The Last Words

Cast:

Kim Jaejoong

Kwon Boa

Jung Yunho

Jung Iseul ——> v3aprilia *numpang eksis, :p*

Kim Jae Ra —–> namanya ngarang

Rating: PG

Genre: Angst, family, sad romance

Jaejoong’s PoV

Aku tak bosan memperhatikan tingkah gadis kecil itu dari kejauhan. Dia terlihat sangat manis dan ceria. Dia selalu tertawa dan mengajak siapapun yang berada di dekatnya untuk bermain.

Aku tidak bisa menghampirinya, tidak dengan keadaan seperti ini. Meskipun sebenarnya aku berhak untuk menemaninya, memeluknya, membuatnya tertawa, dan melindunginya, aku tetap tidak bisa melakukannya. Apa yang telah kuperbuat padanya di masa lalu, membuatku malu dan tidak pantas menunjukkan diriku di hadapannya.

Gadis kecil itu… semakin lama aku melihatnya, dia semakin terlihat cantik. Aku suka baju merah berenda yang dia pakai hari ini, dia terlihat sangat manis, meskipun sebenarnya dia juga pasti akan terlihat cantik memakai baju apapun. Aku yakin beberapa tahun kedepannya dia akan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik.

“Ahjussi.”

Aku tersadar dari lamunanku, dan menoleh kesampingku. Ternyata aku sudah cukup lama melamun, sampai tidak menyadari kalau seseorang sudah berjalan menghampiriku. Gadis kecil itu.

“Kenapa ahjussi sendirian disini?”

Aku terpana menatap gadis kecil itu, selama ini aku selalu menahan diri untuk tidak menghampirinya, tapi ternyata hari ini dia yang menghampiriku. Matanya yang bulat lucu menatapku tepat di mata, dan aku tidak bisa mengelaknya sama sekali.

“Ahjussi tidak punya teman ya? Kenapa wajahmu pucat begitu?” tanyanya lagi, suaranya terdengar sangat menggemaskan. Aku kemudian tersenyum dan berjongkok di depannya.

“Ne, ahjussi sendirian saja disini,” jawabku.

“Kalau begitu dorongkan ayunan untukku, ya,” kata gadis kecil itu. Dia kemudian menggenggam jari-jariku dengan tangan mungilnya, lalu menarikku menuju ayunan yang dia maksud. Padahal aku bisa saja menarik tanganku darinya, tidak akan susah karena tenagaku jauh lebih besar darinya. Tapi aku biarkan saja dia menarikku. Dia lalu duduk di ayunan itu, lalu menoleh kearahku sambil tersenyum.

“Dorongkan ayunannya,” katanya. Aku tersenyum kemudian mendorongnya. Dia tertawa kegirangan saat merasakan udara yang berhembus kencang ke wajahnya, dia kadang menambah kecepatan ayunannya sendiri.

“Jangan terlalu kencang, nanti kau jatuh,” kataku.

“Tidak mau! Dorong lagi lebih kuat, ahjussi!” katanya ceria.

Tampaknya aku sedang menghadapi gadis kecil yang bandel, gumamku dalam hati lalu tersenyum. Aku tidak menuruti keinginannya itu, karena tentu saja aku takut kalau dia tidak sengaja melepaskan pegangannya dan terjatuh. Tidak, dalam kesempatan yang terbatas ini, aku ingin melindunginya meskipun untuk hal yang kecil seperti ini.

Beberapa saat kemudian dia bosan bermain ayunan, dia hanya duduk dan tidak mau didorongkan lagi. Aku duduk di ayunan di sebelahnya.

“Siapa nama ahjussi?” tanya gadis kecil itu.

Aku tersenyum. “Namaku… Kim Jaejoong.”

“Kim Jaejoong? Namamu bagus, ahjussi,” kata gadis kecil itu lalu tersenyum. “Namaku Jung Iseul.”

“Namamu juga bagus,” kataku lalu tersenyum. Aku tidak basa basi, nyatanya nama gadis kecil ini memang bagus. Aku selalu menyukai nama Iseul itu. Tapi aku juga tidak bisa memungkiri perasaan tidak sukaku pada marganya. Seharusnya marganya bukan Jung…

Kemudian aku mendengar seseorang memanggil nama Iseul dari jauh. Aku dan Iseul menoleh. Iseul membalas panggilan itu dengan gembira, tapi sebaliknya, aku terkejut. Sangat terkejut.

***

Boa’s PoV

Kemana Iseul? Dia pergi main sampai sesore ini dan belum juga pulang. Aku berjalan keluar rumah dan pergi menuju taman. Dia pasti disana, dia suka sekali bermain di taman. Aiish, Iseul, kau ini benar-benar nakal!

Sudah berkali-kali dia keluar rumah diam-diam tanpa sepengetahuan pengasuhnya, dan pergi ke taman untuk bermain sendiri. Padahal aku tidak pernah melarangnya pergi ke taman dengan pengasuhnya, tapi selalu saja begitu. Dia selalu ingin jalan sendiri.

Aku melangkah dengan cepat menuju taman. Sampai disana, aku melihat putriku duduk di ayunan, tampaknya sedang bicara dengan seseorang. Tapi aku tidak bisa melihat orang itu karena tertutup pohon.

“Iseul!” kataku lalu berjalan menghampirinya.

Iseul menoleh saat mendengar suaraku. “Omma!” serunya.

Tapi kemudian langkahku terhenti, saat akhirnya melihat orang yang diajak bicara oleh Iseul itu. Kakiku seperti macet, dan tanganku bergetar. Aku melihat seseorang yang tak ingin kulihat lagi seumur hidupku.

Iseul turun dari ayunannya lalu berlari kearahku dan memelukku. Tapi kemudian dia mendongak menatapku.

“Omma kenapa tidak memelukku?” tanyanya.

Aku tersentak, lalu berjongkok menatapnya. “Kenapa kau suka sekali pergi dari rumah tanpa ditemani Lee ahjumma? Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan kata-kata Omma?”

“Tapi kan hari ini aku ditemani dia,” kata Iseul lalu menunjuk pria yang duduk di ayunan di sebelahnya itu. Ekspresi orang itu juga sama kagetnya denganku, aku berusaha untuk tidak menatapnya.

“Sudah Omma bilang jangan bicara dengan orang asing!”

“Dia bukan orang asing! Dia temanku! Namanya Kim Jaejoong,” kata Iseul.

Aku bahkan tidak mau lagi mendengar namanya, tapi kali ini nama itu keluar justru dari mulut putriku.

“Iseul, jangan membantah ibumu. Ayo sekarang kau pulang,” kata Jaejoong pelan. Aku sama sekali tidak menatapnya, aku menarik tangan putriku dan mengajaknya pulang tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tapi Iseul tampaknya tidak ingin berpisah dengan orang itu, jadi aku langsung menggendongnya.

“Besok kita main lagi, ya!” seru Iseul, bicara dengan orang itu.

Aku mempercepat langkahku. Aku marah sekali hari ini.

***

Yunho’s PoV

Aku baru saja pulang ke rumah setelah bekerja, dan aku langsung disambut suara gaduh putriku, Iseul, yang berlari-lari mengelilingi ruang tamu menghindari kejaran pengasuhnya. Dia tampaknya berulah lagi hari ini. Aku segera masuk ke ruang tamu dan dengan mudahnya menghadang Iseul lalu menggendongnya.

“Appa!” kata Iseul ceria.

“Kenapa kau lari-lari di dalam rumah?” tanyaku.

“Dia tidak mau mandi, Tuan,” kata pengasuh Lee, dengan napas terengah-engah.

“Benar itu?” tanyaku pada Iseul. Aku lalu mencium tubuh putriku. “Puuufh, kau bau sekali. Bagaimana bisa anak perempuan tidak suka mandi?”

“Aku tidak mau mandi kalau bukan Omma yang memandikanku,” kata Iseul.

“Tapi Nyonya sedang tidak enak badan hari ini,” kata pengasuh Lee.

“Tidak enak badan?” tanyaku heran.

“Iya, tadi wajah Omma pucat sekali waktu menjemputku di taman, Omma juga tidak bicara sama sekali,” kata Iseul.

Boa bukan tipe orang yang mudah jatuh sakit, pikir Yunho. Dan kalaupun dia tidak enak badan, dia tidak suka berdiam diri saja. Sekedar demam ringan atau flu saja tidak pernah membuatnya lemah, dia masih tetap bisa menemani Iseul.

“Ya sudah, kalau begitu Appa yang memandikanmu. Ayo!” kataku lalu menggendong putriku menuju kamar mandi.

“Shireo!” Iseul memberontak ingin turun dari gendonganku. “Aku tidak mau mandi kalau tidak bersama Omma!”

Pintu kamarku terbuka dan Boa keluar. Memang benar, wajahnya terlihat pucat. Dia memaksakan diri tersenyum saat melihatku menggendong Iseul.

“Kau sudah pulang,” katanya.

“Kau kenapa? Sakit?” tanyaku, lalu mengulurkan tanganku hendak menyentuh kening istriku.

“Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah,” Boa menjauhkan kepalanya dari jangkauan tanganku. “Ayo mandi, Iseul.”

“Ayo!” Iseul langsung turun dari gendonganku dan berjalan menuju ibunya.

“Ah iya, mau makan apa malam ini, yeobo?” tanya Boa.

“Terserah kau saja,” kataku.

“Ya sudah, aku akan memasak setelah memandikan Iseul,” kata Boa, lalu pergi menemani Iseul ke kamar mandi.

Aku tidak mengerti kenapa ekspresi Boa terlihat sangat aneh hari ini. Apakah sesuatu terjadi dengannya hari ini?

***

“Apa yang kau gambar?” tanyaku pada Iseul yang sedang asyik menggambar sendirian di kamarnya. Meja kecilnya dipenuhi kertas-kertas HVS yang diambilnya dari ruang kerjaku dan memenuhinya dengan coretan-coretan krayonnya.

“Ini! Baru saja selesai,” kata Iseul, menunjukkan hasil karyanya padaku. “Ini Appa, Omma, dan aku.”

“Wah, bagus sekali,” pujiku. Aku lalu melihat ke kertas lain yang masih dikerjakan Iseul. Dia menggambar seorang anak kecil dengan rambut dikuncir dua sedang naik ayunan, dan seseorang mendorong ayunannya dari belakang.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Ini temanku, hari ini dia menemaniku main ayunan di taman,” jawab Iseul.

“Wah, apa temanmu badannya setinggi itu?”

“Iya, dia tinggi dan tampan sekali. Namanya juga bagus,” jawab Iseul ceria. “Namanya Kim Jaejoong.”

Deg! Aku tersentak mendengar nama itu keluar dari mulut putriku. Nama yang selalu membuatku marah dan ingin membawa Iseul dan Boa kemanapun asal tidak bertemu dengan orang itu. Kim Jaejoong? Kenapa Iseul bisa menyebut nama Kim Jaejoong?

“Kim… Jaejoong?”

“Iya, namanya bagus, ya?” kata Iseul polos. “Aku mau memberikan gambar ini besok pada Jaejoong ahjussi, dia pasti senang sekali.”

Tidak, dia tidak boleh bertemu lagi dengan orang itu, gumamku. Bagaimana caranya menjelaskan pada Iseul? Dia pasti akan menanyakan kenapa aku melarangnya bertemu dengan Jaejoong.

“Iseul, kau tidur ya. Sudah malam kan,” kataku. Iseul mengangguk, dia membiarkan kertas-kertasnya berceceran di meja dan langsung naik ke tempat tidur. Aku menyelimutinya dan mengelus kepalanya.

“Selamat tidur,” kataku.

“Selamat malam. Saranghaeyo, Appa.”

Aku tersenyum lalu menciumnya. “Na do saranghae, jagiya.”

Setelah Iseul tidur, aku menutup pintu kamarnya dan masuk ke kamarku. Aku meliat istriku terbaring membelakangiku. Dia tidak bergerak saat aku naik ke tempat tidur, tapi aku tahu kalau dia belum tidur.

“Kau tidak tidur?” tanyaku.

“Belum,” jawab Boa pendek.

“Iseul cerita padaku kalau dia bertemu dengan seseorang hari ini,” kataku to the point. Aneh sekali, Boa sama sekali tidak menjawab, menoleh pun tidak. Apa mungkin dia pura-pura sudah tidur?

“Namanya Kim…”

“Kau mengira kalau itu Kim Jaejoong?” tanya Boa, tiba-tiba dia bangun dan langsung menatapku. “Kim Jaejoong yang kita kenal?”

“Memangnya aku pernah mengenal Kim Jaejoong? Bukannya kau yang jauh lebih mengenalnya?” kataku. Boa terbelalak mendengar nada suaraku yang tiba-tiba meninggi.

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Kenapa Iseul bisa bertemu dengannya?” tanyaku. “Dan kau… kau juga bertemu dengannya, kan?”

Boa tidak menjawab pertanyaanku, dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat menahan kekesalannya.

“Tingkahmu seperti orang sakit sepanjang sore tadi, kau pikir aku tidak curiga?” tanyaku. “Apa saja yang kau lakukan dengannya tadi?”

“Astaga, bisa-bisanya kau berpikiran senegatif itu!” kata Boa. “Aku bahkan tidak mau menatap wajahnya dan langsung mengajak Iseul pulang, kau tahu!”

“Siapapun bisa mengajak Iseul pulang hari ini, tapi besok atau lusa, Iseul akan kembali menemui orang itu dan mereka akan semakin dekat!” seruku. “Kau menginginkan itu? Setelah 5 tahun… kau masih ingin bertemu dengannya, kan?!”

Boa langsung berlari menuju pintu kamar dan membukanya, tapi aku segera menarik tangannya dan pintu terbanting menutup.

“Jangan menghindar kalau aku sedang bicara!” seruku.

“Aku tidak tahan dengan sikapmu ini!” isak Boa, lalu menepis tanganku. “Mana mungkin aku mau bertemu lagi dengan orang yang sudah menyakitiku!”

Setelah berkata begitu, Boa kembali membuka pintu kamar dan keluar, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Aku menoleh dan ternyata Iseul sudah berdiri di depan pintu kamar kami. Matanya basah.

“Iseul…”

Iseul dengan marah melempariku dengan bonekanya. “Appa jahat!”

Dia berlari ke kamar belakang mencari pengasuhnya. Iseul menggedor pintu kamar pengasuh Lee sambil menangis. “Ahjumma! Ahjumma!”

Pintu kamar terbuka dan Iseul langsung menghambur memeluk pengasuhnya yang menatapnya dengan kaget, terlebih lagi saat melihat kami.

“Nona, kenapa?”

“Appa memarahi Omma… Appa jahat…” Iseul menangis sekencang-kencangnya di pelukan pengasuh Lee. Pengasuhnya hanya bisa menenangkan Iseul sambil menatap kami dengan bingung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi.

Boa perlahan mendekati Iseul dan berusaha memeluknya. “Iseul… Appa tidak memarahi Omma… Jangan berkata begitu… Jangan buat Appa sedih…”

Tapi Iseul hanya menangis lalu memeluk ibunya dengan erat, dia menenggelamkan wajah mungilnya ke bahu Boa, dan Boa menggendongnya menuju kamarnya. Iseul bahkan tidak mau melihatku.

***

Author’s PoV

Sosok itu terdiam di depan pintu rumah berlantai dua itu. Tangannya sudah terulur hendak mengetuk pintunya, tapi kemudian tertahan karena ragu. Dia bukan tamu yang sedang ditunggu pemilik rumah ini, dia bahkan yakin kalau dia akan langsung diusir dalam waktu kurang dari lima menit. Kalau bukan karena kakaknya meminta tolong padanya, dia mungkin tidak akan datang ke rumah ini.

Akhirnya, yeoja itu mengetuk pintu rumah. Beberapa saat kemudian, pemilik rumah itu, Boa, membukakan pintunya.

“Annyeonghaseyo…”

“Nugusaeyo?” tanya Boa. Dia tidak mengenal yeoja ini.

Yeoja itu menggigit bibirnya sebelum menjawab. “Apa benar ini rumah Kwon Boa?”

“Ya, saya sendiri. Anda siapa ya?”

“Saya Kim Jae Ra, adik perempuan Kim Jaejoong…”

Mendengar nama itu, Boa langsung menutup pintu rumahnya. Tapi secara refleks Jae Ra menahan pintunya. “Tolong dengarkan dulu…”

“Aku tidak mau mendengar apapun tentang Kim Jaejoong! Pergi!” seru Boa.

“Tapi dia sangat ingin bicara denganmu! Dia ingin menjelaskan semuanya!”

“Menjelaskan alasannya kenapa dia meninggalkanku setelah menghamiliku?” kata Boa. “Aku sudah tahu alasannya! Dia brengsek!”

“Ada alasan dibalik sikapnya itu! Kumohon, berikan kakakku kesempatan!”

“Untuk apa istriku harus memberikan kesempatan pada namja brengsek itu?” tiba-tiba Yunho membuka pintu rumah dan berhadapan langsung dengan Jae Ra. “Setelah meninggalkan Boa selama 5 tahun, sekarang dia kembali lagi untuk mengambil anaknya? Iseul bukan anak dari orang sebrengsek itu, dia anakku!”

Jae Ra menangis melihat dua orang di depannya ini mengatakan Jaejoong orang yang brengsek. “Kalian tidak mengerti… dia terpaksa melakukan itu…”

“Sudahlah, tidak usah membujuk istriku untuk memaafkan orang itu. Kau pergi saja,” usir Yunho, sedikit mendorong bahu Jae Ra dan segera menutup pintu.

“Dia sekarat!” isak Jae Ra. “Jaejoong oppa tidak ingin siapapun tahu tentang penyakitnya, jadi dia sengaja meninggalkan Boa onnie meskipun dia tahu Boa onnie sedang mengandung anaknya… Oppa tidak ingin Boa onnie tahu kalau ada tumor ganas di otaknya…”

Bahu Boa merosot mendengar kata-kata Jae Ra. Selama ini dia tidak pernah tahu apapun tentang itu, Jaejoong tidak pernah mengatakannya. Hal terakhir yang Boa ingat adalah ketika Jaejoong pergi meninggalkannya begitu saja sesaat setelah Boa memberitahunya kalau dia hamil di luar nikah.

“Aku tidak percaya,” kata Yunho. “Jangan percaya ucapannya,” katanya lalu beranjak pergi ke ruang keluarga. Tapi Boa menarik lengan Yunho.

“Saat aku melihatnya kemarin, wajahnya sangat pucat…” kata Boa pelan.

“Onnie, tolong bantu kakakku…” isak Jae Ra, mengetuk pintu rumah. “Onnie, tolong… Dia mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi…”

“Yeobo… aku akan menemuinya…” kata Boa.

“Apa? Kau mau bertemu dengan Jaejoong dan mendengarkan semua bualannya lagi?” kata Yunho.

“Aku harus mendengar penjelasan dari mulutnya sendiri!” kata Boa. “Kumohon, hanya sekali ini saja… Setelah itu aku akan menuruti kata-katamu, kumohon…”

Yunho mengepalkan tangannya, dia tidak sepenuhnya mengizinkan Boa untuk bertemu apalagi bicara dengan Jaejoong.

***

Jaejoong’s Pov

Aku menoleh kearah pintu masuk ruang rawat inap dan melihat Boa dan Jae Ra sudah berdiri disana. Sorot matanya hampa, tidak seperti Boa yang kukenal dulu. Aku tahu, sorot matanya yang berubah itu semua karenaku. Aku hendak menyapanya, tapi kemudian sesosok namja berdiri di belakang Boa, yaitu suaminya, Jung Yunho.

“Gomawo, sudah mau datang,” kataku pelan pada Boa.

Boa tidak menjawab. Dia mengikuti Jae Ra masuk ke kamar, Boa duduk di samping tempat tidurku. Tapi Yunho masih diam mematung di pintu masuk, matanya menatapku tajam.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Boa.

“Kau bisa lihat sendiri kan,” kataku, berusaha tersenyum. “Aku bahkan tidak kuat duduk.”

“Aku pergi keluar dulu, supaya kalian bisa leluasa bicara,” kata Jae Ra. “Yunho-ssi, kau bisa masuk…”

“Aku tunggu di luar,” kata Yunho, yang mengejutkanku. Dia tidak bicara apa-apa lagi, lalu pergi dan duduk di luar.

“Apakah… Iseul tahu aku ada disini?” tanyaku.

“Kenapa kau meninggalkanku?” tanya Boa, sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. “Kenapa kau bersikap seperti orang jahat? Kenapa kau sengaja membuatku berpikir kalau kau itu jahat?”

Aku memejamkan mata. Bahkan ketika aku sudah menyiapkan diri untuk menerima cacian seburuk apapun dari Boa, kata-kata itu masih bisa melukai hatiku. Ya, aku memang jahat. Aku orang paling buruk sedunia.

“Aku tidak mau kau melihatku sekarat…” kataku pelan. “Aku ingin kau bersama dengan orang yang bisa membuatmu bahagia, dan tampaknya kau sudah menemukan itu dalam diri Yunho. Dia mencintai kalian berdua, kan? Dia pasti tahu kalau Iseul bukan anak kandungnya, tapi dia tetap mencintainya. Tak banyak laki-laki yang bisa melakukan itu, apalagi aku.”

“Kenapa kau menamainya Iseul?” tanyaku. “Bukankah itu nama kesukaanku? Bukankah kau membenciku?”

“Karena dia anakmu,” kata Boa, berusaha menahan tangisnya.

“Tapi bukankah kau tidak ingin mengingat hal sekecil apapun tentangku?”

“Bahkan dengan melihat wajah Iseul saja, sudah mengingatkanku padamu. Wajahmu dan sifatmu, semua menurun padanya. Aku tidak bisa menghilangkan semua hal tentangmu karena kau sudah menurunkannya pada Iseul.”

“Apa kau tersiksa dengan hal itu?” tanyaku lagi. Boa tidak menjawab, dia menenggelamkan wajahnya ke telapak tangannya, menangis. Aku merasakan air mataku juga keluar, makin lama makin deras.

“Apa aku boleh bicara dengan Iseul?” kataku. Boa mendongak menatapku.

“Bolehkah?” tanyaku lagi.

“Untuk apa?”

“Minta maaf,” kataku. “Tolong… sekali ini saja…”

Boa perlahan merogoh tasnya, lalu menghubungi Iseul. Bisakah aku bicara dengannya dalam keadaan seperti ini? Apa Iseul akan tahu kalau aku sakit?

“Iseul-ah,” kata Boa untuk seseorang di seberang sana. “Omma bertemu dengan Jaejoong ahjussi, dia ingin bicara denganmu. Maaf sayang, kau tidak bisa kesini. Disini hanya boleh dimasuki orang dewasa, anak kecil tidak boleh masuk. Omma aktifkan loudspeaker ya, supaya kau bisa bicara dengan ahjussi.”

Boa menaruh handphone-nya di sebelah bantalku. Dan kemudian, aku mendengar suara yang lucu itu.

“Jaejoong ahjussi!” sapa Iseul ceria.

“Iseul-ah, bagaimana kabarmu? Kau tidak nakal, kan?”

“Tentu saja tidak, aku kan anak yang manis.”

Aku tertawa mendengar jawaban polosnya.

“Ahjussi,” panggil Iseul. “Apa nanti sore ahjussi datang ke taman?”

“Entahlah, Iseul, ahjussi tidak enak badan hari ini.”

“Yaah… kalau begitu nanti sore aku tidak mau ke taman. Aku mau menunggu sampai ahjussi sehat lagi.”

Boa memalingkan wajahnya, air matanya mengalir lagi. Akupun ingin sekali menyudahi obrolanku dengan putriku, aku tidak kuat mendengar suaranya.

“Iseul-ah… ahjussi boleh meminta sesuatu darimu?”

“Apa itu?”

“Maukah kau memanggilku ‘Appa’, sekali saja?”

Terdengar suara ‘uummm’ Iseul di seberang sana, seperti sedang berpikir. “Kenapa?”

“Karena… sebenarnya aku mempunyai anak perempuan yang mirip sekali denganmu. Aku sangat merindukannya, tapi sekarang belum bisa bertemu dengannya.”

“Oh, baiklah. Jaejoong Appa,” kata Iseul. “Kenapa tidak bisa bertemu dengan anak Jaejoong Appa?”

“Karena aku sudah membuatnya sedih. Aku ingin minta maaf padanya tapi tidak tahu bagaimana caranya.”

“Belikan saja dia boneka beruang yang besar, lalu peluk dia dan minta maaf,” kata Iseul polos.

“Kalau… seandainya anak itu adalah kau, apa kau mau memaafkanku?” tanyaku lagi.

“Tentu saja! Jaejoong Appa kan orang yang baik,” jawab Iseul.

Orang yang baik… Aku menutup mulutku dan menangis diam-diam. Bagaimana mungkin putriku bisa menganggapku orang yang baik? Dia tidak tahu apa yang sudah ayahnya lakukan dulu. Kalau saja dia tahu, dia tidak akan semudah itu mengucapkannya.

“Iseul, sudah ya,” kata Boa. “Ahjussi harus istirahat.”

“Jaejoong Appa mau tidur ya?” kata Iseul. “Tunggu, tunggu! Biasanya kalau Appa-ku mau tidur, aku selalu mengatakan sesuatu padanya.”

“Apa itu?” tanyaku, dengan suara bergetar.

“Saranghaeyo, Jaejoong Appa. Cepat sembuh ya.”

Dengan terbata-bata aku menjawab, “Na do saranghae, Iseul-ah…”

Boa kemudian mengambil handphone-nya dan menonaktifkan loudspeaker-nya. “Iseul-ah, ahjussi sudah tidur. Omma tutup teleponnya, ya.”

Ada keheningan yang cukup lama sesaat setelah Boa menutup teleponnya. Baik aku maupun Boa tidak tahu apa lagi yang harus dibicarakan. Aku sendiri pun merasa sangat bodoh, tadi aku sangat ingin menyudahi obrolanku dengan Iseul, tapi kenapa sekarang aku justru merindukannya? Aku tidak mau berpisah dengannya, tidak mau menyia-nyiakannya lagi.

“Meskipun… aku harus sedikit mengelabuinya… aku akhirnya mendengar kata-kata itu juga dari Iseul…” kataku pelan. Energiku seakan terkuras habis hanya untuk berbicara saja. “Paling tidak… usahaku untuk bertahan selama 5 tahun ini tidak sia-sia…”

Aku merasakan keringat dingin mulai membasahi keningku, napasku tersengal-sengal. Inikah saatnya? Boa berdiri dari kursinya dan menatapku dengan panik. “Jaejoong? Jaejoong!”

Yunho dan Jae Ra yang dari tadi menunggu di luar bergegas masuk. “Ada apa?”

“Aku akan panggil dokter!” kata Jae Ra. Aku mencoba mencegahnya tapi dia sudah lebih dulu berlari keluar. Yunho hanya menatapku yang terbaring lemah ini tanpa berkata apa-apa. Aku juga tidak tahu apa yang dia pikirkan. Apa dia prihatin dengan keadaanku? Atau dia senang?

“Yunho-ssi…” panggilku. “Terima kasih… sudah menyayangi Iseul selama ini…”

“Karena dia anak dari wanita yang kucintai,” kata Yunho. Boa menoleh menatap suaminya.

“Berarti aku bisa pergi sekarang kan?” kataku lagi.

“Jaejoong! Jangan katakan itu! Kumohon!” kata Boa sambil menangis.

“Sudah tidak ada lagi yang kukhawatirkan, Boa…” kataku. “Apa yang kuinginkan sudah kudapatkan. Iseul… sudah memaafkan ayahnya. Dan kau, Boa… meskipun kau tidak mengatakan apa-apa, tapi kau sudah mau datang kesini saja, aku sudah senang. Gomawo…”

Aku merasakan air mataku mengalir, air mata terakhir sebelum akhirnya aku menutup mata untuk selama-lamanya…

***

15 years later…

Iseul’s PoV

Aku kembali lagi ke tempat ini, ke taman tempat aku pertama kali bertemu dengan Jaejoong Appa. Waktu ternyata sudah berjalan begitu cepat semenjak Jaejoong appa meninggal, tepat setelah aku selesai bicara dengannya di telepon, 15 tahun yang lalu. Aku bertambah tinggi dan umurku pun bertambah, tapi kenanganku bersamanya tetap tertanam dengan baik di benakku.

Aku duduk di atas kursi ayunan, dan menatap ayunan di sebelahku yang kosong. Rasanya seperti baru terjadi kemarin, saat Jaejoong Appa mendorong ayunanku lalu duduk di sana. Rasanya seperti Jaejoong Appa sedang pergi ke suatu tempat untuk sementara waktu, dan bukannya pergi selama-lamanya.

“Aku ingat, sehari setelah meneleponmu, aku menunggumu di taman sepanjang sore itu. Bahkan hingga matahari hampir terbenam sepenuhnya, aku tetap tidak menyerah. Yang kuingat saat itu, adalah ketika Omma menangis saat membujukku pulang. Aku pun menangis karena tidak bertemu denganmu. Aku tidak tahu kenapa Omma menangis, aku tidak tahu kalau ternyata kau sudah pergi selama-lamanya dan tidak akan pernah lagi menemuiku.

Aku tidak pernah bisa memahami apa yang sudah direncanakan Tuhan pada kita berdua. Bagaimana bisa seorang anak berumur lima tahun mengingat dengan jelas semua detil pertamuannya dengan seseorang yang belum pernah dia temui sebelumnya? Mungkinkah karena orang itu adalah kau, Appa? Mungkinkah Tuhan menghendaki supaya aku terus mengingatmu?

Jaejoong Appa, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan saat-saat singkat yang pernah kulalui bersamamu. Aku menyayangimu, Jaejoong Appa, selamanya…”

Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasku. Kertas itu berisi gambarku dan Jaejoong Appa, yang kubuat saat umurku lima tahun menggunakan crayon, gambar yang tidak akan pernah bisa kuperlihatkan pada Jaejoong Appa. Aku menaruhnya di kursi ayunan yang kosong itu. Tak apa kalau ada seseorang yang mengambilnya besok. Tak apa kalau angin menerbangkannya hingga jauh. Biarkan angin memberitahukan pada seluruh dunia betapa aku mencintai Jaejoong Appa, sama seperti aku mencintai Yunho Appa yang sudah membesarkanku sampai saat ini.

Aku berdiri dari ayunan, berjalan keluar dari taman. Pulang.

***THE END***

10 thoughts on “The Last Words

  1. hyuki says:

    Hwa….sedih banget unn,ampe nangis aku,ngebayangin jaejoong oppa sekarat,untung pas trakhir y oppa bahagia.alwasy nice ff une.DAEBAK!!!!di tungu next ff y~^^

  2. Pokeriiz says:

    Waaaah eonni*plaaaak so kenal* daebak
    Sedih bnget T__T
    Hampir aja nangis , tp inget klakuan asli si nJae kga jd nangis😀
    Trus bru tw jga kalo trnyta Iseul itu v3 onnie yg ska bkin FF nistain anak orang =red FYFIM😉 . .
    Gak jadi sedih deh *di timpuk sendal .

  3. specialshin says:

    gila ini kalo gue punya bokap kayak jae gue nikahin aja *plak
    authior keren banget bikin deskripsii~~
    jjang~ ffnya bagus dan sukses bikin aku galau.
    cukstaw ya aku itu jarang galau *sorry for spammingaround🙂

  4. Jojo says:

    Annyeong^^ Aku nyasar #ngeles. . .ga pinter bikin alasan. . .
    Ni FF bikin aku huweeeeeeeee hik hik. . .
    Chuahae. . .DAEBAK!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s