[twoshoot – END] Tweet, Reply, Love

 Main Cast: 

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Iseul (OC)

Supporting Cast:

– Jung Jinyoung (B1A4)

– Kang Minhyuk (CN Blue)

– Kim Hyuna (4Minute)

– Lee Joon (MBLAQ)

Length: twoshoot

Rate: PG-15

Gikwang-Iseul’s Theme Song: 


Part 2

Author’s PoV

“Iseul,” panggil Jinyoung. Iseul, yang sedang melipat selimut dan menaruh bantal untuknya tidur di atas sofa, menoleh. Jinyoung menunjuk sofa dengan dagunya sebagai isyarat supaya Iseul duduk. Gadis itu menurutinya.

“Apa aku boleh bercerita sesuatu?” tanya Jinyoung. “Ini tentang temanku.”

“Ya,” kata Iseul. Suaranya masih parau karena baru lima menit yang lalu dia berhenti menangis.

Jinyoung menghela napas. “Temanku… punya masa lalu yang sangat buruk dengan mantan pacarnya. Baik aku maupun temanku ini sepakat kalau gadis itu sangat cantik, semua laki-laki akan mengaguminya dan semua gadis akan iri dengan kecantikan dan perhatian semua lelaki padanya. Aku hanya sebatas mengaguminya, tapi tidak dengan temanku. Dia melakukan banyak hal supaya bisa menarik perhatian gadis itu, dan meskipun sulit, akhirnya dia berhasil. Singkatnya, mereka akhirnya pacaran. Saat mereka pacaran, entah kenapa aku tidak yakin kalau hubungan mereka hanya sebatas berpegangan tangan atau ciuman, mungkin akan lebih jauh dari itu. Dan ternyata benar, dia mengatakan sendiri padaku kalau mereka sudah berhubungan intim. Aku kaget karena aku tahu sifat temanku ini, dia bukan laki-laki brengsek. Tentu saja aku marah mendengar ceritanya, tapi dia meyakinkanku kalau dia akan menjaga pacarnya dengan baik, dan bahkan kalau waktunya tepat, dia akan menikahinya. Aku tidak terlalu mendengarkan kata-katanya, karena aku sedang emosi saat itu.

Tapi beberapa minggu setelah kejadian itu, temanku mulai kesulitan menghubunginya, terutama setelah pacarnya kerja part time di sebuah café. Ketika temanku menanyakan tentang hal itu, gadis itu menjawab kalau dia sibuk dan sering kerja shift malam. Temanku percaya. Ah tidak, lebih tepatnya, temanku berusaha untuk percaya. Kau tidak akan percaya kalau cinta bisa begitu membutakan, kan?

Suatu hari, temanku ingin memberi kejutan dengan menjemput gadisnya ke tempat kerja. Tapi sesampainya disana, apa yang dia dapat? Ternyata gadis itu tidak pernah mengambil shift malam. Dari informasi yang didapat, gadis itu sering datang ke sebuah klub malam di daerah Gangnam, Gogo’s club. Temanku segera menyusul kesana.

Disana, di klub malam itu, meskipun sudah jelas kalau yang temanku lihat itu adalah pacarnya, tapi temanku merasa sepertinya itu bukan dia. Tidak ada kepolosan khas gadis remaja pada orang itu. Dia dengan liarnya menari bersama teman laki-lakinya dengan baju yang… entahlah, kalau dia pacarku aku akan menghampirinya dan membungkus tubuhnya dengan jaketku lalu menyeretnya pulang. Pakaiannya… aku bahkan bisa bilang kalau malam itu dia nyaris telanjang.

Tapi temanku tidak melakukan apa-apa. Dengan perasaan kalut dia pulang dan mencoba mengisi kepalanya dengan pikiran-pikiran positif. Tapi tentu saja sulit. Apa yang positif dari seorang gadis yang membohongi pacarnya dan bersenang-senang di klub? Temanku mencoba bicara baik-baik dengan gadis itu, dia datang kerumahnya untuk membicarakan hal itu.

Saat berada di rumah gadis itu, temanku tak sengaja menemukan ponsel gadis itu di ruang tamu. Temanku membuka inbox dan membaca pesan dari seorang laki-laki. Isi pesannya membuatnya muak dan murka, dari mulai pesan mesra standar sampai ke pesan yang jelas-jelas menyiratkan kalau gadis ini berselingkuh darinya bahkan melakukan ‘itu’ pada laki-laki ini. Tepat saat gadis itu keluar dari kamar mandi, temanku marah besar dan membanting ponsel gadis itu tepat didepan gadis itu. Meskipun gadis itu sudah memohon-mohon supaya temanku memaafkannya, tapi temanku tidak peduli. Kalau saja temanku tidak bisa menguasai diri, mungkin temanku akan menampar gadis itu.

Sejak itulah, semua hal dalam hidupnya seperti berubah. Orang yang dia ajak bicara semenjak kejadian itu hayalah orangtuanya, aku dan sahabatku yang lain, Minhyuk. Dia seperti sudah tidak percaya lagi kalau dia bisa menemukan gadis yang lebih baik dari mantan pacarnya dulu.”

“Jinyoung,” potong Iseul. “Apa temanmu itu… Gikwang?”

Jinyoung tidak menjawab, tapi Iseul tahu kalau tebakannya benar. “Aku akhirnya tahu kalau dia sebenarnya bukan laki-laki brengsek, keadaanlah yang membuatnya terlihat seperti itu. Gadis itu berselingkuh darinya bahkan melakukan ‘itu’ pada orang lain, sementara Gikwang berjanji bahwa dia akan melindungi gadis itu setelah apa yang mereka lakukan saat pacaran dulu.”

“Banyak hal yang dialami Gikwang setelah dia dikhianati. Sakit hati, kecewa, dan terlebih lagi, pengkhianatan itu membuatnya takut. Dia takut menjalani kehidupan baru bersama orang lain, karena dia takut orang yang dia sayangi nanti akan menjauhinya kalau dia mengetahui masa lalunya. Kau menjauhinya setelah kau tahu masa lalunya, tidakkah kau pikir hatinya akan menjadi jauh lebih sakit dari sebelumnya?”

“Aku… tidak tahu…” Iseul kehabisan kata-kata.

“Kau tidak tahu cerita sebenarnya kan? Baru mendengar kalau ‘Gikwang pernah melakukan ‘itu’ dengan Hyuna’, kau menganggap kalau Gikwang pelakunya dan Hyuna korbannya. Itu terbalik. Aku sendiri kecewa kenapa Gikwang harus mengenal gadis seperti itu.

Kupikir, kau terlalu berharap kalau Gikwang itu adalah sosok manusia sempurna yang tidak pernah berbuat salah. Itu pikiran yang salah. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, tapi yang terpenting, kau harus percaya kalau Gikwang bukan manusia bodoh yang melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dia ingin mengulang lagi janjinya untuk menjaga orang yang dia cintai, dan dia ingin melakukan itu padamu.”

Iseul terperanjat. “Aku?”

Jinyoung mengangguk. “Aku tahu kalau Gikwang menyukaimu, saat kencan pertama kalian. Bahkan saat kalian baru sebatas teman ngobrol di Twitter.”

Iseul tidak berkata apa-apa, tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih mendengar kata-kata itu. Dia merasa, tanpa sadar dia sudah menyakiti Gikwang, disaat laki-laki itu ingin bangkit dan memulai hidup baru.

“Besok kau temui Gikwang, bicara dengannya. Ya?” kata Jinyoung. Iseul mengangguk pelan. Jinyoung beranjak dari sofa lalu pergi ke dapur mengambil minuman. Ruang tamu sekejap menjadi hening setelah Jinyoung berhenti berbicara pada Iseul. Iseul berharap Jinyoung kembali menceritakan tentang Gikwang, cerita apapun yang membuat Iseul merasa sangat bersalah dan berlari menemui Gikwang malam ini juga.

Iseul beranjak menuju laptop milik Jinyoung dan membuka Twitter-nya, alih-alih menelepon Gikwang. Dia merasa seperti ingin kembali ke masa saat dia dan Gikwang belum saling bertatap muka, hanya sebatas teman ngobrol di Twitter. Tak ada Gikwang di timeline-nya, tentu saja. Tak ada mention darinya, hanya ada mention dari teman-teman Iseul yang lain, dan Iseul merasa malas untuk membalasnya. Iseul iseng mengecek DM, dan dia terkejut melihat ada puluhan DM dari satu orang. Gikwang.

Aku yakin kau akan menghapus pesan ini bahkan sebelum membacanya. Tapi aku tidak peduli. Aku akan terus bicara disini, aku harus bicara denganmu.

Mungkin kau tidak akan percaya ini, tapi aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal itu pada Hyuna. Dia, dia yang merayuku. Aku berani bersumpah.

Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku, kenapa aku tidak menolaknya. Kenapa aku meladeninya, dan lebih buruknya, aku menyukai apa yang kami lakukan saat itu. Ya, aku memang brengsek.

 

Ini benar-benar sama dengan apa yang diceritakan Jinyoung pada Iseul. Dengan dada berdebar Iseul membuka semua pesan itu satu persatu.

Aku berusaha menebus kesalahanku dengan menjaganya sebaik mungkin, bahkan aku berjanji akan menikahinya. Aku mengatakan itu di depannya, dia mendengar semua kata-kataku.

Tapi ternyata dia selingkuh, disaat aku berusaha untuk menjaganya dia malah melakukan ‘itu’ dengan orang lain. Aku sakit hati, Iseul. Aku tidak percaya dia tega mengkhianatiku.

Dan sekarang gadis jalang itu mengganggumu dan memfitnahku. Aku tidak bisa diam begitu saja. Tidak cukup hanya dengan mem-block akunnya.

Aku bersumpah akan membuat perhitungan dengannya, akan kubuat dia merasakan rasa sakit yang kuterima selama ini. Bahkan aku akan membunuhnya, kalau itu jadi satu-satunya cara supaya dia tidak mengganggumu lagi. 

 

Iseul menutup mulutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. Gikwang akan membunuh? Dia tidak yakin kalau Gikwang hanya sekadar menggertak, laki-laki itu pasti serius…

Tanpa mengatakan apapun pada Jinyoung, Iseul segera berlari keluar rumah.

Gangnam, gumam Iseul. Mungkinkah dia ada disana?

“Iseul?” panggil Jinyoung, saat dia mendengar suara pintu membuka dan menutup dari dapur. Dia bergegas pergi ke ruang tamu tapi Iseul sudah tidak ada disana.

***

Iseul berjalan sendirian melewati gang kecil yang berada tepat di sebelah Gogo’s club. Dentuman musik terdengar begitu jelas dari gang ini, Iseul bisa membayangkan betapa bisingnya suasana didalam sana. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Gikwang, tapi ponselnya tidak aktif.

Iseul mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Dia menoleh dan melihat seseorang berjalan kearahnya, dari lekuk tubuhnya Iseul tahu kalau dia adalah seorang gadis. Gadis itu berjalan seolah dia tidak menyadari keberadaan Iseul, dan saat melewatinya dia sekilas melihat Iseul.

Iseul baru menyadari saat gadis itu menatapnya sekilas. Gadis itu Hyuna.

Hyuna berhenti berjalan, seperti menyadari sesuatu. Dia menoleh ke belakang menatap Iseul. “Jung Iseul?”

“Hyuna,” kata Iseul pelan. Dia melihat ke sekelilingnya yang remang karena hanya diterangi lampu berwarna kuning yang digantung jauh diatas mereka. Tak ada siapapun yang mengikuti Hyuna.

“Apa kita hanya kebetulan bertemu atau kau memang sengaja mencariku?” tanya Hyuna, berjalan mendekati Iseul. Iseul tahu kalau Hyuna tidak menyukainya, meskipun wajah Hyuna terlihat tenang.

“Atau kau belum puas dengan apa yang kukatakan di Twitter, dan ingin mendengarnya langsung saat ini?” tanya Hyuna menantang.

“Apa untungnya?” Iseul balik bertanya, dan dia senang bisa mengubah ekspresi wajah Hyuna. “Oh, kalaupun aku memang sengaja mencarimu, aku hanya ingin menanyakan satu hal: kau membanggakan dirimu yang sudah tidak perawan di Twitter?”

Wajah Hyuna berubah menjadi geram, dia semakin mendekati Iseul. Iseul menahan satu kakinya ke tembok di belakangnya, supaya dia tidak terlalu tersudut.

“Kenapa? Kesal?” tanya Iseul, dia senang bisa membuat gadis didepannya ini geram. “Kalau kau tahu aku akan mengatakan ini, setidaknya bicara padaku lewat direct message…”

“Aku senang karena bisa membuat Gikwang tidak sempurna lagi dimatamu,” potong Hyuna. Iseul tertohok mendengar kata-kata gadis itu. “Kau berharap follower-mu akan menghujatku? Yah, setidaknya aku punya teman yang sama-sama dihujat, yaitu Gikwang…”

Iseul sudah mengangkat tangannya hendak menampar Hyuna, ketika tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Hyuna.

“Apa yang kau lakukan disana?”

Hyuna dan Iseul menoleh, laki-laki itu berjalan mendekati mereka. Iseul mengira laki-laki itu adalah Gikwang, tapi ternyata bukan.

“Hanya mengobrol dengan teman baru,” jawab Hyuna, menekankan kata ‘teman baru’ dengan nada menyindir. Dia menjauhi Iseul dan berjalan pergi. Tapi laki-laki itu mencegahnya.

“Tak ingin bermain denganku?” tanya laki-laki itu. Iseul memandang rendah laki-laki itu, dia mengerti apa yang laki-laki itu maksud dengan ‘bermain’. Iseul sempat berpikir mungkinkah Hyuna berselingkuh dengan laki-laki ini.

“Tidak,” jawab Hyuna tegas. “Aku tidak mood, Lee Joon-ah, tapi kau bisa pakai dia,” katanya lalu menunjuk Iseul dan pergi.

Laki-laki itu, Lee Joon, mengerling kearah Iseul, tersenyum licik. Iseul tidak menghiraukan laki-laki itu, dia berjalan melewatinya dan berteriak pada Hyuna.

“Hei, urusan kita belum selesai!!”

Lee Joon menarik Iseul kedekatnya. “Hyuna tidak pernah cerita kalau dia ternyata punya teman secantik kau…”

Iseul menampar Lee Joon dan dia segera pergi menyusul Hyuna. Lee Joon marah dengan tamparan itu, dengan berang dia menarik kembali Iseul dan mendorongnya ke tembok.

“Lepaskan!” teriak Iseul.

Tapi Lee Joon tidak menghiraukan teriakan gadis itu, dan justru bertindak semakin kurang ajar dengan memaksa mencium Iseul. Iseul menendang kaki Lee Joon, menghindari laki-laki itu yang sudah sempat menciumnya, kemudian berteriak sejadi-jadinya.

Seseorang tiba-tiba menarik kerah baju Lee Joon dan langsung menghajar laki-laki itu. Iseul merosot di tembok menggigit bibir bawahnya supaya tidak menangis.

“Kau mengganggu adikku, BODOH!!” seru laki-laki yang menolong Iseul itu, yang ternyata adalah Jinyoung. Jinyoung segera merangkul Iseul yang masih shock, dan Lee Joon mengambil kesempatan itu untuk balik memukul Jinyoung yang sedang berjongkok membelakanginya. Minhyuk spontan berlari dan berdiri memunggungi Jinyoung tepat ketika Lee Joon sudah melayangkan bogemnya. Minhyuk belum sempat mengambil ancang-ancang untuk memukul, tapi dia sudah lebih dulu dipukul Lee Joon hingga laki-laki berkulit putih itu tersungkur menindih punggung Jinyoung.

“Hei, ada apa disana?” teriak seseorang di ujung gang. Jinyoung mendongak menatap orang itu, dan saat itu dia menutupi wajahnya yang silau terkena cahaya senter. Lee Joon langsung kabur sesaat setelah wajahnya tersinari senter.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak orang itu lagi, yang ternyata adalah polisi.

“Pemerkosa! Dia mencoba memperkosa gadis ini!” teriak Jinyoung. Polisi itu segera mengejar Lee Joon, sementara polisi yang satunya mendekati Jinyoung yang masih merangkul Iseul. Minhyuk yang menggelosor di sebelah Iseul mengerang kesakitan sambil menyentuh wajahnya dan kepalanya yang sempat membentur tembok.

“Aaaargh, sakiiit…”

“Aigoo, anak-anak jaman sekarang…” keluh polisi itu, lalu melihat Iseul yang masih gemetar. “Kau baik-baik saja?”

Iseul menggeleng, karena kenyataannya dia memang masih sangat ketakutan.

“Kalian ikut aku ke kantor polisi, aku memerlukan beberapa keterangan,” kata polisi itu.

Iseul menarik lengan baju Jinyoung. “Gikwang… aku harus mencarinya…”

“Siapa lagi Gikwang?” tanya polisi itu. “Dia pemerkosa juga?”

“Teman kami!” jawab Minhyuk kesal, masih sambil meringis kesakitan.

“Yah, siapapun itu, jawab saja nanti di kantor polisi. Ayo ikut,” kata polisi itu, lalu beranjak pergi menuju ujung gang.

Jinyoung menghela napas, berusaha mencari cara supaya bisa mencari Gikwang. Dia sudah membaca pesan Gikwang pada Iseul karena gadis itu lupa sign out, dan dia juga mengkhawatirkan keadaan Gikwang. “Minhyuk, kau ikut ke kantor polisi dengan Iseul…”

“Kenapa aku?” tanya Minhyuk protes.

“Kau kan korban pemukulan juga!” kata Jinyoung. “Aku akan mencari Gikwang,” katanya lalu pergi. Minhyuk berteriak memanggil Jinyoung, tapi Jinyoung sudah jauh berlari meninggalkan ujung gang.

***

Gikwang berjalan menyusuri kerumunan orang yang larut dengan alunan musik di lantai dansa. Matanya mencari-cari keberadaan gadis itu, Hyuna. Gikwang melihat sesosok gadis mengenakan minidress berwarna biru tua di seberang ruangan. Gikwang segera menerobos kerumunan orang-orang itu dan menghampiri Hyuna.

Hyuna tampaknya tidak menyadari kalau Gikwang sedang berjalan menghampirinya, dan dia beranjak pergi dari tempatnya. Tapi baru beberapa langkah, dia dicegat Gikwang.

“Gikwang!” dia terlihat senang melihat Gikwang sudah berdiri di depannya. Hyuna merentangkan tangannya hendak memeluk Gikwang, tapi Gikwang menepis tangan gadis itu dengan kasar.

“Kenapa…?”

“Apa yang sudah kau katakan pada Iseul?” tanya Gikwang.

“Apa maksudmu?” tanya Hyuna, pura-pura tidak bersalah.

“You’re so bitch…” cibir Gikwang. “Bisa-bisanya aku pernah mengenal perempuan tidak punya otak sepertimu, yang dengan bangga memamerkan aib di Twitter. Kau berharap semua orang akan tahu, lalu mengasihanimu, huh?!”

Hyuna menggertakkan giginya, tidak terima dengan perlakuan Gikwang yang seperti itu. “Ya, dan orang-orang akan menganggapmu brengsek!” teriaknya. Suaranya teredam oleh dentuman musik di ruangan itu, sehingga orang-orang tidak begitu mempedulikannya. “Orang-orang akan menjauhimu, begitupun dengan gadis murahan itu!”

“Dia punya nama!” bentak Gikwang. “Dan kau harusnya berkaca karena kaulah yang murahan! Seharusnya aku membunuhmu saat pertama kali kau selingkuh!!”

“Pengecut! Kau hanya bisa menggertak saja! Bunuh aku sekarang kalau berani! BUNUH!!” teriak Hyuna. Gikwang spontan mengambil botol minuman kosong di dekatnya, dia menatap Hyuna tajam dan saat itu juga dia bisa saja mengepruk kepala Hyuna dengan botol itu. Tapi dia hanya menatap Hyuna tajam dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Alih-alih mengayunkan botol ke kepala Hyuna, Gikwang menaruh kembali botol itu di meja. “Jangan berani-berani mengganggu Iseul lagi, atau botol ini akan menghancurkan kepalamu. Aku tidak main-main.”

Gikwang kemudian pergi meninggalkan Hyuna. Hyuna, berurai air mata karena Gikwang telah menginjak-nginjak perasaannya, berteriak seperti orang gila,

“Kau kejam! Tega! Aku masih mencintaimu, Gikwang! Kembali padaku, kembali! KEMBALI!!”

Gikwang tidak mendengar teriakan Hyuna, dia berjalan melewati kerumuman orang-orang. Hyuna semakin frustasi karena Gikwang tidak menghiraukannya.

“Kalau aku tidak bisa memilikimu lagi, maka jangan harap Iseul juga bisa memilikimu!!”

Gikwang sama sekali tidak mendengar itu, karena musiknya terlalu kencang. Dia tidak sadar saat orang-orang menoleh kaget karena mendengar Hyuna memecahkan botol minuman kosong dan berlari kearah Gikwang, mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya. Gikwang baru menyadari saat orang disampingnya menoleh dengan heran. Gikwang berbalik, dan…

JLEEB!! Gikwang merasakan sakit yang luar biasa saat pecahan botol itu tertusuk ke perutnya. Laki-laki itu tersungkur ke lantai, dia mendengar orang-orang memekik ketakutan dan Hyuna yang berurai air mata di wajahnya, dan darah di tangannya.

Hyuna menjatuhkan pecahan botol yang berlumuran darah, tangannya gemetar melihat Gikwang tersungkur dengan perut berlumuran darah.

“Gikwang! Gikwang!”

Hyuna mendengar seseorang memanggil nama Gikwang. Di seberang ruangan di dekat tangga dia melihat Jinyoung berjingkat-jingkat ingin melihat keadaan didalam, melihat apakah di ruangan itu ada Gikwang atau tidak. Sementara Jinyoung, ketika dia melihat Hyuna berdiri sendirian dengan ekspresi ketakutan, dia heran melihat Hyuna ketakutan melihatnya dan langsung kabur. Sekilas dia melihat darah di tangan gadis itu.

Dia berlari secepat mungkin kearah gadis itu, tapi Hyuna sudah menghilang, kabur lewat pintu darurat. Suasana kacau, para gadis menjerit ketakutan melihat Gikwang yang tergeletak sekarat di lantai.

“Ya Tuhan, Gikwang!” seru Jinyoung, dia berjongkok dan mengangkat kepala Gikwang. “Seseorang panggilkan ambulans! PANGGILKAN AMBULANS!!”

Bibir Gikwang bergerak perlahan, ingin mengatakan sesuatu. Tapi setelah sekian lama mencoba, dia hanya bisa mengatakan satu kata, sebelum akhirnya pandangannya menggelap,

“Iseul…”

***

Iseul’s PoV

Aku melangkahkan kakiku ke koridor rumah sakit dengan berat. Beberapa meter lagi aku sampai di kamar tempat Gikwang dirawat. Sudah lima hari berlalu sejak peristiwa penusukan Gikwang di klub malam itu, syukurlah lukanya tidak dalam dan sekarang dia sudah melewati masa kritis.

Tapi semakin dekat ke kamarnya, langkahku justru semakin berat. Aku merasa tidak bisa menemuinya, entah kenapa. Tiap kali aku menyadari kenapa Gikwang bisa berada di tempat ini, pikiranku selalu melayang ke Hyuna. Gikwang terluka karena dia, karena mencarinya…

Pintu kamar Gikwang terbuka dan Minhyuk keluar dari sana. Laki-laki bertubuh tinggi itu terkejut melihatku yang hanya berdiri diam di dekat kamar.

“Minhyuk-ssi…”

“Kau mau mengunjungi…”

Aku meletakkan telunjukku di depan mulut, supaya Minhyuk tidak bicara keras-keras. Aku tidak mau Gikwang tahu kalau aku disini. Minhyuk menatapku bingung, sambil menutup pintu dia berkata,

“Dia baru saja istirahat. Masih ada ibunya didalam,” kata Minhyuk pelan. “Kenapa kau tidak masuk?”

“Aku tidak mau mengganggu istirahatnya,” kataku. Aku dan Minhyuk kemudian duduk di kursi tunggu di luar kamar.

“Kau sama sekali belum pernah menjenguknya,” kata Minhyuk. “Kemarin saat Gikwang sadar, dia menanyakanmu.”

“Benarkah?” tanyaku.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Minhyuk. “Kukira kau masih merasa trauma atau semacamnya, lalu takut keluar rumah…”

“Tidak, aku tidak apa-apa,” kataku. “Ada perkembangan soal mereka?”

“Hyuna?” tanya Minhyuk. “Dia dan laki-laki yang mencoba memperkosamu itu sudah ditangkap. Hyuna ditahan atas percobaan pembunuhan dan laki-laki itu…”

“Lee Joon,” kataku.

“Ya, Lee Joon. Ditahan atas tuduhan percobaan perkosaan,” kata Minhyuk lalu menghela napas. “Terus terang, aku masih heran… Kenapa malam itu kau dan Gikwang sama-sama mencari Hyuna? Jinyoung tidak mau menceritakan padaku dan aku tidak mungkin menanyakan pada Gikwang.”

Aku kemudian menceritakan pesan yang aku baca dari Gikwang pada Minhyuk. Dia tidak terlihat kaget saat aku menceritakan hubungan masa lalu Gikwang yang menyakitkan itu, tapi dia terkejut saat tahu kalau Gikwang mencari Hyuna karena ingin balas dendam, atau dengan kata lain, membunuhnya.

“Astaga… Aku benar-benar tidak tahu kalau Gikwang senekat itu…” kata Minhyuk. “Pantas saja Hyuna meracau kalau sebenarnya Gikwang-lah yang mengganggunya bahkan mengancam ingin membunuhnya, dan dia hanya ingin membela diri. Tapi waktu itu aku tidak percaya.”

“Dan tentang hubungan antara Gikwang dan Hyuna dulu… Kau juga sudah mengetahuinya?” tanyaku. Minhyuk mengangguk, lalu menghela napas dan bersandar ke tembok.

Kami sama-sama terdiam. Aku sudah tahu kebenaran cerita Gikwang dari Jinyoung, tapi baru kali ini aku bisa melihat betapa Gikwang sangat marah dan sakit hati atas semua itu. Rasa dendam Gikwang tidak akan hilang bahkan kalau seandainya dia nekat membunuh Hyuna malam itu, dan aku pasti akan kehilangan Gikwang karena dia tentu saja akan ditangkap polisi dan dipenjara.

Kenapa dia melakukan itu? Kenapa Gikwang seperti sengaja menyimpan kenangan tentang gadis itu begitu lama, padahal dia tahu kalau itu sangat menyakitkan? Dadaku sangat nyeri saat memikirkan ini, tapi mungkin inilah kenyataannya: Gikwang masih mencintai Hyuna, terlalu dalam mencintainya. Tapi karena dia dikhianati, kemarahannya menjadi terlalu besar. Kalau memang itu kenyataannya, mungkin aku akan mundur. Aku tidak mungkin bisa dekat lagi dengan Gikwang kalau kenyataannya dia masih sulit melupakan Hyuna.

“Dan untuk itulah aku sangat ingin mencarikan Gikwang pacar,” kata Minhyuk, memecah keheningan. “Atau paling tidak, seorang gadis yang bisa dekat dengannya. Sejak awal aku memang tidak suka kalau Gikwang pacaran dengan Hyuna. Tapi yah… bagaimana caranya kau melarang orang yang sedang jatuh cinta?”

“Minhyuk-ssi, apa menurutmu Gikwang masih mencintai Hyuna?” tanyaku.

Minhyuk menghela napas. “Mungkin ya, mungkin tidak.”

Melihatku yang bingung, Minhyuk kembali melanjutkan. “Ada kemungkinan kalau Gikwang memang masih mencintai Hyuna, aku sangat tahu sifatnya. Sekali dia menyayangi seseorang, dia akan sangat menjaga perasaannya dan sulit untuk berpaling, meskipun dia tahu kalau orang itu sudah menyakiti dirinya. Wajar kalau akhirnya dia jadi semarah itu.

Tapi ada kemungkinan kalau yang tersisa dalam pikirannya hanya rasa dendam. Karena dikhianati seperti itu, laki-laki mana yang tidak marah? Laki-laki mana yang tidak memendam keinginan untuk membalas dendam bahkan ingin membunuh orang yang sudah menyakitinya? Beberapa mungkin bisa mengikhlaskan, tapi Gikwang tidak bisa,” Minhyuk kembali menghela napas. Lalu dia menatapku. “Tolong bantu dia untuk bangkit lagi.”

“Aku?” tanyaku bingung.

Minhyuk mengangkat bahu. “Gikwang menjadi pribadi yang jauh lebih baik setelah bertemu denganmu. Kalian mungkin menganggap hubungan ini sebagai hubungan persahabatan, tapi itu sepertinya membuat Gikwang bahagia melebihi apapun. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi aku dan Jinyoung sangat menyadarinya, karena percayalah, kau tidak akan percaya bagaimana Gikwang dulu.”

“Tapi setelah kejadian ini, aku tidak yakin…” kataku. Aku tahu bagaimana perasaan Gikwang, karena Hyuna sudah menyakitinya dua kali.

Minhyuk melihat ke arlojinya, lalu berdiri. Sepertinya dia harus pergi. Tapi sebelum pamit, dia mengatakan padaku, “Kami tidak mau kehilangan Gikwang lagi, Iseul. Aku minta tolong padamu.”

Aku terdiam. Kalau saja aku bisa menyanggupinya, tapi… aku takut melihat kenyataan kalau seandainya Gikwang memang masih mencintai Hyuna…

***

Sebulan kemudian…

Author’s PoV

Gikwang setengah berlari memasuki gedung kampus, dia sudah sembuh sepenuhnya. Dia tidak membawa ransel apapun karena hari ini dia tidak ada jadwal kuliah. Dia juga tidak memasuki gedung fakultasnya, ada seseorang yang ingin dicarinya.

Dia mengetuk pintu ruangan, kemudian masuk. Dosen dan mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan perkuliahan serempak menoleh kearahnya. Beberapa berbisik lalu menunjuk Gikwang, mungkin mengenali Gikwang sebagai korban penusukan yang sempat menghebohkan itu.

“Kuliahku akan selesai limabelas menit lagi, anak muda. Bisa-bisanya kau datang seterlambat ini,” kata dosen itu sambil memandang Gikwang sinis. Iseul yang sedang menunduk mencatat seketika mendongak melihat seseorang yang berdiri di depan pintu itu, dan dia terkejut melihat Gikwang.

“Saya tidak mengambil mata kuliah Anda. Saya kemari ingin mencari seseorang,” kata Gikwang. Mahasiswa di ruangan itu sontak riuh, heran melihat sikap Gikwang.

“Maaf kalau saya mengganggu kuliah Anda,” Gikwang membungkuk lalu dia berjalan menuju meja Iseul. Suasana kelas semakin riuh ketika Gikwang menarik tangan Iseul, sementara Iseul tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Gikwang.

“Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?” bisik Iseul panik. Tapi Gikwang justru mengedipkan matanya dan mengisyaratkan supaya Iseul ikut saja dengannya. Beberapa teman Iseul yang duduk di sebelah gadis itu bersiul-siul jahil.

“Iseul-ah, hwaiting!” goda salah seorang teman Iseul.

“Saya mohon maaf, silakan lanjutkan kuliah Anda,” Gikwang membungkuk sekali lagi kepada dosen yang menganga kaget melihat Gikwang membawa kabur salah seorang mahasiswanya. Iseul tidak bisa bicara apa-apa lagi selain membungkuk meminta maaf pada dosennya. Nyaris semua mahasiswa bertepuk tangan seperti sedang menonton adegan drama romantis.

Gikwang menyeret Iseul menyusuri koridor gedung, menjauhi kelas. Iseul menarik paksa tangannya dari Gikwang dan memukul kepala laki-laki itu.

“Kenapa kau memaksaku keluar kelas?!” bentak Iseul. “Tasku bahkan masih didalam, tahu!”

“Ya suruh saja temanmu membawakan tasmu ke rumah, atau titip pada Jinyoung,” kata Gikwang sambil mengelus kepala belakangnya yang dipukul Iseul.

“Tapi bagaimana dengan lukamu?” kata Iseul. “Kau seharusnya istirahat, bukannya membuat kekacauan dengan datang ke kelasku!”

“Lukaku sudah kering kok, aku sudah sembuh,” kata Gikwang. “Kau tidak percaya? Kau mau lihat?” Gikwang sudah menaikkan sedikit kaosnya.

“Ya ya, buka saja kaosmu lalu lari-lari telanjang berkeliling kampus, aku tidak tertarik melihatnya,” kata Iseul, lalu berbalik hendak kembali ke kelasnya. Tapi Gikwang menahannya.

“Kau mau kemana?”

“Ke kelas!” kata Iseul. “Aku malas meladenimu!”

“Hei, setelah hampir sebulan tidak menemuiku, sikapmu jadi sedingin ini, huh?” kata Gikwang. “Ayolah, aku ingin mengajakmu pergi…”

“Tapi…”

“Ayolah…” Gikwang memohon, dan untuk pertama kalinya Iseul melihat Gikwang melakukan aegyo saat memohon padanya.

“Aigoo… hentikan itu! Kau lihat, bulu tanganku berdiri semua karena merinding melihat aegyo-mu itu!” kata Iseul.

“Makanya kau ikut aku!” kata Gikwang, lalu menarik tangan Iseul dan mengajaknya keluar gedung.

***

Gikwang dan Iseul duduk bersebelahan di Tea’Us, di meja panjang yang sama seperti saat mereka bertemu pertama kali. Meskipun saat di kampus tadi Iseul sempat marah-marah pada Gikwang, tapi di tempat ini dia justru tidak tahu apa yang harus dikatakan, dan sepertinya Gikwang juga merasakan hal yang sama. Mereka hanya duduk diam menggenggam mug minuman mereka, sambil menikmati lagu yang mengalun di dalam café itu.

There was nothing to say the day she left 

I just filled a suitcase full of regrets 

I hailed a taxi in the rain 

Looking for some place to ease the pain, ooh 

Then like an answered prayer 

I turned around and found you there…

 

“Maaf,” kata Gikwang. Iseul menoleh menatapnya.

“Maaf,” kata Gikwang lagi, “sudah melibatkanmu ke dalam masalahku.” Gikwang sudah tahu tentang musibah yang menimpa Iseul pada malam saat Gikwang ditusuk, dan Gikwang tidak bisa membayangkan kalau seandainya Lee Joon berbuat lebih jauh pada gadis di sebelahnya ini. Iseul hanya diam, lalu menyesap espresso-nya.

“Seharusnya kau tidak mencariku malam itu,” kata Gikwang lagi. “Atau malah… harusnya aku tidak mengatakan itu di direct message…”

“Lalu kau bertengkar dengan Hyuna dan kau menusuknya, lalu kau yang masuk penjara?” potong Iseul. “Tidak…”

“Tapi kalau seandainya Jinyoung tidak datang menolongmu saat itu…”

“Itu karena aku takut,” kata Iseul. “Aku takut kau lepas kontrol lalu melakukan hal-hal mengerikan, apalagi kau bilang ingin membunuhnya…”

“Kau tahu,” kata Iseul lagi. “Saat pertama kali Hyuna menggangguku, aku takut kalau dia mengaku-ngaku hamil dan meminta pertanggung jawabanmu atau semacamnya…”

“Kami putus sudah setahun yang lalu, konyol kalau tiba-tiba dia muncul lalu mengaku-ngaku hamil,” kata Gikwang. “Yang paling mungkin, dia berpura-pura keguguran dan menyuruhku bertanggung jawab.”

Iseul ingin sekali menanyakan satu hal ini: apakah Gikwang masih mencintai Hyuna? Tapi dia takut menyinggung perasaan Gikwang lagi, dan dia takut mendengar jawabannya.

“Apa kau pernah kesal saat musim hujan tiba?” tanya Gikwang tiba-tiba.

“Eh? Musim hujan?” Iseul balik bertanya. “Yah, terkadang kesal juga, apalagi kalau cucianku banyak. Kenapa?”

“Terkadang aku selalu merasa kalau musim hujan itu tidak akan berhenti, selalu akan hujan dan tidak akan ada matahari lagi. Hujan seperti membuatku putus asa,” kata Gikwang. “Tapi ternyata, suatu saat hujan pasti akan berhenti juga kan? Dan kemudian muncul pelangi yang indah. Aku saja yang terlalu fokus pada hujan dan memaki-makinya, sehingga aku tidak pernah sadar kalau akan ada pelangi setelah hujan.”

Gikwang menatap Iseul. “Terima kasih sudah meredakan hujan dalam hidupku.”

Iseul merasakan panas di pipinya, dia tidak menyangka bisa secanggung ini saat Gikwang menatapnya. Alih-alih menatap mata Gikwang, dia hanya menatap kening laki-laki itu.

“Aigoo… coba kau lihat wajahmu… merah sekali…” kata Gikwang lalu tertawa.

Iseul menyentuh pipinya canggung. “Ini… ini karena aku merinding mendengar rayuan gombalmu! Aku bukan tipe gadis yang terlena dengan kata-kata seperti itu!” Iseul cepat-cepat meminum minumannya, lalu berdiri dari kursinya. “Ayo antarkan aku ke kampus, aku mau mengambil tasku.”

Iseul berjalan meninggalkan meja, tapi Gikwang menahannya.

“Aku pernah mengalami saat-saat aku harus memilih untuk mati atau tetap hidup, Iseul,” kata Gikwang. “Saat aku koma, aku melihat mendiang kakekku berdiri di ambang pintu. Dia memanggilku, mengajakku pergi. Aku tahu, kalau aku menurutinya, maka aku mati. Tapi kakiku tanpa sadar melangkah kearah kakekku. Aku yakin, saat itu aku pasti akan mati.

Tapi tiba-tiba kau berdiri di belakangku, memanggilku. Aku bingung, antara memilih kakekku atau kau. Aku merasa berat melangkah ke salah satunya.” Gikwang menggenggam tangan Iseul. “Untungnya, aku memilihmu, aku memilih untuk tetap hidup.”

Gikwang memeluk Iseul. Iseul kaget dengan kelakuan Gikwang, dan dia meronta ingin melepaskan diri.

“Apa-apaan kau? Banyak yang melihat, bodoh!” kata Iseul. Gikwang tidak melepaskan pelukannya, dia justru melirik kearah karyawan café yang berdiri di balik meja kasir, yang berbisik-bisik kepada rekannya dan terkikik melihat Gikwang. Gikwang tersenyum kearahnya, lalu membentuk tanda hati dengan tangannya dan menunjuk Iseul. Karyawan itu mengacungkan jempol pada Gikwang.

“Kau sudah menolongku dua kali, Iseul,” kata Gikwang. “Pertama, saat kita berteman di Twitter. Kedua, saat kau muncul sehingga aku memilih untuk tetap hidup. Bolehkah aku membalasnya? Bolehkah aku menjagamu… selamanya?”

Jantung Iseul berdegup kencang, dia merasa malu berada di situasi ini tapi dia juga tidak menyangkal kalau dia mencintai laki-laki yang memeluknya ini. Dia mendorong Gikwang sekuat tenaga. “Bagaimana aku bisa menjawab kalau kau melilitku begini?”

“Jawab dulu, baru aku lepaskan,” kata Gikwang.

Iseul menghela napas. “Ya, boleh…”

Gikwang melepaskan pelukannya dan tersenyum senang. Iseul melihat ke sekelilingnya dan beberapa pengunjung terlihat menatap mereka berdua. Tapi belum sempat Iseul protes, Gikwang sudah menciumnya.

Kali ini karyawan café dan para pengunjung riuh melihat mereka berdua. Iseul mendorong Gikwang menjauh, nyaris seluruh wajahnya memerah.

“Kau ini!” kata Iseul kesal. Dia berjalan cepat keluar dari café, tapi Gikwang terkekeh, mengerling kearah karyawan café itu seolah ingin mengatakan kalau dia berhasil, lalu segera berlari menyusul Iseul. Sementara di dalam café, lagu itu masih mengalun, seperti menggambarkan suasana hati Gikwang saat ini, lagu yang beberapa waktu kemudian akan menjadi lagu yang menghiasi kehidupan mereka berdua.

You really know where to start 

Fixing a broken heart 

You really know what to do 

Your emotional tools can’t cure any fool 

Whose dreams have fallen apart 

Fixing a broken heart

 

***THE END***

4 thoughts on “[twoshoot – END] Tweet, Reply, Love

  1. KimsKimi ^ ^ says:

    kyaaa.. ending nya so sweett.. aku pengen deh..

    Omo ternyata Hyuna onnie penyebab semua masalah nya, tapi kenapa masih ngejar gikwang.. kan yg salah onnie…. ._.v

    Ceritanya seru .. apa lagi pas bagian tusuk-tusukan (?) .. aku suka itu ^^

  2. ganti uname komen lagi, yaaa .__.v says:

    paling suka pas gi kwang udh mau mukulin hyuna *smirk* ending nya co cweeeet bgts eon :3
    btw, aku jd ngebayangin kalo smpe aku dpt pcr dr twtr .__.
    haha

    eon, aku menunggu DooKeey-nya yaaa! :3

  3. qhinda says:

    waaahh ceritanya seru,tapii ehemm iseul itu nama korea ku loh hehe itu artinya embun kan ? oke sukses terus eonni ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s