Honey Dew Part 6 of 6



Malam minggu ini aku menginap di rumah adik sepupuku, Jiyeon. Dia dan orang tuanya tinggal serumah dengan nenekku. Nenekku sangat ingin bertemu denganku sejak dia menonton final Uber Cup di TV (kabarnya, nenekku mendadak histeris saat melihatku di TV), tapi karena minggu ini kesehatannya menurun, akhirnya akulah yang pergi ke rumahnya.

Malam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suasana rumah sudah sepi. Paman, bibi, dan nenekku sudah tidur. Jiyeon mengajakku ke ruang tamu untuk mengobrol. Katanya dia tidak bisa tidur.

“Kalau bisa sampai pagi,” katanya lalu terkekeh.

Kami mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari sekolah hingga ceritaku saat final Uber Cup. Jiyeon yang juga mengidolakan Yong Dae oppa mengaku kecewa tidak bisa melihat pemain favoritnya di Thomas Cup.

“Kalau saja dia ikut, mungkin tim Thomas juga akan melawan China di partai final,” katanya. Aku tertawa.

“Oiya, onnie, katanya onnie dulu satu sekolah dengan Gi Kwang oppa dan Yo Seob oppa ya?” tanyanya. Aku tahu dia pasti akan menanyakan itu, karena dia penggemar B2ST. Aku melihat posternya dalam ukuran besar nyaris menutupi pintu kamarnya.

Aku mengangguk. “Kami pernah sekelas. Kelas satu dengan Gi Kwang, lalu kelas dua dengan Yo Seob.”

Mata Jiyeon berbinar. “Aigoo, benarkah? Bagaimana mereka di kelas?”

“Gi Kwang menyenangkan, dia baik pada semua orang. Yo Seob juga lucu,” kataku. Aku bercerita beberapa hal tentang Gi Kwang dan Yo Seob saat SMA dulu. Jiyeon sangat menyimaknya.

“Senang sekali bisa sekelas dengan mereka…” katanya menatapku iri.

“Aku juga tidak tahu kalau mereka bisa jadi artis seperti sekarang,” kataku.

“Onnie.”

“Ya?”

“Onnie tahu acara B2ST Almighty?”

Aku mengangguk.

“Aku kirim surat ke sana.”

Aku terkejut. “Benarkah? Kau minta apa pada mereka?”

“Aku minta supaya Yo Seob oppa mengantarkan CD terbaru B2ST ke depan pintu rumahku, lalu ketika aku membuka pintu, dia langsung menyanyikan lagu Take Care Of My Girlfriend.”

Aku tertawa tertahan. “Aigoo, manis sekali. Kau suka dengan Yo Seob ya?”

Dia mengangguk malu-malu. “Tapi sampai sekarang tidak ada kabar.”

“Mungkin belum…” aku berusaha menghiburnya. Aku tiba-tiba merasa haus setelah mengobrol lama dengan Jiyeon.

“Aku ke dapur dulu,” kataku. Tapi saat berjalan ke dapur, tiba-tiba bel rumah berbunyi.

“Aku yang buka,” kata Jiyeon. Di dapur, aku mendadak parno. Bagaimana kalau itu orang jahat, perampok? Tapi mana ada perampok bilang permisi pada tuan rumah?

Saat sedang minum, aku mendengar suara cowok sedang menyanyi, lalu suara Jiyeon yang terkejut. Aku buru-buru berlari ke pintu depan.

“Jiyeon!” seruku. “Ada apa?”

Mendadak aliran darahku seperti beku saat melihat tamu yang datang malam itu.

***

“Iseul?”

Aku terpaku.

“Itu Kim Iseul?”

“Iseul!”

Aku bengong. Rasanya aku mendadak terkena katarak. Mana mungkin tiba-tiba semua member B2ST berdiri di depan rumah sepupuku? Gi Kwang yang berdiri di belakang Jun Hyung oppa terpaku menatapku.

“Onnie, mereka benar-benar datang!” Jiyeon menarik tanganku mendekati mereka. Aku masih tidak bisa bicara apa-apa.

“Iseul, kau tinggal disini?” tanya Yo Seob ceria. “Kalian saudara ya?”

“Dia kakak sepupuku,” jawab Jiyeon. “Onnie, katanya kau satu sekolah dengan Gi Kwang oppa dan Yo Seob oppa, kenapa tidak disapa?”

Doo Joon oppa tertawa. “Aduh, ini benar-benar di luar dugaan. Kita bertemu dengan Kim Iseul!” dia menyalamiku erat. “Terima kasih sudah membawa Piala Uber ke Korea!”

Semua member B2ST dan kru B2ST Almighty bertepuk tangan. Aku masih merasa akan limbung.

“Hei, Gi Kwang, apa-apaan kau ngumpet begitu? Katakan sesuatu!” seru Jun Hyung oppa. Gi Kwang didorong maju, dia tertawa salah tingkah.

“Annyeong…” katanya kikuk. Semua orang yang ada disana tertawa. Yo Seob paling semangat menertawakan Gi Kwang. “Babo!” katanya.

“Aku tidak tahu kalau dia ada disini,” kata Gi Kwang masih salah tingkah. Salah satu kru B2ST Almighty−yang belakangan baru aku tahu kalau dia adalah manajer B2ST−maju dan menyalamiku.

“Aku mengidolakanmu sejak Uber Cup,” katanya. Aku membungkuk mengucapkan terima kasih. Anak-anak lain tepuk tangan.

“Hei, jangan terlalu ribut!”

“Oiya, karena kami sangat senang sekaligus bangga bisa bertemu dengan Kim Iseul disini, dan karena Kim Iseul sudah berjuang membawa nama Korea bersama timnas, hari ini Iseul boleh meminta satu permohonan juga,” kata Doo Joon oppa.

“Iya, benar. Minta saja sesuatu, Iseul!” kata Yo Seob.

Aku ragu. Aku memang punya permintaan, tapi apa mungkin dikabulkan? Aku menatap Gi Kwang.

“Silakan, permintaan apapun juga boleh,” katanya.

Aku menghela napas. “Aku mengidolakan Gi Kwang,” kataku. Gi Kwang melotot. Member B2ST ramai menyoraki Gi Kwang. “Kalau boleh, aku ingin ngobrol berdua dengannya. Meskipun hanya lima menit.”

“Tanpa kamera?” tanya Gi Kwang. Semua orang menoleh ke arahnya.

Aku mengangkat bahu. “Kalau boleh.”

“Dikabulkan!” seru Doo Joon oppa. Semua orang tepuk tangan. “Berapa lama?”

“Lima menit terlalu singkat,” kata Dong Woon. Yang lain mengangguk setuju.

“Limabelas menit, deh,” kata Yo Seob.

“Baik, limabelas menit. Lebih dari itu, kami akan susul kalian,” kata Doo Joon oppa. Yang lain tertawa.

“Onnie, pakai jaket,” Jiyeon melepas jaketnya dan memberikan padaku.

“Gi Kwang, pegang dong tangannya,” ledek Hyun Seung oppa. Aku ingin menutup mukaku saking malunya. Gi Kwang tertawa salah tingkah.

***

“Aku benar-benar tidak tahu kalau kau tinggal di sana,” kata Gi Kwang. Saat ini kami berada di atap apartemen.

“Aku juga tidak tahu kalau kalian bertamu ke rumah sepupuku,” balasku. Kami tertawa. “Aku di sini hanya menginap.”

“Oiya, kenapa Yong Dae hyung tidak ikut?” tanyanya.

“Dia cedera,” kataku.

“Lalu setelah Uber Cup, apa rencanamu?” tanyanya lagi.

“Sebentar lagi ada Indonesian Super Series dan Singapura Super Series. Tapi Yong Dae sunbaenim juga tidak ikut kedua turnamen itu,” aku menatap Gi Kwang. “Kau mau belajar jadi wartawan? Sekalian saja kau tanya bagaimana perasaanku setelah jadi juara.”

Kami tertawa bersama. Kami memang jarang bertemu, dan ketika aku tertawa bersamanya saat ini, aku merasa seperti kami dipertemukan dari tempat yang sangat jauh. Rasanya baru kemarin kami berkenalan saat pertama kali duduk sebangku.

“Kau tahu, saat kami menang, aku merasakan ayahku tersenyum padaku,” kataku.

“Benarkah? Itu manis sekali,” katanya. “Ayahmu tentu bangga denganmu.”

Aku kemudian menceritakan pertemuanku dengan pria tua di kereta beberapa hari yang lalu. Aku menceritakan semua obrolanku dengan paman itu, termasuk perasaanku yang waktu itu mengatakan kalau aku seperti melihat ayahku dalam diri paman itu. Gi Kwang memperhatikan ceritaku.

“Entahlah, terkadang perasaan cinta kita kepada seseorang membuat kita merasa kalau dia selalu ada di sekitar kita, bahkan ketika kita dan orang itu terpisah jarak yang sangat jauh. Siapa yang tahu kalau pria itu mengutarakan kata-kata yang sebenarnya juga sangat ingin dikatakan ayahmu kalau seandainya saja dia masih hidup?” katanya.

Aku terpana mendengar kata-katanya. Tiba-tiba aku teringat dengan So Eun.

Cinta tidak bisa menunggu, Iseul.

Aku menghela napas. “Gi Kwang.”

“Ya?”

“Yang mana menurutmu paling penting, bernapas atau mencintai seseorang?”

Gi Kwang menatapku lama. Dia tersenyum. “Kau ini mau jawaban yang jujur kan?”

“Iya.”

“Tentu saja aku lebih memilih bernapas.”

Tenggorokanku seperti tercekat. Ya, aku tahu itu. Manusia bodoh mana yang lebih memilih mencintai seseorang daripada bernapas? Khususnya Gi Kwang, dia bukan orang bodoh yang mempertahankan cintanya pada orang yang jelas-jelas sudah menolaknya.

“Tapi untukmu, ketika aku lebih memilih bernapas, itu artinya aku akan menggunakan setiap hembusan napasku untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’.”

Aku mendongak. Siapa yang berbicara itu? Dengan tolol aku mengira ada orang lain yang ada di atap selain kami. Tapi ternyata Gi Kwang yang mengatakan kata-kata itu.

“Maaf, Iseul, tapi kalau kau menolakku sekali, aku akan mengatakan cinta padamu dua kali lebih banyak dari itu. Aku mungkin bodoh untuk tidak pernah bisa melupakanmu, tapi kalau kebodohanku ini bisa mengabulkan keinginanku untuk bisa bersamamu, aku rela bodoh terus menerus.”

Pandanganku mulai kabur karena air mata. Aku menangis tanpa suara, tapi alih-alih memeluknya, aku malah memukul lengannya. “Kau ini bodoh sekali, sih!”

“Baru tahu ya?” dia malah menertawaiku. “Kau mencintaiku, tidak?”

Aku menatapnya, masih sesenggukan menahan tangis, tapi disisi lain aku ingin tertawa saking bahagianya. Aku ingin mengatakan ‘iya’, tapi aku hanya bisa tertawa sambil menangis. Berulang kali aku mengatainya “Bodoh”. Dia hanya tertawa.

“Jangan pergi dariku,” kataku. Gi Kwang tersenyum. Dia mengelus pipiku.

“Kalau kau tidak mau aku pergi darimu, kau harus jadi pacarku dulu.”

Aku tertawa lagi, lalu memeluknya. Dia balas memelukku erat. Tubuhnya hangat sekali.

“Tak ada yang sebanding denganmu,” bisik Gi Kwang pelan di telingaku. Aku melepaskan pelukanku.

“Apa itu arti kata-kata Prancis yang ada di cincin?” tanyaku.

Gi Kwang tertawa, dia kembali memeluk pinggangku dan mencium pipi dan dahiku.

“Memangnya ada arti yang lain?”

Aku terpana. Untuk beberapa saat aku hanya membenamkan badanku ke pelukannya. Kemudian aku teringat sesuatu.

“Kira-kira ini sudah limabelas menit, belum?”

Kami tertawa.

***

“Iseul, kau pernah sadar tidak kenapa Gikwang memasangkan cincin itu di telunjukmu, dan bukannya di jari yang lain?” tanya Hye Sun.

Aku memperhatikan cincin di jariku. “Tidak. Memangnya ada artinya?”

“Gikwang mencopot cincinya dari jari mana?”

Aku berusaha mengingat. “Emm… kelingking.”

Hye Sun senyum-senyum. “Ternyata kelingkingnya dan telunjukmu ukurannya sama ya… Itu artinya kalian berjodoh.”

Wajahku memerah.

***THE END***

13 thoughts on “Honey Dew Part 6 of 6

  1. fiqih says:

    akhirnya tamat juga hoho
    tapi agak sedih sih, suka banget sama giseul T.T

    hm ini typo atau emang kaya gini eon ? “Ayahmu tentu bangga denganku.” rasanya aneh, mungkin maksud eonnie “Ayahmu tentu bangga denganmu.” kali ya ? maaf kalo salah .

    endingnya ngga mengecewakan ! tapi iri sama jiyeon huaaa mau banget malem-malem BEAST datang terus yoseob nyanyi buat aku !! u.u

    emang bener ya kalo kelingking cowok sama telunjuk cewek ukurannya sama artinya jodoh ? o.O

    oh iya, eonnie ada niat buat nulis ff giseul lagi ngga ? kalo ngga giseul castnya couple seungshin deh hehe .
    mian kalo komen aku kepanjangan😀

    • v3aprilia says:

      Aduuuuh, jeongmal gomawo ya fiqih… udah 2 kali tulisanku diperbaiki, hehehe *pentung! dasar author ceroboh* Udah kuperbaiki koq🙂

      Iya gitu deh, aku denger2 dari temen sih gitu.
      Kalo FF sih, maunya sih bikin baru, tapi nanti maunya di-post di FFIndo. Tapi blum diketik, hehehe :p

      Hehehe, ya anggap aja jiyeon itu fiqih🙂 gomawo komennya ya! Chuuu…❤

      • fiqih says:

        sama-sama eon . hehe readers kan harus ngebantuin author ^^
        wah gitu ya ? *brb ngukur jari sama yoseob*
        oh gitu . aku tunggu ff barunya eon !😀

  2. Lixiu Park says:

    wah, tamat. kurang panjang nih chingu *plaak* kekeke.. kok fanfic yang ini (?) ga dipost di ffindo? endingnya keren! mau lagi..

    oh ya, bikin cerita khusus hyeneul sama dongwoon dong! atau engga yoseob sama IU (lagi..)

  3. honeyJung says:

    kata-kata gikwang keren kereeennnn :’)))
    terharu, sedih, senang, bahagia..
    Huaaa akhirnya mreka jadian! XDD

    Jiyeon bruntung banget ya
    pas ngomong b2st almighty, eeh B2ST ny lgsung nongol depan rumah *envy* kkk
    fiuh.. sedih jg dah tamat
    i want more!! #digeplakauthor😀

  4. amelee says:

    beneran mupeng bc nih fic X3
    aku sbg reader turut merasakan kebahagiaan giseul *apadeh*
    iseul emang beruntung, aku sampe speechless bc kata2nya gikwang😄
    kalo didatengin B2ST sapa juga yg nolak huhuuu T..T
    saya senang baca fic ini😄

  5. asihkpop says:

    kyaaaa….gilaaaa….
    Hari ini full banget aku baca ff oeonii…
    dari yang sedih.. Lucu sampe ketahap yang ini….
    daebaaakkkk….
    Mulai sekarang aku bertekad jadi fans author deh…
    Hehehehhe

  6. Hizuri kyubum says:

    Akhirnya mampir juga ke blog oenni, soalnya penasaran ama ff ini.
    Daebak! Akhirnya jadian juga mereka. Iseul beruntung bgt, dia udah nolak gikwang awalnya tapi gikwang masih tetep cinta sama iseul. Endingnya juga sweet (?)

  7. RyuChrizta says:

    akhir’Y aku baca juga… yg ini emg lebi memuaskan,, tp ko jadi kim iseul ya?? aku terbiasa dg jung iseul… sukralah.. yg penting cerita’Y keren… i like it,, like it!! *dance keser2*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s