[Honey Dew’s After Story] A Jealous Kim Iseul



GI KWANG’S POV

Aku ngga bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Aku hanya berguling-guling di tempat tidur, gelisah. Kulirik Junhyung yang tidur di ranjang sebelahku, dia sudah dari tadi ngorok, untung saja wajahnya ditutupi bantal. Kepalaku bertambah mumet mendengar dengkurannya yang… astaga, anak ini ngorok atau nge-rap? Aiish, ingin sekali kutimpuk kepalanya. Tapi ngga jadi deh, dulu aku pernah nimpuk kepalanya waktu dia lagi ngorok kayak gini, tapi alih-alih diem, ngoroknya malah tambah keras.

Aku beringsut ke balkon, bengong. Ini bukan yang pertama kalinya aku ngga bisa tidur. Ini juga bukan karena aku habis nenggak kopi segalon, bukan juga karena tidur kelamaan tadi siang. Ini karena cewek itu…

Aku membuka HP-ku yang sengaja tidak kumatikan. Aku mengecek daftar telepon yang masuk dan inbox. Tak ada dia.

Aku ngga nyangka dia bisa semarah itu. Tiga tahun bersahabat baik yang kemudian lanjut pacaran setahun, aku belum pernah lihat dia seperti itu. Aku sama sekali ngga tahu kalau kemarahannya itu sudah lama dia pendam, itupun karena dia tidak mau menyakitiku dan menggangguku.

Aiish, apa ngga kebalik tuh? Nyatanya akulah biang keroknya kenapa dia bisa semarah itu padaku. Akulah alasan kenapa dia menangis dan menjauh dariku. Aku yang tidak jujur padanya, sampai akhirnya hubungan kami jadi seperti ini. Ngambang.

Selama ini kami tidak pernah mengiyakan atau membantah tentang gosip yang mengatakan kalau kami pacaran. Alasannya, untuk apa memberitahu lagi kalau mereka sudah melihat kami jalan berdua sambil gandengan tangan? Mereka toh tahu kalau aku selalu menyempatkan diri menonton pertandingannya, dan dia juga hampir selalu datang tiap kali aku manggung. Ngga perlu ada yang dikonfirmasi, ngga perlu ada konferensi pers segala, ngga penting. Mereka sudah tahu semua, kan?

Tapi ternyata itu jadi masalah, tepatnya setelah aku tahu kalau Iseul, pacarku, ternyata satu kampus bahkan satu kelas dengan Soo Mi, mantan pacarku dulu. Awalnya Iseul oke saja, dia bukan tipe cewek cerewet yang cemburuan. Iseul bahkan menertawakanku yang digosipkan pacaran dengan Hyuna 4minute.

“Dia terlalu seksi buatmu,” ejeknya.

“Trus kenapa kamu mau jadi pacarku?” sahutku sewot.

“Nah itu dia, sampai sekarang aku juga bingung.”

Detik berikutnya Iseul sudah lari menghindari lemparan sepatuku.

Kami baik-baik saja, hingga akhir-akhir ini aku melihat Iseul lebih sering murung. Memang sih, dia tetap tersenyum tiap kali kami ketemuan, tapi senyumnya sangat dipaksa. Kalau kutanya, dia bilang kalau dia kelelahan.

Akhirnya saat kudesak, barulah dia cerita.

“Kayaknya Soo Mi menyesal putus denganmu,” katanya.

Aku kaget. Ngga pernah kudengar nada suara seketus itu, wajahnya keruh.

“Maksudnya?” aku pura-pura bego.

“I think Soo Mi felt regret to break up with you.”

Yah, malah ngomong pake bahasa Inggris. Aku kan tanya apa maksud Iseul bicara seperti itu.

“Ini alasannya kamu cemberut terus minggu-minggu ini? Iseul, kami kan sudah lama putus…”

“Kayaknya si cantik Soo Mi menyesal putus denganmu, dan lebih nyesel lagi karena penggantinya malah cewek yang biasa-biasa aja, hanya seorang atlet bulu tangkis. Itu maksudku!”

“Hanya? Atlet bulu tangkis kok dibilang ‘hanya’?” aku balik tanya.

Iseul kayaknya malah tambah frustasi mendengar kedongoanku. “Kamu ngerti ngga sih? Apa kamu ngga pernah bayangin rasanya sekelas dengan mantan pacarnya pacar, dan dia ternyata cewek idola di kampus, dan ternyata banyak yang kaget kalau kalian dulu pernah pacaran, dan mereka kaget kok bisa-bisanya kamu mutusin cewek secantik dia, dan ternyata wartawan tau kalau sekarang kita pacaran, dan sekarang aku sekelas sama Soo Mi!”

Aku bengong. Iseul lagi kesambet apa ya? Dulu aku terpesona dengan sifatnya yang kalem dan cenderung pemalu. Tapi sekarang aku malah melihat sesosok cewek yang ngomel-ngomel ngga jelas.

“Dan ternyata… kamu malah milih aku…”

“Memangnya salah? Aku ya aku, terserah aku mau pilih siapa aja!” sahutku emosi. “Kamu ini kenapa, sih? Setauku kamu bukan tipe cewek pencemburu. Kamu bahkan ngejek aku yang waktu itu digosipin pacaran dengan Hyuna…”

“Itu karena aku kenal dia dan kalian ngga pernah ada hubungan apa-apa!”

“Aku dan Soo Mi juga sekarang sudah ngga ada hubungan apa-apa!”

Iseul diam, rahangnya mengeras. “Tapi kalian…”

“Itu udah dulu banget, Iseul!” kataku stress. “Apa kamu mulai stress karena pers mulai bikin kamu tertekan? Kamu ngga terbiasa dikejar-kejar cuman buat ngomong ‘iya, kami pacaran’? Atau kamu mau aku bilang ke mereka semua kalau ‘iya, kami pacaran’? Atau kamu pernah diteror oleh fans?”

Iseul membuang muka. Aku tahu, kalau sudah begini ini tandanya Iseul sudah mulai kehilangan kata-kata. Iseul yang pendiam memang agak susah kalau disuruh menceritakan perasaannya dengan detail.

“Jadi apa masalahmu yang sebenarnya?” tanyaku, aku memelankan suaraku karena takut Iseul malah lari. “Dia bikin masalah denganmu?”

Iseul menggeleng. Aku menunggunya dengan sabar sampai akhirnya dia mau bicara.

“Aku ngga pernah, sekali aja, hidup tenang di kampus tanpa ada sindiran atau bisik-bisik tentang Lee Gi Kwang yang bodoh karena mutusin Soo Mi yang cantik semampai dan malah milih aku yang cuman atlet bulu tangkis…”

“Hei, kata ‘cuman’ itu boleh kok dihilangin,” protesku.

Iseul cuek. Dia melanjutkan ceritanya. “Dan mending kalau Soo Mi membelaku di depan teman-temannya, atau minimal dia bicara denganku. Tapi kupikir dia malah menikmatinya. Dia menikmati perannya sebagai ‘korban’, sementara kita berdua ini penjahatnya. Dia menikmati peran sebagai ‘orang yang sakit hati karena diputusin pacarnya’. Kamu tau, aku sendiri sekarang ngga percaya kalau aku ngga salah apa-apa. Sekarang otakku sudah diracuni dengan kata-kata kalau aku ini memang ngga pantas buat kamu.”

“Hei, jangan bilang gitu dong!” kataku. “Dulu aku juga gitu kok waktu kamu suka dengan Yong Dae-ssi…”

“Jangan sebut-sebut dia!” seru Iseul. “Sunbaenim ngga ada hubungannya sama sekali!”

“Ngga ada hubungannya gimana? Dulu aku juga cemburu waktu kamu cerita kalau kamu suka dengannya. Sementara aku, aku ngga pernah cerita apapun tentang Soo Mi karena aku ngga mau ngungkit-ngungkit masa lalu.”

“Itu salahmu!” teriak Iseul lalu pergi meninggalkanku sambil menangis. Aku berteriak memanggilnya, tapi dia ngga mau dengar.

Aku memandang punggungnya yang menjauh. Aku marah melihatnya yang tidak mau memberiku penjelasan lagi. Aku marah karena ngga tau bagian mana dari diriku yang salah dimatanya. Aku hanya tahu satu hal dari pertengkaran kami ini.

Dia cemburu.

***

ISEUL’S POV

Sudah jam satu pagi, dan mataku masih saja terbuka lebar. Badanku agak pegal karena seminggu belakangan ini aku hanya bisa tidur telentang atau miring ke kiri. Tangan kananku cedera dan harus digips, itu sebabnya aku cuti dari beberapa pertandingan. Untung saja ini hari Sabtu, tak ada jadwal kuliah.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengecek daftar panggilan dan inbox. Tak ada siapapun yang menelepon. Dia juga tidak.

Aku mendadak kembali emosi saat mengingat cowok itu. Aku setengah melempar HP-ku ke kasur, lalu bengong menatap langit di balik jendela kamar. Aku benar-benar tertekan, marah dengan semua yang bisa kuingat.

Aku tidak bisa berjalan dengan tenang di koridor kampus, papasan dengan Soo Mi tanpa mengingat sikapnya yang sok manis pura-pura tidak tahu. Aku yakin dia sangat tahu, aku yakin dia menyukai mentalku yang down belakangan ini. Aku yakin dia suka dengan sikap orang-orang yang cenderung membelanya karena satu alasan: dia lebih cantik dariku.

Awalnya kupikir, apa salahnya pacaran dengan artis. Aku tidak pacaran dengan AJ, aku pacaran dengan Lee Gi Kwang, teman sebangkuku saat kelas 1 SMA. Aku tidak jatuh cinta dengan AJ yang ganteng dan berbakat, aku jatuh cinta dengan Gi Kwang yang selalu berusaha hadir tiap kali aku sedih atau sekadar ingin ngobrol basa basi. Aku kenal Gi Kwang lebih dari orang-orang itu.

Tapi begitu mungkin halnya dengan Soo Mi. Mereka pernah pacaran saat SMP cukup lama, tiga tahun. Nama AJ bahkan masih ada di awang-awang, dan Soo Mi tetap memacarinya, meskipun saat lulus SMP mereka akhirnya putus.

Tapi di pagi buta ini, aku menyadari satu hal yang menyakitkan: pacaran dengan artis itu jelas sebuah kesalahan.

Aku tidak suka dengan pandangan orang-orang yang mengingatku sebagai ‘Iseul pacarnya Gi Kwang B2ST’. Aku benci kalau harus terkenal dengan sebutan begitu. Itu konyol.

Aku benci Soo Mi. Ya, sangat membencinya. Aku harap aku punya alasan yang kuat supaya aku bisa membentaknya atau menimpuk kepalanya dengan tapal kuda. Dia pura-pura bersikap manis di depanku supaya orang-orang malah tambah kasihan dengannya, supaya orang-orang, teman-temanku di kampus, melihatku sebagai ‘orang jelek yang merebut pacarnya’ dan dia sebagai ‘gadis malang yang dicampakkan cinta’. Hooeek!

Tanpa terasa air mataku mengalir. Aku membiarkannya keluar, dan perlahan aku mulai menangis. Menangis hingga dadaku sakit. Kalau bisa aku akan menangis sampai pingsan, atau malah mati saja sekalian.

Setan dalam kepalaku berkata, aku ingin sekali Gi Kwang tahu semuanya dan tambah membenci Soo Mi. Biarkan semua orang tahu kalau Gi Kwang mencintaiku, Soo Mi adalah masa lalunya, dan Gi Kwang tidak tertarik dengan gadis yang sok baik dan sok manis itu.

Aigoo… Tuhan, maafkan aku… Aku menutup wajahku dan menangis. Belum pernah aku merasakan perasaan ini sebelumnya, dengan Yong Dae sunbaenim pun tidak. Tidak pernah sehebat ini.

Aku cemburu.

***

Minzy, So Eun, dan Hye Sun mendengar semua curhatanku dengan sungguh-sungguh, mereka bahkan dengan sabar menungguku yang lebih banyak diam dan menghela napas, karena ini bukan pertama kalinya aku kesulitan mengeluarkan masalah yang mampet di otakku. Perlu waktu lama untuk menyusun kata-kata karena aku bukan tipe orang yang dengan sukarela membeberkan masalah selama limabelas menit.

Selama ini aku terbiasa dengan perlakuan So Eun dan Hye Sun yang dengan mudahnya bisa menebak kalau aku ‘lagi ada masalah’ dan tak perlu banyak kalimat untuk

menjelaskannya. Tapi kali ini Minzy menyuruhku untuk cerita banyak, menurutnya supaya seluruh uneg-uneg di kepalaku keluar. Dan aku menceritakan semuanya, termasuk rasa benciku pada Soo Mi.

“Sulit juga ya, kamu dan Gi Kwang berusaha merahasiakan hubungan kalian, karena takutnya itu berpengaruh ke karir Gi Kwang juga. Menurutku sulit juga seorang artis tetap jadi idola setelah banyak yang tahu kalau dia sudah punya pacar. Sekarang orang-orang masih ragu apa kamu dan Gi Kwang pacaran atau ngga, sementara sekarang malah muncul Soo Mi yang ternyata pernah pacaran dengan Gi Kwang waktu SMP. Orang-orang otomatis akan langsung membanding-bandingkan kalian berdua,” kata Minzy.

“Dan otomatis akan ngebentuk dua kubu, antara Iseul atau Soo Mi,” So Eun menimpali. Minzy mengangguk. “Siapa juga yang ngga stress.”

Perasaanku masih mengganjal.

“Iseul, aku tahu sulit buat memahami gimana ngga enaknya posisimu sekarang, apalagi kita juga ngga tau apakah Soo Mi itu seperti yang kamu pikir. Apa dia bersikap manis karena memang sifat aslinya atau malah untuk nutupin sifat aslinya, kita kan ngga tau…”

“Tapi kan konyol juga kalau tiba-tiba aku nyeret Soo Mi dan ngomong ke dia supaya ngga usah sok manis menanggapi omongan orang-orang itu. Aku ngga pernah bener-bener kenal dia, aku ngga tau sifat aslinya kayak gimana. Dia ngga pernah bicara apapun sama aku sejak gosip itu beredar. Itu yang bikin aku marah, dan aku lebih marah lagi karena aku ngga bisa melakukan apa-apa.”

“Perlu kami yang tanyakan?” tanya So Eun.

“Itu sih sama aja memperkeruh suasana,” kata Hye Sun. “Soo Mi akan nganggap kalau Iseul seperti ‘mengerahkan’ orang-orang untuk ngorek-ngorek dia. Soo Mi tambah GR, citra Iseul akan tambah turun.”

“Menurutku, Iseul, kamu sabar saja. Aku tau ini sulit, tapi untuk sementara ini jalan yang terbaik. Memang sih, sikap Soo Mi yang membiarkan saja orang-orang membicarakan kalian berdua itu menyebalkan, tapi kalau dia bersikap tenang-tenang saja dan malah kamu yang stress, justru kamu yang rugi. Lagipula kupikir Gi Kwang jujur, dia ngga ada hubungan apa-apa lagi dengan Soo Mi. Kamu hanya khawatir.”

Aku mengusap wajahku, berharap cara itu bisa sedikit menghilangkan stress. “Aku ngerasa bersalah sama Gi Kwang. Dia setengah mati meyakinkan aku kalau dia lebih milih aku daripada Soo Mi, tapi aku terlalu emosi. Aku tertekan dengan omongan orang-orang dan sikap Soo Mi. Kupikir, alasan aku cemburu itu gara-gara Soo Mi lebih cantik dari aku…”

Minzy mengusap punggungku pelan. “Soo Mi yang cantik, sementara aku… mana sempat aku mengurus kecantikan karena waktuku terkuras untuk latihan keras di lapangan, pertandingan-pertandingan, kuliah…” lanjutku.

“Hye Sun benar, Iseul. Sabar saja. Kita lihat apa Soo Mi memang benar memiliki sifat manis atau itu hanya pura-pura saja,” kata Minzy.

“Maksudnya?” tanya Hye Sun.

Minzy terkekeh. “Lupa ya, kami dan Soo Mi kan satu kelompok di kelas.”

So Eun tertawa getir, sepertinya sangat memahami suasana hatiku.

***

GI KWANG’S POV

B2ST sedang berada di Malaysia untuk kegiatan promo album, energiku terkuras tandas justru bukan karena jadwal manggung yang padat, tapi karena harus tersenyum sepanjang hari. Gimana caranya bisa tersenyum kalau sedang ada masalah pribadi?

Masalahku dan Iseul belum selesai, dia masih ngga mau menghubungiku. Aku bingung kalau nelepon dia, aku ngga tahu harus ngomong apa.

Dia cemburu dengan Soo Mi. Tapi cemburu yang kayak gimana? Kami ngga pernah jalan berdua, apalagi di belakang Iseul. Boro-boro, ketemu Soo Mi saja ngga pernah. Kami putus sesaat setelah aku lolos audisi JYP.

Aku sempat menelepon Hye Sun dan menanyakan keadaan Iseul, tentu saja setelah wanti-wanti supaya Hye Sun ngga cerita ke Iseul.

“Coba bayangin, setiap hari ada saja yang ngomongin Iseul di kampus. Kadang-kadang ada yang sengaja nyegat Iseul cuman buat nanya, “Beneran ya kamu pacaran sama Gi Kwang?” atau “Beneran ya Gi Kwang dulu pacaran dengan Soo Mi?”. Belum lagi gosip-gosip kalau banyak yang ngga setuju kamu pacaran dengan Iseul, mereka pikir kamu lebih cocok dengan Soo Mi, lebih cocok karena lebih bermuka artis. Konyol kan? Bahkan Iseul sambil nangis cerita ke aku, dia pernah ngga sengaja nguping obrolan cewek-cewek di toilet kalau seharusnya Iseul pacaran saja dengan atlet, bukannya dengan Gi Kwang yang artis. Orang gila namanya kalau ngga tertekan denger omongan seperti itu.”

Siapa yang bisa nyengir di depan kamera setelah denger cerita seperti itu? Angkat tangan…

Aku uring-uringan, tapi ngga mungkin aku mogok manggung dan kabur ke Korea mendahului anak-anak lain. Karirku gimana? Tapi ini juga bikin aku berpikir, apa aku ini egois ya?

Aku ingat, setelah Iseul pergi dariku di hari kami tengkar, aku dengar Iseul cedera saat latihan. Tangan kanannya patah dan dia harus absen di beberapa turnamen. Kasihan Iseul, jangan-jangan dia hilang konsentrasi gara-gara masalah ini.

Aku kembali membaca SMS-nya, satu-satunya SMS yang dia kirim setelah kami bertengkar.

Sedang di Malaysia? Good luck.

Aku mencoba meneleponnya setelah menerima SMS. Dia sempat mengangkat teleponku.

“Iseul, aku mau bicara.”

“Jangan soal itu,” kata Iseul di seberang sana. “Jangan sekarang. Konsentrasi saja ke pekerjaanmu. Aku ngga mau ganggu kamu.”

Aku stress sendiri. Bisa-bisanya dia mikirin perasaan orang lain, padahal dia sendiri  masih sakit hati.

***

“Belum tidur?” tanya Doojoon hyung. Aku ogah-ogahan menoleh. Saat itu sudah jam 12.15 malam. Aku duduk sendirian di balkon hotel. Lumayan, aku ngga perlu menggigil kedinginan karena Malaysia sedang panas-panasnya.

“Insomnia, hyung,” jawabku.

“Insomnia setelah telepon-teleponan dengan Iseul?” candanya. Cengirannya menghilang setelah melihat mukaku yang ruwet abstrak.

“Kenapa kamu?” dia melambaikan tangan di depan wajahku.

Oke, cerita ngga ya? pikirku. Mungkin bakal lebih dramatis kalau tiba-tiba aku memeluk hyung dan menangis lalu bilang, “Hyung, Iseul ngga mau bertemu denganku lagi! Dia marah padaku…” dan bla bla bla. Tapi ngga jadi deh. Badan hyung bau.

“Iseul gimana kabarnya?” tanyanya.

“Gimana caranya aku bisa tau kalau aku sudah ngga kontak dengannya selama seminggu?” aku balik tanya.

“Maksudnya?”

Dan meluncurlah kata-kata itu dari mulutku. Aku ceritakan semuanya pada hyung, tentang sikap Iseul yang murung bahkan mendadak jadi emosional. Setelah menceritakan semuanya pada hyung, aku baru sadar kalau aku ini pacar pertama Iseul. Menyadari itu, apa mungkin karena ini hal yang pertama baginya, jadi dia ngga sanggup menahan emosi, atau lebih tepatnya, ngga siap? Pacar pertama… Aku mendadak GR, tapi GR-ku ini sepertinya ngga cocok dengan situasi sekarang.

“Itu dia, kamu pacar pertamanya dan dia ngga tau harus bersikap gimana untuk menghadapi gosip-gosip yang muncul belakangan ini. Sebelum ketemu denganmu, bayangin aja, hari-harinya hanya sibuk dengan latihan, pertandingan, dan sekolah. Itu kayaknya udah cukup nguras tenaga, sekarang malah muncul hal kayak gini. Dia ngga siap.”

“Hyung, ini bukan gosip yang pertama. Ingat Hyuna kan? Dia tahu itu, dia oke-oke saja.”

“Iya, tahu. Tapi buat apa dia emosi nanggapin gosipmu dan Hyuna kalau Iseul tahu kalian berdua ngga ada apa-apa sejak awal? Kebersamaan kalian hanya masalah kerjaan saja. Tapi yang ini… Iseul tahu kalau kamu dan Soo Mi pernah pacaran, dan sekarang kalian malah dikait-kaitkan lagi, Iseul cemburu.”

“Aku sudah berusaha meyakinkan Iseul soal itu.”

“Berhasil?”

“Ngga.”

“Cewek itu sensitif. Kita ngga bisa bayangin beratnya sekelas dengan mantan pacarnya pacar, dalam hal ini Soo Mi. Soo Mi yang cantik, Soo Mi yang manis, Soo Mi yang model… Kalau seandainya aku ada di posisi Iseul, aku pasti bakalan mikir, ‘Aigoo, mantannya Gi Kwang cantik banget. Aku ngga ada apa-apanya dibanding dia…’ Itu udah bikin dia cukup tertekan, ditambah lagi dengan ketidaksengajaannya nguping obrolan kalau Iseul seharusnya pacaran dengan atlet saja.”

“Cukup deh, jangan bikin aku tambah merasa bersalah!” kepalaku puyeng, aku guling-guling di lantai balkon. “Kan bukan salahku seratus persen.”

“Hei!” Doojoon hyung menepuk pantatku keras. “Kamu juga salah. Apa kamu pernah cerita kalau kamu pernah pacaran sebelum dengan Iseul?”

“Ngga,” jawabku, tapi sebelum hyung sempat bicara, aku buru-buru motong. “Karena aku ngga mau Iseul cemburu.”

“Salah!” Doojoon hyung nepuk pantatku lagi, lebih keras daripada yang tadi. “Itu salahmu, ngga jujur. Iseul merasa dia jadi orang bodoh yang ngga tau apa-apa tentang pacarnya.”

“Kok gitu?” protesku.

“Empat tahun kalian saling mengenal, tapi tiba-tiba Iseul sadar kalau dia bahkan ngga tau Gi Kwang pernah pacaran sebelumnya? Pikirin dong gimana perasaannya!”

Aku memijit kepalaku, pusing. Kok malah jadi ribet gini, ya? Niatnya mau menjaga perasaan Iseul, malah berantakan.

“Menurutku, sebenernya ngga salah kalau Iseul tahu kamu pernah pacaran. Lagipula Iseul sendiri bukan tipe cewek pencemburu buta, kan? Kan kamu sendiri yang cerita. Dia marah karena kamu ngga jujur, itu masalahnya. Ngga ada cara lain, Gi Kwang, pulang dari sini, kamu bicara dengan Iseul.”

Aku mau membantah, cara itu sudah pernah kucoba dan ngga berhasil! Tapi hyung menguap lebar, ngalahin kuda nil, lalu masuk ke ruangan. “Aku ngantuk sekali. Selamat tidur.”

“Tunggu, masalahku gimana?” tanyaku.

“Bawel ah, kalian sendiri yang harus bisa nyelesaiin, kamu tanya-tanya terus memangnya aku peramal?” hyung malah balik menyemprotku. “Kan aku sudah bilang, salahmu itu kamu ngga jujur. Iseul ngga siap, dia kaget. Itu aja.”

Mungkin tahu kalau aku akan ngebantah lagi, hyung kabur ke kamar. Sialan.

***

ISEUL’S POV

Semuanya tidak banyak berubah. Bisik-bisik tetap mengikutiku di kampus meskipun tidak seheboh minggu-minggu lalu. Atau mungkin saja ngga terasa heboh lagi karena tanpa sadar aku jadi terbiasa. Hari ini aku malah ingin mencari Soo Mi untuk membicarakan tugas kuliah kami.

“Kita kerjakan di perpustakaan saja,” kata Soo Mi, sambil tersenyum. Aku mengangguk, membalas senyumnya. Aku berusaha keras untuk tidak mual melihat senyumnya, karena aku pikir ini semua belum terbukti. Bisa saja kecemburuanku selama ini memang benar tanpa alasan, bisa saja aku emosi hanya karena cemburu Soo Mi lebih cantik. Bisa saja aku emosi sesaat hanya karena Gi Kwang tidak pernah cerita kalau dia pernah punya pacar sebelum aku. Bisa saja sikap Soo Mi selama ini memang sifat aslinya yang selalu tenang menghadapi gosip, dan aku uring-uringan karena tidak bisa seperti dia. Segalanya terasa mungkin, dan aku merasa kesal melihat semua kemungkinan itu.

Tapi mungkin, setelah selesai mengerjakan tugas, aku bisa menyempatkan bicara berdua dengan Soo Mi, berdua saja. Aku ingin tahu apakah Soo Mi tetap bersikap manis kalau hanya berdua saja denganku.

Setelah jam kuliah selesai, Soo Mi dan dua temannya yang juga sekelompok denganku dan Minzy pergi lebih dulu ke perpustakaan. Aku menyusul dengan Minzy beberapa menit kemudian.

Tiba-tiba saja terlintas di kepalaku untuk tidak langsung menyusul Soo Mi seperti biasa. Tidak tahu kenapa, aku ingin sedikit menguping apa yang dibicarakan Soo Mi dan teman-temannya. Mereka satu geng, dan menurutku dua temannya itu, Eun Hye dan Min Jung, yang paling semangat meniupkan gosip itu kemana-mana, dengan tambahan Soo Mi yang menebar senyum “aku-baik-baik-saja-meskipun-dikhianati” sebagai latar belakang gosipnya.

“Maksudmu, kita nguping nih?” tanya Minzy. Dia memandangku heran, mungkin dia heran karena seorang Iseul bisa-bisanya ngendap-ngendap ingin menguping pembicaraan orang.

Aku diam saja dan pergi ke perpustakaan. Kebetulan Soo Mi cs duduk berjejer membelakangi rak buku, dan tidak melihatku yang masuk ke perpus bersama Minzy. Aku menyelinap di balik rak buku-buku sejarah, rak yang paling sepi pengunjung. Jarakku cukup dekat untuk mendengar obrolan mereka tanpa mereka sadari.

“Jadi itu alasan kalian putus?” kata Min Jung. “Dia nganggap kamu terlalu banyak nuntut dan manja?”

Aku sekilas melihat Soo Mi mengangguk.

“Tapu lucu juga, kami sudah lama putus dan tiba-tiba cerita itu muncul lagi dan sekarang malah melibatkan Iseul. Aku punya teman yang bekerja di sebuah majalah gosip dan aku cerita padanya kalau dulu aku pernah pacaran dengan Gi Kwang. Tahu-tahu, besoknya berita itu sudah muncul.”

“Maksudmu… kamu sengaja?” tanya Eun Hye.

“Aku ngelakuin itu seolah-olah aku ngga sengaja. Begitu beritanya keluar, aku pura-pura memarahi temanku dan belagak tegar dengan gosip itu. Bahkan waktu gosip akhirnya meluas tentang siapa yang lebih cocok jadi pacarnya Gi Kwang, aku pura-pura diam. Temanku ngga tahu tentang sikapku itu, dia pikir aku memang bener-bener marah.”

“Tapi Iseul jadi ikut-ikutan keseret, kan?” tanya Min Jung lagi, nada suaranya terdengar khawatir. “Kamu membenci Iseul?”

Soo Mi menghela napas. “Ngga tahu, tapi waktu aku melihat cincin di jari Iseul, tiba-tiba terlintas gitu aja niatku itu.”

“Cincin yang mana? Yang di telunjuknya itu?”

“Itu punya Gi Kwang, aku ngga lupa itu. Aku ingat waktu dulu aku pernah mau pinjam cincin itu, tapi Gi Kwang ngga mau. Nyatanya sekarang cincin itu malah pindah tangan ke Iseul. Aku kesal.”

Minzy mencengkram lengan kemejaku, sepertinya dia terlalu kaget dengan apa yang dia dengar. Dia memberi isyarat “Sudahlah, kita pergi saja dari sini”, tapi aku tetap diam. Aku ingat waktu Soo Mi melihat cincin itu. Aku ingat ekspresinya saat melihat cincin itu, apalagi waktu aku memberitahunya tentang tulisan di cincin itu.

“Il n’y a pas compare a vous. Tak ada yang sebanding denganmu.”

“Wah, indah sekali,” kata Soo Mi. Ekspresi kagumnya agak berlebihan, dari situlah aku mulai curiga. Dan sekarang aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

“Kalian boleh nerusin kegiatan gosip kalian yang seru ini sementara aku akan nelepon dosen supaya aku bisa keluar dari kelompok ini,” aku muncul dari belakang mereka. Min Jung terlonjak kaget.

“Iseul! Sejak kapan…”

Aku langsung pergi keluar perpus. Di belakangku, Minzy marah-marah, “Dasar muka dua! Tahu gitu aku ngga perlu nasihatin Iseul supaya sabar!”

Soo Mi memanggil-manggilku sepanjang koridor yang masih agak ramai dengan mahasiswa semester pertama yang belum pulang. “Iseul, apa kamu sengaja nguping kami?”

“Aku ngelakuin itu seolah-olah aku ngga sengaja,” jawabku, meniru kata-kata Soo Mi tadi. Dia terkejut dengan banyaknya hal yang kudengar tadi. “Aku pura-pura datang belakangan, aku pura-pura ngga sengaja masuk diam-diam sementara kalian asyik ngobrol bertiga, aku pura-pura ngga sengaja berdiri deket kalian supaya aku ngga sengaja nguping pembicaraan kalian! Gimana, sekarang kita impas kan?”

Mahasiswa-mahasiswa di dekat kami terkejut, koridor mendadak senyap tapi bertambah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat kami bertengkar. Tentu saja, setelah sekian lama hanya terpuaskan dengan gosip yang tidak jelas, mereka pasti ingin mendapat sesuatu yang benar-benar fakta dengan mata mereka sendiri.

“Iseul, aku bisa jelasin semuanya…”

“Kita ini sebenernya ngapain sih? Rebutan cowok?” aku tertawa menghina. ”Aigoo… dulu aku selalu nertawain cewek-cewek sinting yang jambak-jambakan karena ngerebutin cowok, tapi aku ngga percaya sekarang aku ngalamin sendiri. Dengan orang yang justru ingin kujadiin sahabat! Kamu tega, Soo Mi!”

Soo Mi skak mat. Dia diam terpaku melihatku ngamuk.

“Kamu lihat kan? Banyak orang ngumpul disini, kamu mau main-main lagi denganku? Kamu mau main “korban” dan “orang jahat”, kamu jadi “korban” dan aku jadi “orang jahat”nya? Ayo, mumpung banyak orang! Sekalian saja kamu suruh mereka ngerekam pake HP mereka! Kayaknya yang kamu lakuin belakangan ini masih belum cukup memuaskan kan, buat kamu?”

Soo Mi mulai menangis. “Iseul, maafkan aku…”

Aku tidak mau dengar dia minta maaf, aku tidak mau melihatnya menangis. Aku langsung pergi dari situ, menerobos kemurunan anak-anak yang penasaran dengan pertengkaran kami. Mereka masih sempat memanggil-manggilku untuk menanyakan masalah sebenarnya, tapi aku tidak mau menoleh lagi.

Aku bahkan tidak mengingat Minzy. Belakangan baru aku tahu, saat bertengkar dengan Soo Mi, Minzy meminjam HP salah satu mahasiswa yang dikenalnya yang kebetulan ada di sana. Dia menyalakan Bluetooth masing-masing HP.

“Kamu ngirim apa ke HP-ku?”

“Rekaman pembicaraan mereka. Di situ kejawab semua siapa yang sebenernya korban dan siapa yang sebenernya jadi orang jahat,” kata Minzy cuek.

***

Rekaman obrolan Soo Mi, Min Jung, dan Eun Hye tersebar luas ke nyaris seluruh kampus. Sejak kami bertengkar, Soo Mi tidak lagi muncul dengan senyum manisnya. Dia datang paling awal dari siapapun ke kampus, dan pulang paling awal juga. Dia benar-benar menghindari teman-teman. Kudengar, sekarang banyak yang membenci Soo Mi, bahkan sekarang dia dituduh sengaja menyebarkan gosip itu supaya numpang ketenaran Gi Kwang.

“Kotor sekali!” umpat Ji Yeon, adik sepupuku yang kuanggap sebagai #1 B2UTY karena ngefans berat dengan B2ST.

“Iseul, coba kemari sebentar,” bisik Dong Hoon, temanku yang berbeda fakultas denganku, di kantin kampus. Dia sedang surfing di internet di laptopnya, dan aku disuruh menghampirinya. Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu padaku.

“Apa?”

“Lihat ini,” katanya. Dia membuka situs gosip di sela-sela mencari tugas, di bawah artikel yang dia tunjuk ada rekaman video amatir yang diperoleh situs tersebut dari salah seorang penggemar B2ST di Malaysia.

Di video itu salah seorang penggemar meminta tanda tangan Gi Kwang, mungkin saat Gi Kwang sedang menyempatkan diri untuk jalan-jalan, sementara ada temannya yang merekam.

“Kamsahamnida,” kata penggemar cewek itu. “And Gi Kwang, would you please give my best regards to Kim Iseul? She’s so lovely.”

“Oh, you know her?” tanya Gi Kwang di video itu.

“Yes, she’s badminton player. She’s your girlfriend, isn’t she?”

Aku melihat Gi Kwang tersenyum, lalu menjawab, “Yes, she’s my girlfriend.”

She’s my girlfriend. Dia pacarku. Aku tidak akan percaya ini kalau saja tidak ada video itu di bawah artikelnya.

“Aigoo… Gi Kwang sudah ngaku tuh. Kurang apa lagi, Iseul?” goda Dong Hoon.

Aku tidak bisa menjawab apa-apa, dan mendadak banyak anak-anak lain yang merangsek mendekati Dong Hoon dan berebut ingin melihat video itu. Aku buru-buru pergi dari tempat itu. “Gomawo,” kataku singkat pada Dong Hoon.

“Akhirnya Soo Mi dapat getahnya juga,” kata Hye Sun. “Salahnya sendiri, kenapa tega-teganya menjerumuskan teman sendiri? Bahkan katanya dia melakukan itu supaya terkenal mendadak dan hubunganmu dan Gi Kwang berantakan. Aigoo… ngga habis pikir deh.”

“Menurutmu apa yang salah dari seseorang yang terlalu cinta sama orang lain?” tanyaku tiba-tiba.

Hye Sun tertegun mendengar pertanyaanku. “Terlalu cinta sih ngga salah, yang menurutku salah, orang itu terlalu cinta sampai tega membuat orang lain terluka, atau singkatnya, ngga bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia.”

“Aku bakalan kayak gitu juga ngga?” aku tanya lagi. Sebenarnya aku bertanya ke diriku sendiri.

“Ngga akan.”

“Kok kamu yakin?”

“Aku kenal kamu bertahun-tahun, Iseul. Aku tahu caramu menyayangi orang lain, sampai caramu melepas orang yang yang kamu sayang itu. Kamu bukan tipe orang yang gampang gelap mata.”

Aku menatap Hye Sun. Dia masih sama seperti yang dulu, terlalu memahamiku melebihi diriku sendiri.

***

Aku naik kereta sendirian ke Yongin, ke Everland Resort. Aku tidak berniat melepas stress dengan memainkan wahana-wahana yang ada di sana. Tapi aku juga tidak tahu kenapa aku pergi ke sana.

Aku putar-putar sendirian mengelilingi taman itu. Disinilah aku dan Gi Kwang pergi berdua, kencan pertamaku. Kami kesini sebagai sahabat, masih bersahabat padahal sebelumnya Gi Kwang tahu kalau aku menyukai orang lain.

Sebelum air mataku menetes dan aku malah jadi tontonan orang gara-gara menangis di taman, aku pergi dari Everland. Dari sana aku menuju Bomun Lake, dan beruntungnya aku, saat ini sedang musim semi dan bunga-bunga sakura sedang bermekaran. Aku duduk di bangku dekat sana ketika tiba-tiba saja Soo Mi meneleponku.

“Yobosaeyo?”

“Iseul, ini aku Soo Mi…”

“Aku bisa saja menutup teleponmu, Soo Mi,” kataku. Aku tidak bermaksud menggertak, tapi sampai sekarang aku masih tidak mau bicara dengannya. Meskipun aku juga pernah sekali membelanya saat jadi bulan-bulanan teman-teman di kampus.

“Mianhae,” aku mendengar Soo Mi mulai terisak di seberang sana. “Aku ngga terlalu berharap kamu mau maafin aku, meskipun sebenernya aku juga ingin. Aku ngga sadar kalau aku sampai begini gelap mata. Kamu tahu, kami putus bukan keinginan bersama. Gi Kwang waktu itu emosi, dan aku pikir setelah beberapa minggu kami akan baikan. Ternyata dia ngga pernah kembali. Dan waktu aku tahu kalian ternyata pacaran, aku bener-bener marah. Aku ngerasa penantianku sia-sia.

Mianhae, Iseul. Mianhae karena aku sudah buat kepercayaanmu sama aku hancur. Aku ngga tahu kalau kamu mau berteman denganku, kupikir kamu ngga suka aku karena aku ini mantannya Gi Kwang. Aku rela kamu musuhin aku, aku tahu ini memang hukuman buatku. Tapi kalau suatu saat nanti kamu mau maafin aku, aku bakalan seneng banget. Aku akan selalu nunggu hari di mana kamu mau maafin aku. Gomawo…”

Dan dia menutup teleponnya. Perlahan aku menangis, menangis sendirian di bawah pohon sakura. Sama seperti Soo Mi, aku pun rela kalau Gi Kwang marah padaku hanya karena aku cemburu dengan mantan pacarnya. Ini bukan salah Gi Kwang, akulah yang terlalu egois. Gi Kwang pacar pertamaku dan aku tidak mau melepasnya.

Aku terlalu mencintai Gi Kwang.

***

GI KWANG’S POV

Hari aku kembali ke Seoul. Aneh rasanya kembali ke Seoul tanpa sama sekali menelepon Iseul kalau aku sudah pulang.

“Tumben tidak menelepon Iseul,” tanya Yoseob. Iseul lumayan kenal dengan Yoseob karena mereka pernah sekelas waktu kelas 2 SMA dulu. Doojoon hyung melirikku sesaat, lalu menepuk pundak Yoseob.

“Dasar ketinggalan berita! Iseul kan lagi cedera tangan kanan, mungkin saja dia lagi istirahat atau check up ke dokter.”

“Masa sih? Kasihan dia, kamu ngga jenguk, Gi Kwang?”

“Nanti,” jawabku pendek. Doojoon hyung memang pintar jaga rahasia.

Tiba-tiba dadaku berdesir, mendadak aku merasa ingin sekali ke Bomun. Ngga tahu kenapa, hari ini aku harus ke sana. Sekarang memang musim semi, bunga sakura pasti sedang mekar-mekarnya. Tapi aku merasa bukan itu tujuanku ingin kesana.

“Hyung, aku pinjam mobil ya!”

***

Aku sampai di Bomun menjelang senja dan benar saja, bunga-bunga sakura sedang mekar-mekarnya. Cantik sekali. Aku berjalan ke sekitar Bomun, dalam hati aku ngga tahu apa yang sebenernya kucari di sini. Aku heran kenapa naluriku untuk ke sini kuat sekali.

Aku pernah pergi kesini dengan Iseul, duduk berdua sengaja menunggu sunset. Kami mengobrol banyak hal, dan seperti biasa, ngobrol tentang satu hal ujung-ujungnya malah merembet jadi ngobrol tentang hal lain. Aku pernah dengar kalau orang yang pendiam bisa sangat terbuka dengan orang yang benar-benar membuatnya nyaman. Aku merasa GR saat itu, ternyata Iseul merasa nyaman denganku.

Tapi sekarang? Aku malah terancam kehilangan dia hanya karena satu kesalahan: tidak jujur. Bodoh sekali…

Aku melihat seseorang duduk di bangku, sendirian. Tangan kanannya dibalut gips. Iseul!

Aku menjerit dalam hati memanggil namanya, ngga tahu kenapa suaraku ngga bisa keluar. Apa aku takut dia masih marah? Aku juga ngga bisa jalan ke sana, kakiku mendadak kaku. Apa aku juga takut dia akan pergi lagi?

Iseul, tolong menoleh ke sini!

Apa dia mendengarnya? Mustahil. Ya, mustahil. Tapi entah karena memang mendengar suara dalam hatiku atau memang hanya kebetulan, Iseul menoleh ke arahku.

“Gi Kwang?”

***

Kami menghabiskan sepanjang sore tanpa suara, diam-diaman. Aku bingung apa yang mau kubicarakan, atau kata apa yang lebih cocok diucapkan pertama. Kalau Iseul jadi pendiam, aku maklum. Memang sudah wataknya dari lahir.

Dan matahari itu akhirnya terbenam, masih sama indahnya dengan saat kami kesini setahun lalu. Keadaannya pun masih sama dengan dulu, kami menyaksikannya sambil terdiam.

“Indah ya,” kata Iseul.

“Ternyata matahari masih terbenam di barat.”

“Kalau terbenam di timur, itu artinya kiamat, Gi Kwang.”

“Oh ya, gimana tanganmu?” tanyaku, mengalihkan perhatiannya dari obrolan ngga penting tadi.

“Masih harus pakai gips sampai 2 minggu lagi,” jawabnya lalu tersenyum. Aigoo, kami bertengkar seminggu, tapi saat aku melihatnya tersenyum, sepertinya sudah lewat bertahun-tahun.

“Coba dengar ini,” aku mengeluarkan iPod-ku dan memberikan sebelah headset-ku pada Iseul.

“Ini… Yet?”

Aku mengangguk. Dan selama nyaris 4 menit, kami mendengarkan lagu itu hingga habis.

“Kenapa?” tanya Iseul.

“Aku ngga mau lagu ini bener-bener terjadi di kehidupan kita,” kataku. “Waktu aku menyanyikan lagu ini di Malaysia, mendadak aku merasa takut lagu ini jadi kenyataan kalau aku ngga berusaha mempertahankan kamu…”

“Mianhae,” Iseul memotong kata-kataku. “Aku terlalu cemburuan, egois. Aku ngga peduli dengan perasaanmu. Aku… kaget waktu tahu kalau dia itu mantan pacarmu, apalagi karena aku tahu itu bukan dari kamu, tapi dari orang lain…”

“Aku juga yang salah,” kataku. “Dari awal aku ngga jujur. Kita sudah saling kenal selama 4 tahun tapi aku bahkan ngga bisa cerita kalau aku punya mantan pacar. Aku juga ngga ngerti, tapi… cuma sama kamu aku ngga bisa cerita.”

Aku sama sekali ngga bermaksud gombal. Semoga Iseul tahu itu.

Iseul lalu menceritakan padaku tentang Soo Mi dan semua yang dia dengar dari Soo Mi hingga akhirnya mereka bertengkar. Aku memang sempat dengar tentang rekaman pembicaraan Soo Mi dan teman-temannya yang beredar luas di internet. Aku kesal mendengarnya, ternyata Soo Mi dari dulu ngga pernah berubah. Jujur saja, aku agak merasa senang melihat dia kena batunya kali ini.

Aku sempat mikir, apa Iseul lihat ya video amatir dari salah seorang B2UTY di Malaysia itu, waktu aku dengan spontan mengaku kalau Iseul memang pacarku? Kudengar banyak yang sudah nonton. Tapi nanti saja kutanyakan, masih banyak waktu untuk itu.

“Soo Mi terlalu mencintaimu. Meskipun aku tahu caranya itu kelewatan, tapi aku pikir, hampir semua orang pasti awalnya kaget dan kecewa waktu tahu kalau orang yang dia cinta ternyata sudah pergi dengan orang lain. Sebagian orang memilih untuk mundur teratur dan belajar melupakan, sebagiannya lagi masih belum percaya kalau orang itu sudah melupakan dia. Dan menurutku, Soo Mi termasuk orang yang kedua itu,” kata Iseul.

Masih seperti dulu, Iseul masih terlalu peduli dengan orang lain, ngga peduli orang itu sudah menyakiti dia.

“Sudahlah, ngga usah diingat-ingat lagi,” kataku. Iseul diam. Kami diam lagi selama beberapa menit.

“Iseul,” panggilku.

“Apa?”

“Ayo kita berciuman.”

Iseul menoleh mendadak, aku sampai khawatir, takut-takut dia malah salah urat. Sepertinya dia kaget dengan ucapanku yang ngajak ciuman seperti ngajak jogging bareng.

“Maksud… nya?”

Aku tidak menjawab. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya… Tapi saat jarak kami hanya dibatasi hidung, Iseul tiba-tiba mendengus keras dan tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa sih?” tanyaku kesal. Jiwa romantisku mendadak hilang.

“Mianhae… mianhae…” Iseul tertawa memeluk tangan kanannya yang digips sampai nyaris menangis. “Aku ngga tahan… Mukamu aneh kalau dilihat dari dekat…”

Aiish, apa-apaan itu? dengusku kesal. Ini juga kebiasaan jelek Iseul, saking polosnya, dia susah diajak romantis. Iseul berkali-kali minta maaf padaku sambil terus tertawa.

“Ngga apa-apa deh, yang penting kamu tertawa,” kataku setengah kesal, setelah tawa Iseul mereda.

“Memang kenapa kalau aku tertawa?” Iseul menyeka air matanya.

“Soalnya,” aku bersandar dan menatap langit. “Kamu jadi kelihatan cantik.”

Beberapa saat aku tidak mendengar suara Iseul.

“Gi Kwang,” panggilnya.

“Apa?”

“Lihat sini.”

Aku menoleh. “Apa?”

Iseul menciumku. Selama beberapa detik aku hanya bengong, hanya merasa kalau ada sesuatu nempel di bibirku. Lalu otakku mendadak bekerja. Dasar bodoh! Dicium malah bengong, cepat balas!

Aku memeluk pinggangnya, menariknya ke pelukanku. Aku tidak mau membiarkan Iseul melupakan ciuman pertamanya ini.

Aku baru sadar kalau kami sudah lama berciuman saat Iseul mendorongku pelan dengan wajah memerah tomat. Dia lalu menatapku, kali ini mata Iseul bersinar indah. Apa dia memang secantik ini? Apa ungkapan ‘seorang wanita terlihat cantik ketika dia sedang jatuh cinta’ itu memang benar?

“I’m not beautiful,” bisiknya pelan. “But I’m B2UTY.”

“No, you’re beautiful,” balasku. “And you’re my B2UTY.”

Iseul menatapku dengan campuran antara terkejut dan terharu. “Kamu…”

Oh, apa dia terpesona dengan kata-kataku tadi? Apa dia tersanjung, terharu, atau sebentar lagi malah menangis saking terharunya? Mungkin aku bisa mencium dia sekali lagi, sebelum dia sempat mengeluarkan air mata, aku terkekeh GR dalam hati.

Iseul seperti kehabisan kata-kata, aku pura-pura menunggunya bicara sambil mengelus rambutnya. Aku cengengesan GR dan sudah menyiapkan bibirku ketika tiba-tiba dia bilang,

“Kamu habis belajar bahasa Inggris di English Village ya?” tanyanya polos.

Gubrak!

 

***THE END***

21 thoughts on “[Honey Dew’s After Story] A Jealous Kim Iseul

  1. Aiko_247 says:

    Ya ampun Iseul..
    kamu itu t’lalu polos atw bloon shi??
    Hadeh..
    Keren deh cerita’a.. jdi senyum2 sendiri..
    Author Daebak!!!
    Btw, FYIFM’a donk, onn… kangen nih T^T

  2. Lixiu Park says:

    hahaha, ngakak ngebayangin Junhyung *bener ga sih namanya?? namanya susah sih..* tidur sambil nge-rap.
    wah, lagi-lagi saya dibuat cengir-cengir kaya orang lepas dari RSJ stelah baca cerita author. ortu ampe ngomel gara2 ngeliat aku ketawa sendiri.
    daebak author!~😀
    kangen sama for you in full massem-nya, kekeke..

  3. amelee says:

    naluri kebapakannya doojoon keluar hahaha *loh?*
    iseul kelewat polos, kikwang kelewat ge-er, giseul emang kadang bikin ngakak😄
    sekali lg, aku seneng baca fic ini keke X3

  4. SoieWoo says:

    kekekekekeke bagus banget ff nya … author aku boleh gak ngeposting FF author yg For You In Full Masem ke grup ff facebook ku?? kalau boleh nanti saya post tp nma pembuatnya dan ide cerita nya akan tetep sma …..

    • v3aprilia says:

      Hmmm… setelah diadakan rapat dadakan antara author Fitri Aprilia Reeves dan Lia Metrika Lusiana, diputuskan bahwa SoieWoo-ssi diberikan izin untuk mem-posting FF For You In Full Masem dengan memenuhi syarat-syarat seperti disebut dibawah ini:
      1. Tidak mengubah alur cerita, se-geje apapun ceritanya.
      2. Tidak mengubah nama author, yaitu Fitri Aprilia Reeves dan Lia Metrika Lusiana (eh, add FB kita berdua juga ya :p)
      3. Para readers nanti dihimbau untuk menjadi good reader, dengan menerapkan RLC (Read, Like, Comment)

      Demikianlah surat keputusan yang telah disusun secara mendadak pagi ini. Terima kasih.

      • SoieWoo says:

        gomawo😀 … tentu saja alur nya gak diganti .. kan alur nya udh bagus dan nama author nya gak mungkin aku rubah. itu nama nya plagiat donk …

  5. SoieWoo says:

    unnie skalian yang SP nya gpp kan? oh iya ini nama fb aku . Lintang Novia Tsara . kalau email nya lintangnovth@gmail.com . klau nma grupku di fb FF NC SUJU,SHINEE,SNSD,B2ST …..nah aku postingin ff nya disitu .. kalau mau liat2 silahkan eonnie😀 … eonnie author favoriteku😀

    • v3aprilia says:

      Ah, gomawo dibilang author favorit… *benturin kepala ke tembok*
      Iya, boleh aja. Maksudnya semua FF di blog ini atau yg di FFIndo juga? Hmm, boleh deh, kalo bisa link FF-nya juga dicantumin ya

  6. SoieWoo says:

    eonnie mau blng skali gy … smua fanfic nya eonnie boleh aku postingin di grup fbku gak?? kalau boleh aku postingin sekalian ….. eonnie author favoritku … kapan2 buat FF Masem versi aku ya eonn😀 *ngarep banget

  7. fiqih says:

    ternyata ada sekuelnya ini ff
    kikwang masya allah ngajak cewek ciuman kaya ngajak temen main deh -_____-
    iseul sama polosnya dengan iseul di FYIFM hahaha
    oh iya, pas baca adegan iseul nyium kikwang kok rasanya familiar gitu . eh baru inget, itu adegan kan ada juga di FYIFM . waktu iseul di rumah kikwang . ya kan ?😀
    meskipun komedi, tapi kata-katanya bagus . nice ff eon ^^

  8. Kim HyeJin(SuShi)Jeeya says:

    bwahahahaahah. .Gikwang kenapa disini babo bener, narsis pula wkakaka. .
    apalagi wktu dia blng .Jiwa romantisku mendadak hilang. BAHHH apaan tuh jiwa romantis?? ngakak dah onn. .
    kirain bakal romantis” gtu. .tapi Gikwang romantis menjurus ke babo. .aigo aigo kocak. .
    wahh kyanya rohx Onew masih nyangkut di.Gikwang, jadi gmpng ke-GR an gtu. .jdi inget for yu in full masem kekekekek

    tapi emg ya klo udah nyangkut urusan cinta itu rumit. .
    mirip kaya kolorx Junhyung yg bntukx abstrak*apa hubunganx, cinta ama kolorx Junhyung??*

  9. LaKwang~ says:

    jujur aja thor..
    aku sebenernya cemburu sama Iseul, soalnya aku terlallu cinta sama Gi Kwang..
    *peace*
    hahhahahahah😀 critanya bagus kok!!^^
    Gi Kwang kayak gitu juga ga ya disana?
    tapi yg bikin ngakak tu yg pas ngajak ciuman kayak ngajak jogging bareng..sumpe, ngakak!!!!!
    wkwkwkwkwk…

  10. beeVIP says:

    hahahaha ending yg bikin g percaya ini ff romantis…
    daebak author…mian Q reader baru n beberapa minggu lalu baru namatin honey dew..
    kekekeke ff yg keren abis…^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s