperti ini seharusnya mencintai seseorang, tidak semenderita ini…

“Kamu terlalu berharap ke dia, sementara dia ngga merasakan hal yang sama ke kamu. Ngga kayak gini mestinya suka sama seseorang, Fit. Kamu harusnya bahagia, happy, berbunga-bunga, ngga pura-pura kayak gini. Inget, kalian terlalu berbeda satu sama lain, dan itu perbedaan yang ngga akan bisa diubah sampai kapanpun.”

Ya, sebuah jurang yang lebar dan dalam terlihat jelas olehku. Jurang yang bernama agama. Aku telah jatuh cinta pada dia yang berbeda keyakinan denganku. Aku telah jatuh cinta padanya meskipun aku sendiri sudah berjanji bahwa aku tidak akan pernah mengorbankan keyakinan yang telah aku anut selama bertahun-tahun, aku tak akan pernah mengkhianati Tuhan demi makhlukNya yang fana. Aku sudah mengetahuinya sejak awal, tapi baru sekarang aku benar-benar merasakan perihnya kenyataan itu.

“Lupain dia, Fit. Aku ngomong gini bukan karena dia punya sifat jelek, bukan karena dia nyebelin. Dia ngga jelek, dia ngga jahat. Tapi kamu tentunya punya hak untuk bahagia, kamu punya hak untuk memberikan cintamu ke orang yang tepat. Aku kenal kamu udah lebih dari 9 tahun, Fit, dan jelas aku lebih milih dukung kamu. Bukan dukung kamu buat jadian sama dia, tapi dukung kamu untuk nyari kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu ngga ada di dia, Fit.”

Aku sedih mendengar hal itu, tapi aku akui tak ada satu huruf pun yang keliru dari Yuli. Yuli memang sangat blak-blakan, sifatnya keras, tapi aku tahu hatinya baik. Dia tidak ingin melihatku terluka lebih dalam lagi. Aku sendiri pun sudah merasa lelah dengan semua ini. Aku ingin jatuh cinta dengan bahagia, dicintai oleh seseorang yang membuatku merasa lengkap, yang membuatku mensyukuri apa yang telah aku punya. Aku lelah harus menjadi ceria dan konyol hanya supaya bisa melihatnya tertawa. Aku lelah berubah menjadi sempurna.

Ingin rasanya aku bertanya, apakah Darma sedang menyukai orang lain? Tapi aku mengurungkan niatku, aku tak mau menghancurkan hatiku sendiri.

***

Aku membuka mata. Hari semakin beranjak sore, sebagian teman-temanku sudah pergi ke tempat memancing, hanya ada beberapa orang yang tetap tinggal di rumah untuk memasak, bersih-bersih, atau menjagaku. Aku tidur dengan posisi menyamping menghadap tembok, jadi kalaupun teman-temanku masuk ke kamar, mereka tidak akan tahu kalau sebenarnya aku pura-pura tidur.

Kupikir, aku sudah bersikap jahat dengan merasa senang saat Darma dimarahi. Terlepas dari fakta bahwa dia sudah lalai karena tidak menyadari kalau aku sudah sangat lelah, dia tidak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya pantas untuk kubenci. Bukan salahnya kalau dia tidak bisa membalas perasaanku. Bukan salahnya kalau aku jadi terobsesi menjadi sosok yang sempurna. Bukan salahnya kalau diantara kami terbentang jurang yang sangat lebar dan dalam, jurang bernama agama yang tak akan mau dan tak akan pernah bisa kuseberangi seumur hidupku. Bukan salahnya kalau aku merasa telah ditolak olehnya sebanyak puluhan kali, bahkan sebelum aku mengungkapkan langsung perasaanku padanya.

Tapi meskipun begitu, aku masih menyimpan sedikit rasa egois dalam hatiku. Aku tak bisa mendoakan “semoga dia bahagia dengan siapapun yang bersamanya kelak”. Sudah cukup lama aku tak mempedulikan diriku sendiri, jadi aku lebih memilih untuk berdoa, “Tuhan, izinkan aku jatuh cinta dengan bahagia, mencintai dan dicintai oleh seseorang yang membuatku merasa lengkap. Izinkan aku jatuh cinta dengan seseorang yang Engkau restui. Tuntun aku pada seseorang yang kucintai dan mencintaiku karenaMu”.

Aku, sebagai orang yang jatuh cinta, pada akhirnya memang harus menyadari bahwa apa yang terjadi seringkali tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Aku, sebagai orang yang jatuh cinta, pada akhirnya menyadari bahwa aku sudah begitu egois menginginkan dia supaya memiliki perasaan yang sama denganku. Aku, sebagai orang yang jatuh cinta, pada akhirnya tersadar, bahwa betapa Tuhan ternyata masih sangat mencintaiku. Tuhan memberiku rasa pedih ini supaya aku tidak nekat menyeberangi jurang yang lebar dan dalam itu, jurang yang sejak awal telah memisahkan aku dan Darma. Inilah saatnya untuk melepas apa yang selama ini sangat ingin kumiliki, untuk mencari dan meraih kebahagiaan lain yang telah menunggu di luar sana.

Entah apakah Tuhan mengizinkan Darma membaca tulisan ini. Tapi kalau memang suatu saat nanti dia membacanya, aku ingin dia tahu kalau aku merasa berterima kasih. Terima kasih karena telah menjadi sahabatku. Terima kasih karena telah tertawa mendengar candaanku. Terima kasih karena aku memiliki kesempatan untuk mengenalmu. Terima kasih… karena telah mengizinkanku untuk menyukaimu. Tapi inilah saatnya untuk meraih kembali jalanku, menerima kenyataan kalau kita berdua memang benar-benar berbeda. Aku tak bisa berbuat apa-apa karena ini semua sudah menjadi petunjuk bahwa Tuhan tidak merestui perasaanku padamu. Aku harus mundur, dan itulah yang akan aku lakukan.

Mungkin aku akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa benar-benar melupakannya. Mungkin aku perlu merasakan jatuh cinta pada orang lain supaya aku bisa benar-benar melupakannya, seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Mungkin aku akan mengalami masa-masa dimana aku merasa tersiksa karena tidak bisa berhenti berharap supaya bisa menaiki bis yang sama di semester depan nanti. Tapi aku akan tetap mengakhiri perasaan ini… perlahan-lahan.

***&&&***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s