[oneshoot] Love Tears

PS: FF ini sudah di-post di FFIndo :)

Jang Geurim’s PoV

“Darimana saja kau?” tanyaku pada bocah kecil di depanku ini, Hyunseung. Saat ini hari sudah beranjak senja dan dia baru pulang dari sekolah. Tak pernah sebelumnya dia pergi main tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.

Tapi Hyunseung hanya diam. Wajahnya sembap seperti habis menangis. Dia hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaanku sama sekali. Aku mencoba untuk menahan marahku. Aku berjongkok dan mengelus rambutnya.

“Kenapa?” tanyaku. “Siapa lagi yang mengganggumu kali ini?”

“Geurim omma,” kata Hyunseung. “Yatim piatu itu apa?”

Deg! Aku tertegun mendengar pertanyaannya.

“Siapa yang mengatakan itu?” tanyaku.

“Junhyung,” jawab Hyunseung. “Dia dan Doojoon tadi mengejekku anak yatim piatu, dan mereka bilang anak yatim piatu tidak boleh main dengan mereka. Aku sedih sekali, tapi aku tidak tahu kenapa mereka mengejekku yatim piatu.”

Emosiku memuncak dengan drastic. Mereka lagi! Aku sontak berdiri dan melangkah ke pintu. “Jangan kemana-mana,” kataku pada Hyunseung.

Aku turun ke apartemen bawah menuju tempat tinggal Doojoon dan Junhyung, dua kakak-beradik yang selalu mengganggu Hyunseung. Aku sudah muak melihat Hyunseung selalu diejek oleh bocah-bocah itu. sesampainya disana, aku mengetuk pintu rumah mereka dan dibuka oleh ibu kedua anak itu.

“Ah, Geurim-ssi, ada apa?” tanya ibu itu.

“Doojoon dan Junhyung mengganggu Hyunseung lagi,” kataku tanpa basa basi.

Ibu Junhyung dan Doojoon menghela napas kesal dan berkacak pinggang. Aku tahu, dia bukan kesal dengan ulah anak-anaknya, tapi kesal karena aku selalu datang padanya dengan keluhan yang sama.

“Mereka mengatai Hyunseung yatim-piatu,” kataku lagi.

“Daripada kau repot-repot kemari, bukankah lebih baik kau nasihati keponakanmu itu supaya tidak jadi anak lemah yang bisanya hanya mengadu?” kata ibu itu. “Lagipula yang dikatakan anak-anakku benar kan, nyatanya Hyunseung memang…”

“Kau pikir itu keinginannya?!” seruku. “Kau pikir yatim-piatu itu sama saja dengan sampah? Kau memang benar-benar mirip dengan kedua anakmu!”

Tidak peduli dengan teriakan ibu itu, aku kembali ke lantai atas. Sampai di rumah, ternyata Hyunseung masih menungguku tanpa mengganti seragam sekolahnya.

“Geurim omma…”

“Ganti bajumu,” kataku singkat, dan Hyunseung langsung beranjak ke kamarnya. Aku menutup pintu depan dan berjalan ke ruang tamu, mendekati buffet dan menatap foto lamaku dengan kakakku dan istrinya, Jung Iseul.

Perlahan air mataku menetes. “Kenapa…” isakku. “Kenapa kalian pergi meninggalkanku?”

***

Author’s PoV

Flash back…

Jang Hyunseung hanya memiliki Geurim, adik perempuannya, sebagai satu-satunya keluarga yang dia punya, setelah kedua orangtua mereka meninggal beberapa waktu yang lalu. Hyunseung sebagai anak tertua saat itu juga menjadi kakak sekaligus orangtua bagi Geurim, kepala keluarga yang mencari nafkah. Karena itu, setelah lulus SMA, dia memilih tidak melanjutkan ke bangku kuliah dan bekerja keras demi membiayai sekolah adiknya. Tidak masalah baginya kalau tidak bisa melanjutkan sekolahnya, yang penting adiknya bisa lulus sekolah dan kuliah. Dia selalu ingin melihat Geurim menjadi orang yang sukses, seperti yang dulu pernah diamanatkan kedua orangtuanya dulu.

Geurim, bukannya tidak tahu kalau kakaknya bekerja keras demi dia. Dia membantu meringankan beban Hyunseung, dengan bekerja sambilan di café sepulang sekolah. Geurim sebetulnya tidak tega melihat kakaknya bekerja terlalu keras, dia tahu kalau sebenarnya Hyunseung menderita kelainan jantung lemah sejak kecil, dan penyakitnya itu membuatnya tidak boleh bekerja di luar batas kemampuan tubuhnya.

“Tidak usah terlalu mengkhawatirkanku. Fokus saja dengan sekolahmu dan biarkan aku membantu membiayainya semampuku,” selalu itu yang dikatakan Hyunseung tiap kali Geurim terlihat khawatir ketika melihatnya pulang dengan wajah sangat pucat.

Hyunseung, namja yang pendiam. Tak banyak kata-kata keluar dari bibirnya. Tak pernah bisa ditebak apa yang bisa membuatnya bahagia. Selalu itu yang dipikirkan Geurim, adiknya. Geurim sangat ingin tahu apa yang paling membuat kakaknya bahagia, tersenyum atau tertawa. Apa yang bisa dilakukannya? Mendapat nilai bagus di sekolah? Beasiswa? Gaji di awal bulan? Semuanya biasa saja.

Hati Geurim tak letih melantunkan doa. Tuhan, tunjukkan padaku apa yang bisa membuat oppa bahagia.

***

“Geurim, kenalkan yeojachinguku, Jung Iseul.”

Sesosok yeoja cantik berdiri di samping Hyunseung, membungkuk pada Geurim, dan tersenyum kearahnya. Iseul, embun madu, nama yang manis, semanis yang memiliki nama itu. Geurim menyambut calon kakak iparnya ini dengan ramah, dan sebentar saja mereka sudah menjadi sahabat akrab.

Hingga akhirnya beberapa bulan setelah Hyunseung mengenalkan Iseul pada Geurim, dia mengajak adiknya pergi ke pinggir Sungai Han.

“Aku sudah melamar Iseul.”

Geurim memekik kaget dan dia refleks memeluk kakaknya dengan bahagia.

“Benarkah? Kalian akan menikah?”

Hyunseung mengangguk, dan oh, dia tersenyum manis sekali, hal yang jarang bisa dilihat Geurim dari namja pendiam yang sangat dia sayangi ini. Doanya terkabul, tTuhan akhirnya menunjukkan padanya, apa yang bisa membuat Hyunseung bahagia, yaitu Iseul.

Hari-hari mereka selanjutnya berlangsung bahagia. Hyunseung tinggal serumah dengan istrinya dan Geurim. Iseul, yeoja yang periang dan ramah. Dia selalu mengatakan pada Hyunseung dan Geurim tentang impiannya untuk memiliki toko kue sendiri. Iseul bahkan sudah menentukan lokasi tokonya, dekorasi, bahkan kue-kue yang akan dia buat.

“Menurutmu apa aku bisa mewujudkannya?” tanya Iseul.

“Pasti, pasti bisa,” jawab Hyunseung. Hanya dengan kalimat singkat itu, Iseul bersemangat untuk mewujudkan mimpinya.

Kebahagiaan mereka semakin bertambah ketika enam bulan kemudian, Iseul memberikan kejutan yang sangat manis, dia tengah mengandung 1 bulan. Untuk pertama kalinya, Geurim melihat Hyunseung berteriak kegirangan dan memeluk erat istrinya. Tak pernah sebelumnya dia melihat kakaknya segembira itu. Wajah pucat Hyunseung yang kelelahan seketika berubah cerah, dan Geurim diam-diam menangis bahagia melihat sepasang suami-istri ini. Iseul yang hamil, tapi Geurim merasa seperti dialah yeoja paling bahagia di dunia.

***

“Aku ingin memberikan kejutan untukmu,” kata Hyunseung pada Iseul, sesaat sebelum dia berangkat kerja.

Iseul menatap suaminya heran. Kejutan? Kejutan apa yang ingin diberikan Hyunseung padanya?

“Tunggulah, nanti siang akan dikirim ke rumah,” kata Hyunseung lagi. Dia hanya tersenyum melihat Iseul yang kebingungan. Dia mencium istrinya, lebih lama dari biasanya, lalu beranjak keluar. Sesaat sebelum melangkah keluar rumah, dia berbalik sebentar dan tersenyum melihat istrinya, lalu pergi.

Iseul termangu di rumah. Hyunseung bukan tipe orang yang suka membuat kejutan, dan keadaan keuangan mereka tidak memungkinkan untuk memberikan kejutan. Kejutan terakhir justru diberikan Iseul pada suaminya, yaitu ketika dia memberitahu Hyunseung kalau dia hamil. Selebihnya, tak ada.

“Onnie, ada kiriman,” panggil Geurim. Iseul berjalan keluar kamar dan tercengang melihat satu buah box bayi ditaruh di ruang depan.

“Hyunseung oppa yang membelinya!” kata Geurim ceria. Iseul hanya mengangguk ketika dua orang yang membawa box bayi itu meminta ijin untuk membawanya masuk ke kamar. Dia terlalu kaget untuk bisa berbicara. Inikah yang dimaksud Hyunseung sebagai kejutan?

Iseul menggenggam handphone-nya, ingin sekali menelepon suaminya sekarang. Tapi beberapa kali dia menelepon, Hyunseung tidak mengangkat. Ah, mungkin dia sedang sibuk. Hati Iseul terlalu bahagia sehingga dia sama sekali tidak curiga kenapa Hyunseung tidak menangkat teleponnya. Dan sepanjang hari itu, dia mondar mandir di kamar, mengelus box bayi hadiah kejutan yang sangat manis dari suaminya.

***

Malam hari, telepon di rumah bordering.

“Yobosaeyo?” kata Iseul.

“Selamat malam, apa Anda keluarga dari Jang Hyunseung?” tanya seseorang di seberang telepon.

“Ya, saya istrinya,” jawab Iseul.

“Bisakah Anda ke rumah sakit sekarang? Suami anda ditemukan pingsan di tempat kerja saat jam pulang.”

Iseul seketika menangis mendengar berita buruk itu. Dia dan Geurim bergegas ke rumah sakit, Iseul tidak peduli dengan kondisinya yang sedang mengandung 5 bulan, dia segera masuk ke ruang ICU. Disana dia melihat dengan jelas, Hyunseung terbaring lemah, salah seorang dokter menekan-nekan dadanya dan dokter yang lain sudah menyiapkan defribillator.

“Apa yang terjadi dengannya? Ada apa dengan suami saya?” seru Iseul, dia menarik-narik baju siapapun yang berdiri disebelah Hyunseung.

“Tenang, Nyonya. Kami akan berusaha menolong suami Anda,” kata dokter itu. Geurim memeluk Iseul dan mengajaknya menjauh. Iseul menangis.

Geurim menyaksikan sendiri tubuh kakaknya yang terlonjak setelah ditempelkan defribillator, tapi setelah itu kembali terjatuh ke tempat tidur, tak bergerak. Berulang kali seperti itu. Iseul membenamkan wajahnya ke bahu Geurim, kedua yeoja itu menangis sementara dokter berusaha keras menolong Hyunseung.

Salah satu dokter yang memegang alat pacu jantung itu menghela napas, bahunya merosot. Dia menoleh ke rekan di sebelahnya, lalu menggeleng.

“Umumkan kematiannya, tanggal 24 Mei pukul 22.32.”

“Tidak!” seru Iseul, dia berlari mendekati Hyunseung dan mengguncang-guncang tubuh suaminya. “Tidak, dia belum meninggal! Dia belum meninggal! Seungie, bangun! Kumohon bangun!”

Iseul memukul-mukul dada suaminya dengan panik. “Bangun! Aku mohon bangun!”

“Tolong nyalakan alatnya, aku mohon! Dia pasti masih bisa diselamatkan!” Iseul berteriak kearah dokter yang berdiri di sebelahnya. “Tolong! Nyalakan alatnya!”

“Maafkan kami, kami sudah berusaha menolong suami Anda…” kata dokter itu.

“Jangan bilang minta maaf! Kau belum berusaha! Nyalakan lagi alatnya! Nyalakan!” teriak Iseul.

“Onnie… tolong jangan begini…” isak Geurim. Rohnya seperti tercabut dari raganya melihat kenyataan yang pahit ini.

“Tidak! Suamiku masih bisa diselamatkan! Aku mohon nyalakan lagi alatnya!” ratap Iseul. Dia kembali memukul-mukul dada Hyunseung. “Bangun, Seungie! Kumohon bangun sekarang!”

Geurim dan salah seorang suster menarik Iseul menjauhi Hyunseung, Iseul histeris menolak dan ingin terus berada di samping suaminya.

“Jangan  berhenti, kumohon! Tolong dia! Tolong dia!” teriak Iseul.

Iseul pingsan setelah melihat tubuh Hyunseung akhirnya ditutup kain putih…

***

Iseul mengelus box bayi di depannya, pandangannya hampa. Perasaannya saat menatap box bayi itu sudah sama sekali berbeda daripada saat pertama kali dia melihatnya. Tak ada Hyunseung di sampingnya yang mendengarkan semua cerita bahagianya, tak ada Hyunseung yang setia menemaninya. Tak ada lagi senyuman manis milik seorang namja pendiam yang menyapanya tiap pagi. Semua sudah pergi…

“Onnie?” panggil Geurim. Iseul tidak menoleh, tetap menatap box bayi itu. Geurim berjalan mendekati Iseul dan duduk di sebelahnya.

“Onnie, ayo makan,” bujuk Geurim. Iseul tidak beranjak.

“Onnie, kumohon jangan menyiksa dirimu seperti ini. Kau sedang hamil, kasihan bayimu,” kata Geurim lagi. Dia sangat sedih melihat wajah Iseul yang pucat dan matanya yang bengkak. Geurim memang sedang berduka tapi Iseul jauh lebih berduka. Dia tidak pernah menyangka kalau ciuman dan senyum Hyunseung di depan pintu itu adalah ucapan selamat tinggal untuknya.

“Onnie…” panggil Geurim lagi.

“Aku akan menamai anak ini Hyunseung,” kata Iseul, dia menyentuh kandungannya. “Aku akan setia menunggu sampai dia datang menjemputku.”

***

Geurim berjalan mondar mandir di depan ruang persalinan, dia meremas kedua tangannya dengan cemas, mendengar erangan kesakitan Iseul di dalam sana. Berulang kali dia berdoa supaya Iseul dan anaknya selamat.

“Aku akan menamai anak ini Hyunseung. Aku akan setia menunggu sampai dia datang menjemputku.”

Iseul sama sekali tidak mengeluh kesakitan ketika kontraksi, meskipun keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, wajahnya tetap tenang, damai. Dia hanya tersenyum pada Geurim sesaat sebelum dia memasuki ruang persalinan.

Apa maksud senyumannya? batin Geurim. Tuhan, tolong jangan membuatku berpikiran buruk…

Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi di dalam ruangan. Geurim mengucap syukur berkali-kali. Tapi dokter tidak langsung keluar untuk memberitakan berita kelahiran itu. selama setengah jam Geurim hanya mendengar suara tangis bayi.

Setengah jam kemudian, dokter keluar.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Geurim.

“Selamat, bayinya laki-laki,” kata dokter itu.

Senyum Geurim merekah. “Lalu ibunya? Bagaimana keadaan ibunya?”

Wajah dokter itu mengkeruh. Dada Geurim berdebar kencang.

“Dia mengalami pendarahan hebat. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi…”

Geurim terduduk lemas di lantai, lalu menangis. Iseul melakukan apa yang dia katakan, dia pergi menyusul Hyunseung…

***

End of flash back…

Jang Geurim’s PoV

Aku berdiri di depan makam ini, Hyunseung dan Iseul, dua orang yang paling aku sayangi lebih dari diriku sendiri. Dua orang yang pergi meninggalkan dunia setelah sedikit merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang paling besar yang pernah kami bertiga rasakan. Aku mengelus batu nisan kakakku. Sudah enam tahun berlalu sejak dia dan Iseul onnie meninggal, tapi aku selalu merasa kalau baru kemarin mereka meninggalkanku dan aku masih terjebak dengan perasaan tidak percaya kalau secepat itu mereka pergi meninggalkanku dan putra mereka, Hyunseung.

Selama ini aku selalu berusaha menyembunyikan perasaan sedihku di depan Hyunseung yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Aku tidak mau dia melihat bibinya menangis atau dia juga akan ikut menangis.

Tiba-tiba saja Hyunseung sudah berdiri di sebelahku dan menaruh bunga anggrek putih masing-masing di makam ayah dan ibunya. Aku segera menghapus air mataku.

“Dimana kau mendapatkannya?” tanyaku pada Hyunseung.

“Disana,” Hyunseung menunjuk suatu tempat tapi aku sama sekali tidak berniat melihatnya. Aku mengelus kepala Hyunseung pelan. Ya Tuhan, Hyunseung benar-benar mirip dengan ayahnya. Wajahnya, matanya, hidungnya, dan dia memiliki senyum yang sama seperti ibunya.

“Kenapa nama Appa dan Omma ditulis disini?” tanya Hyunseung polos. “Siapa yang membuatnya?”

“Geurim omma yang membuatnya,” jawabku.

“Kenapa namaku dan nama Geurim omma tidak ada?” tanya Hyunseung lagi.

“Belum sekarang, sayang. Masih lama,” jawabku. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kukatakan demi memuaskan keingintahuannya. Dia terlalu muda untuk menyadari kalau orangtuanya tidak berada disisinya lagi.

“Lalu, kenapa Appa dan Omma pergi lama sekali? Mereka kemana sih?” tanya Hyunseung lagi. “Mereka jalan-jalan ya? Kenapa tidak mengajakku?”

“Mereka… pergi ke tempat yang jauh, dan kau masih terlalu kecil untuk pergi ke sana. Geurim omma juga belum bisa pergi kesana,” jawabku.

“Tapi aku merindukan Appa dan Omma,” rengek Hyunseung. “Aku ingin menceritakan banyak hal pada Omma, aku ingin melihat wajah Appa supaya bisa kugambar dan kutempel di kamar.”

“Kalau kau merindukan mereka, kau katakan dalam hati, ‘Appa, Omma, aku merindukan kalian’, lalu pandangi langit saat malam hari. Kalau kau melihat ada dua bintang yang berkerlip, itu artinya Appa dan Omma mendengarmu dan mereka juga merindukanmu.”

Mata Hyunseung berbinar takjub. “Benarkah?”

Aku mengangguk. Aku selalu mendengar dongeng ibuku dulu dan aku selalu percaya, kalau roh orang baik akan terbang ke langit dan berubah menjadi bintang, bintang yang paling terang di langit.

***THE END***

 

4 thoughts on “[oneshoot] Love Tears

  1. fiqih says:

    hampir nangis bacanya T.T
    ngga terlalu panjang, tapi feelnya dapet .
    nice ff eon ! mau ngelike tapi gapunya wp -,-

  2. aiiaiifa says:

    huaaaa.. sediihnya, aku udah mau nagis bacanya T.T

    walaupun ngga terlalau panjang dan aku sempet rada bingung waktu baca bagian awal tapi akhirnya aku ngerti.. feel nya dapet banget…. nice ff :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s