Now And Forever

Cast : Sungmin ‘Super Junior’, Jung Iseul (OC)

Minor cast: Eunhyuk ‘Super Junior’

Genre: angst, romance

Rate: PG

Sungmin-Iseul’s Theme Song: 

Oke, ini satu lagi FF yang udah ‘uzur’, hehehe. Waktu itu aku belum punya blog, dan nama authorku Amaya_myblacksmile dan FF ini aku post disini, tentu aja sebagai author freelance.

———————————————————————-


Jumlah pengunjung blog itu semakin hari semakin banyak. Blog itu sekilas terlihat seperti blog-blog pada umumnya, dengan warna coklat tanah mendominasi, ditambah efek daun-daun maple berguguran, benar-benar bertemakan musim gugur yang indah. Blog itu ramai dikunjungi setelah salah satu penerbit tertarik ingin membukukan isi blog itu, namun mengalami kesulitan menghubungi pemilik blog tersebut.

“Kabarnya, blogger itu sudah mengizinkan blognya untuk dibukukan, setelah dia menulis blognya yang terakhir, tanggal 17 Juli itu.”

“Itu tulisannya yang terakhir?”

“Iya, itu sepertinya merupakan ending. Di sana tersirat kalau blogger itu ingin pergi ke suatu tempat. Bahkan kabarnya dia tidak mau menerima royalti bukunya nanti.”

“Menurutmu siapa ya blogger itu? Apa Sungmin, salah satu nama yang ada di blog itu, yang selalu menceritakan tentang yeoja yang dia cintai itu?”

“Belum tentu, mereka itu pasti hanya karakter.”

Ketiga gadis itu kembali terdiam, menatap tulisan terakhir di blog itu. Sementara lagu Now And Forever milik Richard Marx mengalun lembut dari blog tersebut. Hanya lagu itu yang menunjukkan sedikit identitas blogger misterius tersebut, bahwa dia adalah penggemar Richard Marx.

***

Sungmin’s PoV

Iseul,

Kau dan aku dipertemukan sebagai dua manusia yang kesepian. Manusia yang tidak  memiliki siapapun selain diri kita sendiri, manusia yang tidak pernah ditemani siapapun selain kesendirian yang menyelimuti waktu-waktu kita selama bernapas di dunia. Dan di dunia yang sesak ini, Iseul, kita kesepian.

Apakah aku menyadari kehadiranmu yang ternyata tinggal di gedung apartemen yang sama denganku? Tentu. Hanya saja aku terlalu menikmati kesendirianku.

“Selamat pagi, Sungmin oppa,” begitu sapamu tiap kali kita bertemu, saat kita menutup pintu untuk pergi bekerja. Dan aku tidak pernah menjawab. Aku hanya menatapmu dingin lalu pergi begitu saja.

Tapi kau tidak pernah membenciku. Kau tetap menyapaku dengan senyum yang sama, membantuku memungut buah-buah jeruk saat kantong kertasku robek, atau hanya mengobrol basa basi di atap apartemen meskipun obrolan kita lebih cocok disebut monolog karena hanya kau yang sibuk berceloteh sedangkan aku hanya diam menatap langit.

Hari itu, Iseul, hari ketika aku kembali menikmati kesendirianku di atap apartemen. Aku memainkan gitarku dan perlahan mengalun lagu Now And Forever itu, lagu yang begitu membekas di lekuk senyummu yang sangat menyukai lagu itu. Kau berdiri terpaku di pintu, kau mendengarku bernyanyi sendiri tanpa kusadari kehadiranmu.

“Suaramu bagus sekali, oppa,” pujimu, aku menoleh dan mendapatimu tersenyum di pintu, senyum yang selanjutnya akan selalu membekas di benakku yang perlahan mulai mencintaimu, mencintaimu dalam kesendirianku.

“Kenapa kau menyukai lagu itu?”

“Aku selalu memimpikan kalau suatu hari nanti ada seseorang yang menyanyikan lagu itu untukku,” jawabmu. “Apa oppa pernah menyanyikan lagu itu untuk gadis yang oppa cintai?”

Aku menggeleng. Hanya menggeleng, bagiku itu sudah cukup.

Usiamu baru 19 tahun, Iseul. Kau terlihat begitu muda untuk usiamu. Apa karena senyum yang selalu melekat di wajahmu? Atau karena sapaan ‘selamat pagi’-mu yang tulus?

Aku ingat ketika kau kaget melihatku masuk ke cafe tempatmu bekerja. Kau terlihat lebih kaget lagi ketika aku tiba-tiba menarik lenganmu.

“Jam berapa kau pulang?”

“Jam setengah sebelas,” jawabmu. “Kenapa?”

“Kalau begitu aku akan menunggumu sampai jam setengah sebelas,” kataku.

Kau tertawa kecil lalu mengangkat bahu. “Terserah oppa.”

Tawamu, Iseul, tawamu selalu menutupi kesepianmu. Sangat jauh berbeda denganku yang justru ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku memang sendiri. Kita sendirian, kita yatim piatu, kita sebatang kara, tapi justru seolah-olah terlihat kalau hanya akulah yang sebatang kara dan kau datang menemaniku.

Iseul,

Terkadang ketika aku menatapku dari jauh, kau terlihat sangat menderita menahan sakit. Kau bersandar di tembok, meja, kursi atau apapun yang ada di dekatmu. Bahkan terkadang tanpa sebab, kau kehilangan keseimbangan dan terjatuh, atau tidak kuat hanya untuk menggenggam sebuah cangkir. Cangkir itu selalu lepas dari genggamanmu dan jatuh.

“Mungkin aku terlalu lelah, Oppa. Di café aku sibuk sekali. Oppa tahu, minggu ini café selalu ramai,” jawabmu sambil tersenyum.

Kau mulai sering berbohong, Iseul. Wajahmu bertambah pucat dan kau mulai jarang keluar rumah kecuali ke rumah sakit. Bahkan kau tidak pernah lagi terlihat pergi bekerja.

“Hari ini aku libur,” jawabmu. Dia lain hari, kau menjawab, “Aku dapat bagian shift malam.”

Shift malam? cibirku dalam hati. Aku tidak suka kau berbohong padaku, Iseul. Aku datang ke café pada malam hari dan sesuai dugaanku, kau tidak ada. Iseng aku bertanya pada temanmu. Dan kau tahu, Iseul, jawabannya benar-benar mengejutkanku.

“Iseul sudah berhenti,” kata Eunhyuk, temanmu. “Dia berhenti bekerja karena sakit, tapi kami tidak tahu dia sakit apa, bos juga tidak tahu. Minggu-minggu ini dia terlihat pucat terus, dia terkadang seperti kesulitan berjalan. Aku ingat waktu bos memanggilnya, Iseul berjalan menghampirinya, dan tiba-tiba saja dia terhuyung dan jatuh. Itu sudah terjadi paling tidak tiga kali dalam seminggu.”

Aku marah mendengar kata-kata Eunhyuk, dan aku bergegas ke apartemenmu. Kau membuka pintu dan mendapatiku berdiri di hadapanmu dengan kemarahan.

“Kenapa kau berhenti dari pekerjaanmu?”

Kau diam, tertunduk selama beberapa saat. Wajahmu yang sepucat kertas menyiratkan kesedihan dan ketakutan yang mendalam. Keceriaanmu tidak berbekas sedikitpun.

“Oppa, aku hanya tidak ingin merepotkan banyak orang. Aku tidak enak karena Eunhyuk selalu membelaku tiap kali bos memarahiku karena minggu-minggu pekerjaanku tidak pernah beres, karena…”

Matamu berkaca-kaca, kau berkeringat dan mulai terhuyung lagi. “Aku… aku sakit.”

Kau tidak mau menjawab ketika aku menanyakan penyakitmu. Kau malah bilang, “Sungmin oppa, jangan khawatirkan aku. Setelah aku sembuh, aku akan cari kerja lagi. bukankah aku pernah cerita padamu kalau aku sedang mengumpulkan uang untuk kuliah?”

Tapi senyummu tidak pernah kembali lagi padamu semenjak hari itu. Kau tidak pernah beranjak sembuh. Dan aku diam-diam menangis melihatmu menderita.

“Omma meninggal karena penyakit ini,” katamu. “Dan Appa lebih suka menitipkanku di panti asuhan daripada repot-repot mengurusku.”

Iseul,

Berulang kali aku mengutuk pada Tuhan kenapa bukan ayahmu saja yang menderita penyakit Ataxia ini? Syaraf-syaraf motoriknya akan melemah sehingga dia tidak akan sanggup membawamu ke panti asuhan. Dia hanya akan bisa merengek di atas tempat tidur menunggu bantuan orang lain sehingga dia sadar bahwa dia sangat terlambat untuk tahu bagaimana rasanya menderita.

Dan kau, Iseul? Kau seharuanya bahagia di sisi Lee Sungmin, di sisiku…

Hatiku sakit tiap kali memandangmu. Seraut wajah yang sangat pucat yang kini hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kau sudah semakin kesulitan bahkan untuk menggenggam sebatang pulpen. Kau berusaha keras menulis kata, apapun itu. Entah menulis namamu, namaku, atau apa saja. Kau ingin membuktikan padaku kalau kau tidak sakit.

“Uang tabunganku habis untuk beli obat,” tulismu. Dadaku sesak dan mataku panas melihat tulisanmu yang berantakan, mencuat ke sana ke mari.

“Aku masih punya uang, Iseul. Tenang saja, uangku masih banyak,” kataku berbohong. Padahal kenyataannya aku sendiri mulai sering sakit dan aku sudah dipecat dari tempatku bekerja.

“Sung…min… Oppaaaa….” Kau berusaha keras memanggilku. “Saa…rang…haaaee..”

Aku menangis dan memelukmu, ingin rasanya merasakan tanganmu yang lembut melingkari pinggangku. Aku ingin merasakan kepalamu bersandar di bahuku. Tapi tubuhmu lemas, dan kau hanya bisa menangis. Ucapanmu makin tidak jelas. Apa yang ingin kau katakan, Iseul?

Sungguh sederhana permintaanmu, Iseul. Kau hanya ingin aku menyanyikan lagu Now And Forever. Itu saja, tak ada yang lain. Aku berbaring di sisimu, memelukmu dan pelan-pelan menyanyikan lagu itu.

Whenever I’m weary

From the battles that rage in my head

You make sense of madness

When my sanity hangs by a thread

I lose my way but still you seems to understand

Now and forever

I will be your man

Aku mencoba mengajakmu mengobrol, meskipun kali ini akulah yang bermonolog karena kau sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ataxia sudah membunuhmu perlahan-lahan.

“Aku mencintaimu, Iseul, tapi Tuhan rupanya lebih mencintaimu lebih dari yang kubisa. Pergilah, temui Dia, Dia akan menjagamu lebih dari yang bisa kulakukan sekarang. Tak usah kau pikirkan aku. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. pergilah, Iseul, aku sudah merelakanmu…”

Aku menciummu, berusaha tidak berharap kalau kau akan membalasnya. Kau menangis, hanya bisa menangis, dan ketika akhirnya bibir kita terpisah, aku menyadari kalau itulah tangisanmu yang terakhir…

Iseul,

Aku semakin sakit, tapi aku juga semakin tidak peduli lagi dengan diriku sendiri. Waktu berlalu begtu ceoat dan selama itu pula rasa rinduku padamu semakin tidak terkendali, jauh melebihi yang kubayangkan. Kuhabiskan hari demi hari untuk menulis tentangku, apapun tentangmu. Setiap hari, setiap jam, habis untuk mengenangmu. Aku membuat blog ini untukmu, menulis semua ini hanya untukmu.

Aku tidak peduli lagi dengan dunia…

End of Sungmin’s PoV

***

Sesosok pria berjalan terseok-seok melewati satu demi satu makam-makam itu. Wajahnya pucat, dan dia membawa sebuah gitar. Pria itu Lee Sungmin.

Dia berhenti di salah satu makam, lalu duduk di depan pusara sambil memangku gitarnya. Dia mengelus nisan itu pelan tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian, dia memainkan gitarnya.

Whenever I’m weary

From the battles that rage in my head

You make sense of madness

When my sanity hangs by a thread

I lose my way but still you

Seem to understand

Now and forever

I will be your man

Sometimes I just hold you

Too caught up in me to see

I’m holding a fortune

That heaven has given to me

I’ll try to show you

Each and every way I can

Now and forever

I will be your man

Now I can rest my worries

And always be sure

That I won’t be alone anymore

If I’d only known you were there

All the time

All this time

Sampai di sana, tiba-tiba Sungmin terbatuk. Beberapa saat lamanya dia mengalami batuk hebat hingga dia hanya sempat menutup mulutnya dengan tangan. Sungmin melihat tangannya dan tangan itu sudah dibasahi darah.

“Tidak… lagunya belum selesai…” Sungmin berkata pada dirinya sendiri. Dia kembali memetik gitarnya, yang kini ikut terkena noda darah.

Until the day the ocean

Doesn’t touch the sand

Now and forever

I will be your man

Now and forever

I will be your man

Dan dia kembali batuk, darahnya terciprat ke tanah. Napasnya terengah-engah. Tapi Sungmin tetap berusaha tegar.

“Pernah kau berkata padaku dalam mimpi, “Kalau Putri Salju terbangun setelah dicium Sang Pangeran, itu juga yang terjadi padaku. Aku terbangun setelah oppa menciumku, hanya saja aku terbangun di dunia yang berbeda”. Iseul, sebentar lagi… dunia kita tidak akan berbeda…”

Sungmin terhuyung, ambruk ke tanah bersama gitar yang bernoda darahnya, dia tergeletak dan selamanya tidak pernah bangun kembali.

THE END

2 thoughts on “Now And Forever

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s