[twoshoot] Tweet, Reply, Love

 Main Cast: 

– Lee Gikwang (B2ST)

– Jung Iseul (OC)

Supporting Cast:

– Jung Jinyoung (B1A4)

– Kang Minhyuk (CN Blue)

– Kim Hyuna (4Minute)

Length: twoshoot

Rate: PG-15

Gikwang-Iseul’s Theme Song: 


Soon the rain will stop falling… (Indecent Obsession)

Gikwang’s PoV

“Astaga, Gikwang… gagal lagi?” tanya Minhyuk, tepat setelah dia melempar ranselnya ke atas kasur dan menatapku marah. Ya, aku tahu dia marah meskipun aku duduk membelakanginya. Bayangannya terlihat dari monitor komputerku.

“Kau bahkan tidak mengucapkan salam, tapi malah marah-marah padaku?” aku balik bertanya, tanpa menatapnya.

“Oh, maaf, aku terlalu kesal untuk melakukan itu!” kata Minhyuk lagi. “Kali ini aku benar-benar tidak bisa membelamu lagi kalau teman-teman mengejekmu gay!”

Aku hendak membantah, tapi Minhyuk sudah lebih dulu memotong. “Ini sudah yang ketiga kalinya kau gagal kencan! Kali ini apa lagi alasanmu?”

“Temanmu Jiyeon itu kelewat cerewet,” kataku singkat. Aku tidak mencari-cari alasan, gadis itu memang sangat cerewet bahkan pada kencan pertama. Belum ada limabelas menit kami bertemu untuk pertama kali, Jiyeon sudah berkomentar kalau sepatu yang kupakai tidak cocok dengan jeans-ku. Dan setengah jam kemudian dia sudah mendominasi semua obrolan kami malam itu. Kalian pikir aku sangat bersemangat untuk bertemu lagi dengan gadis seperti dia? Oh, tidak, terima kasih.

“Lalu Hyosung? Dia kan cantik, kau sendiri yang bilang,” kata Minhyuk.

“Sedikit-sedikit mengecek make-up, sedikit-sedikit menanyaiku “apakah rambutku masih bagus?” “apa bedakku tidak luntur?”, memangnya aku ini terlihat seperti fashion stylist?” keluhku.

Aku bisa mendengar Minhyuk menghela napas kesal di belakangku. Tapi aku tidak peduli. Setidaknya follower-ku di Twitter yang saat ini sedang mengobrol denganku jauh lebih menyenangkan daripada dia.

“Lalu Sulli?” tanya Minhyuk.

“Tidak, terima kasih,” jawabku. “Bisa-bisanya kau menyuruhku berkencan dengan gadis yang lebih tinggi dariku.”

“Yah, kan siapa tahu setelah berkenalan dengannya, kau termotivasi untuk menambah tinggi badanmu…” suara Minhyuk menghilang setelah aku memelototinya.

“Baik, baik, kita coret nama Sulli. Kalau Sunhwa?”

“Dia seniorku,” kataku singkat.

“Tidak masuk akal… tapi oke, terserah kau. Ini yang terakhir,” kata Minhyuk. “Na Eun?”

“Kau sebut itu kencan?” tanyaku. “Saat kami janjian nonton ke bioskop, dia malah mengajak teman-temannya. Dan sepanjang acara jalan-jalan itu dia malah lebih asyik bercanda dengan teman-temannya dan mengacuhkanku,” kataku. Saat mengingat kencanku dengan Na Eun yang memalukan itu, aku juga teringat kalau waktu itu aku juga sangat marah dan ingin sekali mematahkan tubuh Minhyuk jadi sepuluh bagian sama rata.

“Kau itu menyebalkan.”

“Hah? Aku?” tanya Minhyuk heran. “Kenapa?”

“Kau ini temanku atau ibuku? Apa kau seperti melihat wajah sengsara disini, sengsara karena tidak memiliki pacar?” aku menunjuk-nunjuk wajahku. “Apa aku terlihat seperti makhluk yang menderita dan hampir mati, sehingga kau begitu kerepotan mencarikanku serta menjodoh-jodohkanku dengan semua orang yang kau temui di jalan?”

“Hei, mereka itu tidak kutemukan di jalan,” kata Minhyuk tersinggung. “Mereka itu teman-temanku! Aku sudah mengenal mereka sejak lama!”

“Oke, mereka mungkin teman yang baik, tapi sebagai calon pacar, mereka buruk!” kataku. “Hentikan semua ini, Minhyuk, hentikan usahamu mencarikanku pacar. Aku sama sekali tidak meminta itu!”

“Tapi melihatmu setiap hari duduk didepan komputer sepulang kuliah itu hal yang menyedihkan!” kata Minhyuk. “Begitu banyak hal-hal nyata di sekelilingmu, tapi kau lebih memilih manusia antah berantah.”

“Paling tidak, follower-ku tidak cerewet, tukang dandan, atau mengkritikku ini-itu,” kataku.

“Kau…” kata Minhyuk. “Ingin sekali rasanya aku membedah kepalamu dan mengeluarkan Hyuna…”

“JANGAN MENYEBUT NAMANYA!!” teriakku. Aku sontak berdiri tepat setelah Minhyuk menyebut nama itu, hingga kursiku terjatuh.

“Astaga, kalian kenapa?” tanya Jinyoung yang baru pulang dari kampus.

“Nah, benar kan, masih ada Hyuna di dalam kepalamu,” kata Minhyuk, tidak menghiraukan Jinyoung.

“Kau benar-benar menyebalkan!” aku refleks bergerak kearah Minhyuk, tanganku sudah mengepal hendak memukulnya. Tapi Jinyoung segera berlari kearahku, melempar ranselnya ke lantai dan menahanku.

“Hei, tenanglah! Jangan bertengkar disini!” seru Jinyoung. “Kalian ini kenapa sih?”

“Aku hanya mencoba membantumu, Gikwang!” kata Minhyuk. Dengan kasar dia mengambil ranselnya dan berjalan keluar.

“Aku tidak perlu bantuanmu!” kataku. Minhyuk sempat berhenti di depan pintu dan melihatku, tapi tampaknya dia sudah sangat tersinggung. Biar saja, aku juga tersinggung dengan perlakuannya padaku. Selama ini dia memperlakukanku seperti pria tidak laku yang stress tidak punya pacar.

“Gikwang, kau kenapa?” tanya Jinyoung. Dia menaikkan kursiku yang jatuh dan mendorongku duduk. “Baru kali ini aku melihatmu marah seperti itu. Ada apa?”

“Minhyuk memperlakukanku seperti orang tolol,” kataku. “Menjodohkanku dengan teman-temannya karena dia kira aku tidak bisa…”

Bahkan hanya memikirkan nama gadis itu saja aku sudah sangat muak. Jinyoung menatapku, menunggu jawabanku. Tapi aku tidak menjawab, hanya membalikkan posisi dudukku dan melihat tweets yang semakin bertambah di timeline-ku.

“Siapa tahu memang teman-temannya yang ingin dikenalkan denganmu,” kata Jinyoung, mencoba menanamkan prasangka baik ke dalam kepalaku.

“Jangan coba-coba menghiburku, Jinyoung. Aku masih kesal,” kataku, lalu sign out dari Twitter. Aku bahkan belum sempat membalas mention terakhir dari temanku. Tapi sebelum sign out, Jinyoung mendekatkan wajahnya ke monitor.

“Kau kenal Jung Iseul?” tanyanya.

“Siapa?”

“Iseul,” Jinyoung menunjuk timeline, tepatnya menunjuk ke salah satu follower-ku. Yah, Iseul bukan sekadar follower lagi, tapi dia sudah jadi sahabatku di dunia maya. Kami mengobrol banyak hal, dan menariknya, setelah mengobrol sekian lama, aku sama sekali tidak berniat untuk bertemu langsung dengannya. Tidak berniat, atau takut? Selama ini aku menganggapnya sebagai pribadi yang menyenangkan, aku bisa melihat itu dari obrolan-obrolan kami selama ini. Tapi… takut? Entahlah. Bagaimana kalau ternyata setelah bertemu, dia tidak semenyenangkan yang kukira? Bagaimana kalau ternyata dia sama saja dengan gadis-gadis yang dikenalkan Minhyuk itu? Bagaimana kalau ternyata aku dan dia sama-sama kecewa setelah bertatap muka? Aku akui, aku juga ingin tahu apakah dia juga menarik secara fisik. Meskipun itu sedikit terdengar kurang sopan, tapi aku juga takut kalau dia ternyata dia tidak secantik yang kubayangkan, lalu aku menjadi hilang semangat dan enggan berteman dengannya lagi. Dengan kata lain, aku seperti menaruh harapan terlalu banyak padanya.

“Memangnya kau kenal dengannya?” tanyaku, heran melihat raut wajah Jinyoung yang terkejut.

“Oh ya ampun… dia itu sepupuku,” kata Jinyoung lalu tertawa pelan. “Iseul dulu pernah tinggal serumah denganku saat kami masih kecil, karena waktu itu rumahnya belum selesai direnovasi. Kenapa kau tidak cerita kalau kau mengenalnya?”

Aku masih bengong mendengar cerita Jinyoung. Astaga, betapa sempitnya dunia ini. “Tapi… kami hanya mengobrol biasa di Twitter…”

“Tidak ada keinginan untuk bertemu?” tanya Jinyoung.

“Kau mulai mirip Minhyuk,” aku menghela napas lalu merebahkan diriku ke atas tempat tidur, sementara Jinyoung mengambil alih komputer dan membuka akun cyworld-nya.

“Aku kan hanya bertanya,” kata Jinyoung. “Aku tidak bermaksud promosi atau membanggakan adik sepupuku, tapi dia bukan tipe orang yang hanya menyenangkan diawal perkenalan saja.”

Jinyoung seperti bisa membaca pikiranku. Secara tidak langsung, dia seperti menjawab keraguanku antara ingin atau enggan bertemu dengan gadis bernama Iseul, yang ternyata sepupunya itu. Aku ragu Iseul bukan pribadi yang menyenangkan kalau nantinya kami berdua bertemu, dan baru saja Jinyoung mengatakan kalau Iseul memang orang yang menyenangkan.

Tapi… apakah ‘menyenangkan’ versiku itu sama dengan ‘menyenangkan’ versi Jinyoung? Ah, lagi-lagi perasaan takut ini muncul…

“Kalau kau bertemu dengannya, paling tidak kau sudah naik ke level yang setingkat lebih tinggi dalam hubungan kalian,” kata Jinyoung. “Ayolah, kau kan sekarang sudah tahu kalau Iseul itu sepupuku. Kalian juga tidak terpisah jarak puluhan ribu kilometer, dan coba lihat, kalian ternyata satu universitas, lagi. Tinggal mention dia dan mengajaknya bertemu di Tea’Us atau Starbucks. Kau juga tak perlu mentraktirnya segelas espresso kalau sedang tidak punya uang.”

Dasar gila, mana mungkin kami berdua hanya duduk melongo di café tanpa memesan minuman? kataku dalam hati. Aku diam berbaring sambil menatap langit-langit.

“Jalani saja hubungan kalian,” kata Jinyoung, sambil mengetik. “Menurutku, kau selama ini seperti sangat tertekan dengan kata ‘kencan’. Kenapa harus selalu dianggap kencan? Anggap saja kau bertemu dengan teman, buat dirimu merasa nyaman.”

Yah, jujur saja, setelah tahu kalau Iseul ternyata saudara sepupu Jinyoung, aku seperti merasa selangkah lebih dekat dengan gadis itu, dan keraguanku sedikit demi sedikit mulai menghilang. Mungkin saja aku akan sedikit menyingkirkan rasa gengsiku dan menanyakan beberapa hal tentang Iseul pada Jinyoung. Bukankah mereka berdua dekat satu sama lain? Jinyoung benar, aku tidak perlu menganggap ini sebagai kencan.

Sayang sekali Minhyuk tidak mendengar ini. Pasti dia akan senang sekali kalau melihatku yang lebih dulu tertarik ingin bertemu Iseul. Ah, sudahlah… aku masih bertengkar dengannya.

***

 Hari Minggu, Tea’Us…

Aku sudah ada disini. Dia akan datang. Tenang saja, dia tidak akan ingkar janji. Dia tidak akan membuatku seperti orang bodoh.

Aku akhirnya me-mention Iseul, untuk bertemu di Tea’Us. Untungnya, gadis itu tidak sampai bertanya kenapa mendadak aku ingin kopi darat dengannya, dan hanya bertanya kapan kami bisa bertemu. Tentu saja, aku tidak tahu alasan pasti kenapa aku ingin bertemu dengannya. Apa hanya karena termakan kata-kata Jinyoung, mengingat dia begitu memuji sepupunya ini sebagai gadis yang menyenangkan? Kalau saja Minhyuk melihatku seperti ini, dia pasti senangnya minta ampun. Astaga, kenapa aku malah memikirkan Minhyuk?

Aku melirik ke arlojiku, sudah 15 menit berlalu. Seakan belum yakin, mungkin saja baterai arlojiku mulai soak, aku melirik kearah jam dinding di belakang kasir. Sama saja dengan waktu yang ditunjukkan di arlojiku. Aku mulai gelisah, jangan-jangan dia lupa? Kami hanya memastikan tempat dan waktu untuk bertemu via Twitter, apa itu tidak terlalu meyakinkan? Apa dia akan lupa begitu saja? Aku melihat timeline-nya kemarin, sepertinya bukan aku saja yang dia ajak ngobrol saat aku mengajaknya bertemu. Ada sekitar lima temannya yang juga sedang mengobrol dengannya. Apa jangan-jangan dia terlalu sibuk meladeni obrolan keenam temannya (termasuk aku), jadi dia asal menjawab ajakanku dengan balasan ‘iya’, lalu setelah mengatakan itu, dia lupa? Ah, mana mungkin… dia sempat memastikan kalau kami akan bertemu jam 11, dia memastikan itu sampai dua kali. Mana mungkin dia lupa?

Atau malah… dia sebenarnya sudah masuk ke café dari tadi, tapi aku tidak mengenalnya karena ternyata wajahnya di foto dan di kenyataan sangat berbeda?

Ada beberapa orang yang keluar masuk café, dan tak ada satupun yang menciri-cirikan Iseul. Tak ada diantara mereka yang seperti celingukan mencari-cari seseorang sesaat setelah masuk. Baiklah, aku sudah menemukan lagi satu hal jelek pada gadis ini bahkan sebelum bertemu dengannya: pelupa.

Aku sudah berdiri dari kursiku dan berbalik hendak pulang, ketika tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menghalangi jalanku. Dia tersentak mundur melihatku yang tiba-tiba berbalik. Dia menatapku dan aku melihat tangannya terjulur, sepertinya dia hendak memanggilku tapi aku sudah lebih dulu berbalik.

“Lee Gikwang?” tanya gadis itu sambil tersenyum.

Beberapa detik setelah dia menanyakan namaku, aku masih saja bengong.

“Ah? Apa? Aku?” sesaat kemudian aku baru sadar kalau gadis di depanku ini pastilah Iseul. “Oh, iya, tentu saja. Aku Gikwang.”

“Aku Jung Iseul. Maafkan aku, aku datang terlambat. Tadi kau pasti kesal dan mau pulang ya? Maaf, maaf…” Iseul menggosok-gosokkan telapak tangannya dan meminta maaf. Sepertinya itu caranya meminta maaf pada orang, padahal kami baru saja bertemu.

“Tidak, aku hanya ingin… kekamar mandi tadi…” kataku berbohong. Padahal tebakannya tadi benar.

Ternyata Iseul sama menariknya dengan avatar di Twitternya. Dia memakai atasan tanpa lengan motif kotak-kotak, skinny jeans, dan sepatu kets. Rambutnya yang panjang kecoklatan dibiarkan tergerai menutupi bahu. Dan jujur saja, dia manis. Wajahnya sekilas mirip dengan Jinyoung saat dia meminta maaf padaku.

“Ternyata kau mengenal Jinyoung ya,” kata Iseul, setelah kami selesai memesan minuman. “Kemarin dia menceritakannya padaku.”

“Ya, aku juga baru tahu kalau kau sepupunya,” kataku. Semoga saja Jinyoung tidak menambah-nambahkan kalau aku ini laki-laki tidak laku yang sulit mendapat pacar.

Jinyoung tidak berbohong, nyatanya Iseul ini benar-benar menyenangkan. Kami menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk mengobrol, dan selama itu aku seperti tidak sadar kalau kami baru saling bertatap muka selama satu jam. Atau mungkinkah karena ini bukan kencan, sehingga aku tidak perlau merasa harus menampilkan kesan terbaik di depan seorang gadis? Sepertinya ini yang diharapkan Jinyoung dariku, nyaman.

“Hei, ayo kita nonton,” ajak Iseul tiba-tiba. “Aku ingin sekali nonton Sherlock Holmes. Kau suka Sherlock Holmes?”

Saat dia pertama mengajakku nonton film, aku tidak menduga kalau pilihan filmnya ternyata Sherlock Holmes. Kupikir dia mengajakku nonton film drama romantis yang membosankan, seperti pengalamanku dan Na Eun dulu. Aku tersenyum dan mengiyakan ajakannya.

***

Aku duduk di halte menemani Iseul menunggu bis terakhir malam itu. Aku tidak menyangka kalau waktu berlalu begitu cepat, kalau aku membandingkannya dengan kencan-kencan gagalku yang dulu. Kencanku paling lama bertahan selama 2 jam, dan selanjutnya aku akan menghindar. Seandainya ini juga bisa dibilang kencan…

“Oh, itu bisnya,” kata Iseul. Dia lalu membuka jaket yang dia pinjam dariku sejak di bioskop tadi. “Terima kasih, aku akan pulang sekarang.”

Aku mengangguk. Tapi sebelum bis benar-benar berhenti di halte, aku memanggilnya.

“Iseul.”

“Ya?”

“Apa aku boleh…” entah darimana, pikiran ini tiba-tiba muncul: aku ingin mencium pipinya. Aku benar-benar merasa senang bisa menghabiskan waktu seharian bersamanya dan sepertinya tidak cukup kalau aku hanya mengucapkan terima kasih. Tapi mungkin… aku juga mulai tertarik dengannya. Aku bingung ingin mengatakan itu secara langsung, dengan gugup aku hanya menunjuk-nunjuk pipinya.

Iseul menyentuh pipinya dengan bingung, dia mungkin mengira ada sesuatu di pipinya. “Ada apa di pipiku?”

“Aku… apa aku boleh… mencium pipimu?” tanyaku. Aku sudah menyiapkan pipiku kalau ternyata Iseul menganggapku kurang ajar dan menamparku.

Di bawah cahaya lampu jalan, aku melihat sekilas rona merah di pipi gadis itu. Dia mengangguk pelan. Aku mendekatinya dan kemudian mencium pipinya. Tapi kemudian saat aku beranjak mundur, gadis itu tiba-tiba mencium pipiku.

“Hei…”

Iseul hanya tersenyum lalu masuk ke dalam bis, dan masih melambai kearahku sebelum akhirnya pintu bis tertutup.

Sepertinya lebih mudah kalau menjadi perempuan, karena kalau seorang perempan mencium pipimu, meskipun kau tidak menyukainya, paling tidak kau tidak akan tega untuk menamparnya.

Malam itu, setelah sampai di rumah dan mengganti baju, aku menunggu di depan meja belajar, menatap ponselku. Entah kenapa aku berpikir, kalau Iseul menyukaiku, atau setidaknya, tertarik denganku, dia pasti akan mengirimkan pesan atau meneleponku.

Lima menit berlalu, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku segera menyambarnya, dan ternyata ada pesan dari Iseul.

Terima kasih untuk hari yang sangat menyenangkan ini ^^

Aku bersandar di kursi, aku justru bingung apa yang harus kukatakan padanya. Aku tidak mungkin membalas pesannya dengan serangkaian kata-kata puitis dengan resiko dia akan kabur bahkan meng-unfollow-ku di Twitter. Saat bersandar, aku mencium parfum gadis itu yang menempel di jaketku, jaket yang tadi dipinjam Iseul saat berada di bioskop. Saat aku membaca pesan ini dan mencium aroma parfumnya yang tertinggal di jaketku, aku merasa sangat dekat dengannya.

Kuharap perasaan ini tidak berhenti sampai disini saja…

***

Iseul’s PoV

Lucu kalau mengingat bagaimana aku dan Gikwang bisa bertemu. Orang yang awalnya hanya me-retweet salah satu tweet-ku, lalu dilanjutkan dengan mengobrol tanpa tahu bagaimana rupa dan suaranya, ternyata adalah sahabat kakak sepupuku, Jung Jinyoung. Sudah sebulan berlalu sejak kami bertemu di Tea’Us, dan aku senang pertemanan kami masih berlanjut setelah pertemuan itu.

Ya, jujur saja aku takut hubungan kami merenggang setelah ‘kopi darat’ itu. Ada kekhawatiran saat aku akan bertemu dengannya dulu, teman akrabku di dunia maya, karena tanpa sadar aku seperti menaruh harapan banyak padanya. Aku takut kalau Gikwang ternyata tidak menarik atau tidak menyenangkan seperti yang kulihat selama ini di Twitter. Ternyata itu tidak terbukti.

Tapi apakah hubungan kami hanya akan tetap seperti ini? Karena belakangan ini, aku mulai merasakan hal yang lain saat bertemu dengan Gikwang, atau saat mengobrol dengannya di Twitter. Aku mulai sering merindukannya, mulai sering bertanya-tanya apakah dia online Twitter hari ini, atau hal apa yang ingin kuobrolkan dengannya hari ini. Apa aku menyukainya? Entahlah, aku ragu. Bisa saja ini hanya perasaan bahagia karena aku punya teman laki-laki yang sangat dekat.

Aku membuka akun Twitter-ku dan mengecek siapa tahu dia online hari ini, meskipun aku tidak tahu apa yang ingin kuobrolkan. Tapi ternyata ada seseorang yang me-mention-ku.

Apa kau yang sedang dekat dengan Gikwang?

Aneh, aku sama sekali tidak mengenal orang ini, gadis dengan nama Hyuna ini. dia tidak ada dalam daftar followers-ku, bahkan aku tidak ingat pernah mem-follow-nya.

Ya, dia temanku di Twitter. Ada apa?

Kenapa dia menanyakan itu? Satu kata langsung terlintas di kepalaku: pacar. Apa mungkin gadis ini pacarnya Gikwang dan dia tidak menyangka Gikwang ternyata menduakannya dengan gadis lain, denganku? Mustahil rasanya kalau Gikwang bisa sekurang ajar itu terhadapku, tapi aku juga merasa belum betul-betul mengenal Gikwang. semua kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

Aku terkejut melihat Gikwang bisa sedekat itu dengan seorang gadis, apalagi dalam waktu yang lama.

Apa maksudnya? Apa dia ingin mengatakan Gikwang sebagai seorang playboy dan korbannya kali ini adalah aku? Siapa gadis ini sebenarnya?

Maaf, aku tidak mengerti maksudmu. Apa aku sudah membuat kesalahan?

Aku menunggu balasan dari gadis itu, tapi sudah limabelas menit berlalu dan dia tidak membalas lagi. Aku duduk di depan komputer dengan khawatir. Apa maksud kata-katanya? Apa mungkin dugaanku benar, kalau tadi aku sedang bicara dengan kekasih Gikwang dan dia cemburu melihat Gikwang dekat denganku? Apa aku sedang merusak hubungan orang lain? Aku mencoba bicara dengan gadis itu lagi.

Kenapa kau tidak membalas? Apa maksud kata-katamu? Apa Gikwang itu pacarmu?”

Hyuna akhirnya membalas. “Memangnya kau peduli dengan status hubungan kami? Toh kau akan tetap mendekatinya juga kan? Tak usah bersikap seperti gadis polos.

Apa-apaan ini? Aku menanyainya baik-baik tapi balasannya seperti itu? Aku belum sempat membalas tapi dia sudah lebih dulu me-mention.

Aku sudah memberi segalanya pada Gikwang, termasuk milikku yang paling berharga. Kau pikir kau bangga hanya karena bisa dekat dengannya? Tsk, semua orang juga bisa, apalagi hanya selevel Twitter.

Aku mengepalkan tanganku yang bergetar. Keterlaluan… Gadis ini mulai bertindak kelewatan…

Halo? Kau masih ada disana? Kau terkejut? Atau kau tidak paham dengan kata-kataku?

Dilanjutkan lagi dengan tweet-nya yang lain. “Kau tahu kan apa yang paling berharga bagi seorang perempuan?

Aku buru-buru sign out, pikiranku dipenuhi hal-hal negatif tentang maksud kata-kata gadis itu. Aku muak dengan tingkahnya. Kenapa bisa ada gadis seperti itu di dunia? Kalau meman yang dia maksud itu adalah hal terburuk, kenapa dia malah mengumbarnya di Twitter? Ya Tuhan, semoga dia hanya menggertak…

Tepat saat itu, Gikwang meneleponku. Aku berdehem beberapa kali supaya suaraku tidak terdengar bergetar dan gugup, mengelap telapak tanganku yang masih berkeringat dingin, lalu mengangkat teleponnya.

“Yobosaeyo, Iseul…”

“Yobosaeyo…” jawabku. Aku sama sekali tidak bisa melupakan kata-kata Hyuna tadi. “Gikwang, kau tidak online Twitter hari ini?”

“Ah, aku baru ingat sudah tiga hari ini tidak online Twitter. Kenapa? Kau merindukanku?” tanyanya sambil terkekeh. Aku tertawa gugup.

“Tidak, aku hanya penasaran saja…”

“Tidak perlu ngobrol di Twitter lagi, bukankah kau sudah punya nomor teleponku…”

“Gikwang, biasakah kita bertemu hari ini?” tanyaku tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Ada jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya Gikwang berkata, “Apa itu? Apa tidak bisa sekarang saja?”

“Tidak, nanti saja. Terlalu rumit kalau dibicarakan lewat telepon. Kau tidak sibuk kan hari ini?” kataku.

“Aku tidak sibuk nanti sore,” kata Gikwang. Aku hanya mengiyakan saja dimana Gikwang akan menungguku, pikiranku kalut.

***

Sore itu, aku melihat Gikwang sudah duduk di bangku taman. Dia membelakangiku, dan tentu saja itu membuatnya tidak sadar kalau aku sudah datang. Tapi aku tidak langsung menghampirinya. Aku ragu, aku mengajaknya bertemu bukan karena ingin berjalan-jalan melepas penat, tapi karena kejadian yang kualami di Twitter tadi. Aku ingin memastikan hubungan apa antara Hyuna dan Gikwang. Kalau memang Hyuna adalah kekasih Gikwang, berarti aku harus mundur. Aku tidak bisa dekat dengannya lagi atau aku akan menciptakan masalah baru.

“Maaf, kau sudah menunggu lama ya?” sapaku, berusaha untuk tersenyum.

“Aku baru saja datang,” jawab Gikwang. “Kau terdengar gusar saat kutelepon tadi siang. Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Siapa itu Hyuna?”

Aku langsung pada pokok bahasan, dan memang itulah yang paling membuatku penasaran, ‘siapa itu Hyuna?’. Dan mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutku, ekspresi Gikwang yang semula ceria berubah. Senyumnya memudar. Aku mulai takut dengan perubahan ekspresi laki-laki didepanku ini. Apa dugaanku benar?

“Apa?”

“Hyuna… siapa dia?” tanyaku. “Selama sebulan kita dekat, kupikir kau memang sedang sendiri…”

“Aku memang sedang sendiri!” Gikwang langsung memotong kata-kataku. “Aku tidak punya pacar!”

“Aku hanya bertanya,” kataku. Aku heran melihat Gikwang mendadak seperti menahan emosi. Apa aku salah menanyakan tentang hal ini?

“Untuk apa kau menanyakan hal itu?” tanya Gikwang ketus. Sikapnya justru membuatku semakin berpikiran buruk. Ada apa dengan laki-laki ini?

Aku sudah memberikan segalanya pada Gikwang… Telapak tanganku berkeringat dingin saat mengingat kata-kata itu. Kumohon, jangan bilang kalau mereka berdua sudah…

“Tapi apa yang dia katakan padaku di Twitter sepertinya berbeda dari kenyataannya…” kataku. “Dia jelas-jelas tidak suka denganku…”

“Block saja dia! Dia perempuan tidak beres!” kata Gikwang.

“Kau memintaku untuk mem-block-nya tanpa aku tahu alasan kenapa aku harus melakukan itu?” tanyaku.

“Tidak tahu? Bukankah sudah jelas, dia mengganggumu!” kata Gikwang.

“Tapi kenapa dia menggangguku?” tanyaku. “Hanya karena aku dekat denganmu di Twitter? Memangnya hanya aku satu-satunya perempuan di daftar followers-mu dan mengobrol denganmu?”

Gikwang menghela napas kesal, lalu menatapku dengan tatapan penuh emosi. “Dia mantan pacarku, sudah jelas? Dan apa yang dia lakukan padaku itu karena dia ingin melihatku menyesal sudah memutuskannya. Tak usah hiraukan dia!”

“Kau tahu apa yang sudah dia katakan padaku di Twitter?” tanyaku. Dadaku sakit saat mengatakannya, membuatku teringat lagi dengan kata-kata terakhir Hyuna padaku sebelum aku sign out. Aku takut prasangka burukku itu ternyata benar.

“Apa yang dia katakan?” tanya Gikwang, wajahnya keruh.

Entah kenapa aku ragu dia akan mempercayai ucapanku, apalagi dengan situasi seperti ini. Tapi aku tak mau membuang waktu. Aku mencoba kuat dan berkata, “Yah… dia bilang kalau dia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga padamu… Apa aku boleh tahu, apa maksudnya itu?”

Ada keheningan yang lama setelah aku menanyakan itu. Gikwang seperti tidak berani menatap mataku, dan dari gerak-geriknya aku yakin dia sepertinya ingin lari dariku saat itu juga.

“Gikwang…?”

“Dia benar…” kata Gikwang.

Benar? Benar apa?

“Aku memang pernah berhubungan seks dengannya.”

Lututku seperti lemas saat aku mendengar kata-kata itu langsung dari Gikwang. Aku membayangkan Gikwang akan tertawa setelah mengatakan itu, mengatakan kalau itu hanya bercanda, dan Hyuna tak lebih dari sekadar orang iseng. Tapi tidak… ini nyata…

“Iseul…” Gikwang menggenggam tanganku. “Itu bukan kemauanku, sama sekali bukan kemauanku…”

“Lepaskan…”

“Aku bisa jelaskan semuanya…”

“Lepaskan tanganmu…”

“Kumohon jangan membenciku karena aku pernah…”

“LEPASKAN!!” aku refleks berteriak, air mataku mengalir tanpa sempat kucegah. Aku sakit hati setelah mengetahui kebenarannya. Aku ingin marah tapi aku merasa tidak berhak melakukan itu. Aku bukan siapa-siapa bagi Gikwang, aku hanya sahabatnya, sementara yang ingin kulakukan sekarang adalah melampiaskan kemarahanku sehebat mungkin seolah Gikwang berselingkuh dariku dan melakukan ‘itu’ pada gadis bernama Hyuna.

“Aku membencimu…” isakku. “Jangan temui aku lagi…”

Gikwang hendak menahanku dengan menarik kedua lenganku, tapi aku menepis tangannya dan segera berlari menjauhinya. Aku sengaja hanya mendengar suara tangisanku, supaya aku tidak bisa mendengar suaranya yang memanggil-manggilku.

Bisa-bisanya kau membohongiku… Lee Gikwang…

***

Author’s PoV

Jinyoung memutar gagang pintu apartemennya dan terkejut mendapati pintunya ternyata tidak terkunci, padahal saat dia pergi sejam yang lalu dia ingat sudah mengunci pintunya. Dia segera masuk ke dalam dengan khawatir.

Tapi isi apartemennya masih utuh. Jinyoung berjalan ke dapur setelah mendengar suara kelontangan kaleng jatuh. Dia melihat pintu kulkasnya sudah terbuka dan ada seseorang yang berjongkok di dekat kulkas, kaleng bir kosong menggelinding ke kaki Jinyoung. Orang itu, Iseul, tidak menyadari kedatangan Jinyoung dan tetap menenggak bir yang masih tersisa di tangannya.

“Apa yang kau lakukan?” Jinyoung menyambar kaleng bir di tangan Iseul dengan kasar. “Aku kira kau itu pencuri, tahu!”

“Kembalikan!” seru Iseul. Jinyoung terperanjat melihat wajah Iseul yang merah padam dan sembab.

“Kau baru minum sekaleng tapi kau sudah semabuk ini?” tanya Jinyoung heran.

“Aku tidak mabuk! Aku baru minum satu setengah kaleng! Sekarang kembalikan!” seru Iseul. Tapi Jinyoung menjauhkan tangannya yang menggenggam bir dari jangkauan Iseul.

“Kenapa kau mengacaukan isi kulkasku? Pulang saja, sana!” kata Jinyoung.

“Aku tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini,” kata Iseul. “Lagipula aku sudah menelepon Ibu kalau malam ini aku menginap di tempatmu…”

“Tapi aku tinggal sendiri!” kata Jinyoung. “Masa’ kita tinggal serumah? Meskipun kita sepupu kan tidak semua tetanggaku tahu! Mereka bisa berpikiran buruk!”

“Pokoknya aku tidak mau pulang!” kata Iseul, dia berjalan melewati Jinyoung hendak masuk ke kamar. Tapi Jinyoung lebih dulu menarik kerah sweater Iseul dan menyeret gadis itu ke sofa, lalu memaksanya duduk. Iseul mencoba berdiri, tapi Jinyoung mendorongnya lagi.

“Kau kenapa?” tanya Jinyoung, berkacak pinggang. “Kau mendadak bertingkah menyebalkan seperti ini, kau pasti ada masalah dengan seseorang.”

Iseul tidak menjawab, dia hanya duduk diam di sofa dengan kedua mata yang mulai memerah dan basah. Lebih tepatnya, dia tidak mau menjawab. Pertanyaan Jinyoung mengingatkannya lagi pada Gikwang, dan apa yang dia dengar di taman tadi. Iseul menunduk menghindari tatapan Jinyoung, dan sebentar saja, dia sudah menangis.

Jinyoung menurunkan tangannya dari pinggang, berjongkok menatap Iseul yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Hei, apa aku terlalu kasar? Maaf, aku minta maaf…”

Tapi tangis Iseul tak juga reda, dia juga tidak menggeser kedua tangannya dari wajahnya. Jinyoung memilih duduk di samping adik sepupunya, menunggu hingga tangis gadis itu mereda.

“Gikwang… dia tega membohongiku…” isak Iseul. Jinyoung menoleh menatap Iseul, tapi wajah Iseul terhalang rambut coklatnya yang terurai. “Di depan mataku sendiri, dia bilang kalau dia… dia sudah…” Iseul tidak sanggup melanjutkan lagi, dan dia kembali menangis.

Jinyoung sudah tahu kemana arah cerita Iseul ini, tapi dia hanya diam dan menepuk-nepuk pundak Iseul, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.

***To Be Continue***

8 thoughts on “[twoshoot] Tweet, Reply, Love

  1. Han chae hyeon says:

    Masak gikwangku kayak gitu??!!!!
    Gak gak gak mungkin!!!! 7icon mode:on
    Waaaa padahal awal2nya manis gitu ya, yg dari tmen dunia maya bisa jadi deket dan seakrab itu, tapi baru aja mereka ngerasain rasa yg aneh (?) di diri masing2, masalah baru udah muncul aja gitu.. -,-

    Wkwkwk list of gikwang’s failed-date girl :
    Sulli, Hyosung, Jiyeon, Sunhwa, Naeun ψ(`∇´)ψ

    Huummmmm pengen ikut nangis rasanya pas gikwang bilang kata2 “itu” huhuhu ga ngebayangin deh kalo ini trjadi beneran.. -amitamit-

    Eonni part 2nya ppali yaaaa (^O^)/

    • v3aprilia says:

      Ya ngga mungkin Gikwang kayak gitu, ini hanya FF, hehehe. Mianhae, aku menistakan gikwang disini .___.v
      Ok deh, thanks ya udah komen. Sabarlah menanti part 2, ok?🙂

  2. KimsKimi ^ ^ says:

    *puter lagu shock*

    Oh NOOOOOO!!! Gikwang oppa yang imut-imut (?) ternyata sudah melakukan hubungan *skip* ?? aku tidak percayaaaaa…#lebay..

    Kupikir bakal berjalan lancar aja , eh ternyata ada sedikit gangguan..

    I’m waiting for the next chapter ^^

  3. ganti uname komen lagi, yaaa .__.v says:

    omo, harusnya minhyuk ngejodohin aku juga sama gikwang oppa😀 aku kan ga ‘bertele-tele’ org-nya. wk. *dijitak v3 eon*
    eungg, aku melotot pas baca yg gikwang udh pernah ‘begituan’ sms hyuna. omonaaaa, ga kebayang eon :3
    part 2 i’m coming!!

    btw eon, aku mau side story-nya DooKey dong eon :3 ayolaaah~ jebal eon~ *request lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s