Honey Dew Part 5 of 6



“Ji Hyun, apakah semalam aku mengigau?” tanyaku pada Ji Hyun di bis.

Selama berada di Kuala Lumpur, aku sekamar dengan Ji Hyun. Dan selama itu pula, aku selalu memimpikan hal yang sama. Aku selalu mimpi bertemu dengan ayahku dan aku menangis di pelukannya. Aku takut kalau aku mengigau, apalagi hari ini aku kembali bangun dengan wajah lengket seperti habis menangis.

“Tidak tahu ya, semalam tampaknya aku tidur lelap sekali,” jawabnya. “Kenapa?

Kau gugup menjelang pertandingan, ya?”

Aku mengangguk berbohong. “Sedikit.”

“Tenang, nikmati pertandingan. Kita buat lawan-lawan kita bertekuk lutut,”

katanya berapi-api. Aku tersenyum.

Mungkin karena motivasi dari Ji Hyun supaya aku bermain tanpa beban, aku sama sekali tidak merasa gugup saat bertemu lawanku di babak penyisihan. Apalagi penonton saat ini tidak terlalu memenuhi tribun, mungkin karena masih babak penyisihan.

Jujur, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap kalau nanti tim kami bertemu dengan tim Uber Indonesia, baik itu di semifinal atau malah di partai final nanti. Aku dengar media Indonesia mulai sering memberitakanku karena aku berayahkan orang Indonesia asli. Tapi aku belum pernah membaca berita-berita itu.

Di semifinal, kami bertemu tim Uber Jepang. Lawanku, Eriko Hirose, kulibas dengan skor 21-12 dan 21-16. Setelah itu kemenangan seolah menunggu untuk menghampiri kami. Meskipun Jepang sempat pencuri satu poin, akhirnya kami lolos ke final dengan skor 3-1.

“Antara Indonesia dan China, menurutmu siapa?” tanya Kim Min Jung sunbaenim, pemain ganda pertama padaku. Aku mengangkat bahu sambil tersenyum.

“Apapun bisa terjadi dalam pertandingan bulu tangkis,” kataku.

Ya, tapi tidak selalu, batinku beberapa saat kemudian, setelah kami tahu kalau China lolos ke babak final. Kami akan bertemu dengan tim Uber China.

Aku menatap cincin pemberian Gi Kwang yang melingkar di telunjukku, berusaha mengendalikan degup jantungku yang mendadak tidak terkendali.

***

Pelatih kami, Kim Jung Soo, masih memberikan instruksi terakhirnya padaku sebelum aku benar-benar menaruh tasku di pinggir lapangan. Ya, aku kembali dipercaya menjadi pemain tunggal pertama di babak final ini. Hiruk pikuk penonton memenuhi tribun. Benar saja, ini partai final, orang pasti berduyun-duyun menonton. Beberapa orang kulihat menunjuk-nunjukku. Wajah mereka khas rumpun Melayu (ya iyalah Iseul, ini kan di Malaysia!).

Ya, kami dipertemukan dengan China di partai final, dan kali ini aku kembali bertemu dengan Wang Yihan yang pernah mengalahkanku di pertandingan tahun lalu.

Penonton bersorak saat aku dan Wang Yihan selesai melakukan pemanasan. Aku menyampatkan diri untuk berdoa sementara wasit memperkenalkanku dan Wang Yihan.

Pertandingan dimulai. Kami bertarung cukup sengit. Kupikir kami masing-masing pasti sudah mempelajari gaya bermain lawan. Wang Yihan pasti sudah tahu dimana saja letak kelemahanku karena dulu dia pernah mengalahkanku, sementara beberapa waktu lalu aku juga mempelajari gaya bermain Wang Yihan melalui rekaman video pertandingan lalu.

Set pertama ini harus mengalami perpanjangan atau deuce, karena skor kami sama, yaitu 20-20. Yihan sempat unggul satu poin sebelum akhirnya aku membalas mengunggulinya dua poin sehingga set pertama berakhir dengan skor 23-21 gara-gara aku membuat tipuan saat mengembalikan shuttlecock. Penonton bersorak. Teman-teman timku berteriak menyemangatiku dari bangku pemain.

Jung Soo sabeumnim kembali memberikanku beberapa instruksi ketika jeda main. Aku mendengarkan dengan seksama.

“Manfaatkan kesempatan ini, Iseul. Yihan tidak dalam kondisi bagus saat ini,” katanya.

Ya, aku bisa melihat itu. Dia agak terburu-buru dan beberapa kali melakukan kesalahan. Aku mengangguk menyetujui kata-kata pelatihku.

Set kedua dimulai. aku sempat tertinggal di awal pertandingan, tapi di tengah-tengah pertandingan, permainan Yihan justru semakin mengendur sehingga aku perlahan mengejar ketertinggalan. Saat aku mengambil shuttlecock yang keluar dari garis, aku sempat melirik pelatihku. Dia memberikan isyarat tertentu dengan tangannya.

Aku tidak menjawab. Sabeumnim pasti tahu kalau aku menyimaknya meskipun hanya sekilas. Saat itu pun aku masih sempat melirik pelatih Cina. Wajahnya terlihat agak frustasi. Semangatku berkobar.

Setengah pertandingan selanjutnya kulalui dengan terus menambah skor. Meskipun perlawanan Yihan masih terbilang sengit, akhirnya di set kedua ini aku menang lagi dengan skor 21-11. Aku menyumbangkan satu poin untuk Korea di final ini.

Aku berjalan lebih dulu untuk menyalami Wang Yihan. Aku tersenyum padanya, dan dia membalas senyumku. Jung Soo sabeumnim mengucapkan terima kasih sambil menepuk bahuku saat aku kembali ke bangku pemain. Sementara Lee Hyo Jung sunbaenim dan Kim Min Jung sunbaenim bersiap-siap untuk bertanding di partai ganda, Ji Hyun dan teman-teman lain memelukku senang.

Beberapa pemain dari tim Thomas (tim Thomas Korea tidak lolos ke final) mengucapkan selamat, atau tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Makin banyak penonton yang menunjuk-nunjukku. Beberapa di antara mereka pasti warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia.

Pertandingan ganda antara Lee Hyo Jung/Kim Min Jung vs Ma Jin/Wang Xiaoli berlangsung seru. Aku meremas kedua tanganku, mataku tak lepas dari lapangan. Set pertama dikuasai oleh China karena kami kalah dengan skor 18-21. Aku melirik Li Yongbo, pelatih tim Uber China. Wajahnya sumringah.

Set kedua, Korea memutar balik keadaan dengan unggul 21-12. Wang Xiaoli beberapa kali melakukan kesalahan dan pukulan-pukulan baliknya tidak mematikan lawan. Tapi kemenangan di set kedua itu tentu saja memaksa China untuk memasuki rubber set. Dan di set ketiga itu, kami kembali mengungguli mereka dengan skor 21-15. Korea unggul 2-0.

“Ji Hyun, hwaiting!” seruku saat pertandingan memasuki partai ketiga. Ji Hyun mengepalkan tangannya penuh semangat, lalu mengangkat tasnya menuju pinggir lapangan. Dia bertemu dengan Wang Xin. Di set pertama, Wang Xin unggul 21-14, itu membuat kami cemas karena permainannya memang bagus terutama saat menjatuhkan bola silang di depan net. Di set kedua Ji Hyun sempat membalik keadaan setelah memaksa Wang Xin memasuki rubber set 21-16. Tapi aku kembali cemas karena saat jeda permainan, Ji Hyun sempat diperiksa tim medis karena gangguan pada kaki.

Akhirnya China unggul di set ketiga dengan skor 21-7. Skor yang cukup telak bagi kami, apalagi saat itu kaki Ji Hyun sedang sakit. China mencuri satu poin.

“Tidak apa-apa, Ji Hyun,” hibur kami saat melihat Ji Hyun kembali ke bangku pemain dengan kaki tertatih. Wajahnya murung. Aku memeluk Ji Hyun erat.

Kami diliputi ketegangan saat Lee Kyung Won sunbaenim dan Ha Jung Eun sunbaenim memasuki lapangan, berhadapan dengan Du Jing dan Yu Yang.

***

Kekalahan Ji Hyun sempat membuat Kyung Won sunbae dan Jung Eun sunbae agak tertekan. Set pertama dikuasai China dengan skor 21-19. Jung Soo sabeumnim mengawasi jalannya pertandingan dengan wajah was-was. Aku dan Ji Hyun saling pandang. Wajah Ji Hyun pucat.

Set kedua dilanjutkan dengan rubber set karena Korea kembali unggul 21-14. Di set kedua Korea lebih banyak menyerang dengan serangan mematikan. Tapi rubber set justru membuat kami semakin tegang, karena kemenangan di set ini sangat menentukan. Bae Youn Joo sunbae, pemain tunggal ketiga, yang duduk disebelahku tampak tegang. Dia meremas kedua tangannya.

Terjadi persaingan ketat di set ketiga ini, meskipun saat posisi skor 8-8 Korea mendahului perolehan angka sampai 11-8 untuk perpindahan lapangan. Jung Soo sabeumnim gelisah. Kami sempat sedikit merasa lega saat Korea menambah angka menjadi 19-14, tapi kembali tegang saat pasangan China mengejar 19-18.

Aku tegang, bulu kudukku merinding, terlebih saat pasangan China melancarkan serangan smash yang bertubi-tubi ke pasangan Korea, yang untungnya mampu dikembalikan dengan baik.

Ha Jung Eun sunbae mengembalikan bola ke bidang garis belakang. Yu Yang mencoba mngembalikan shuttlecock dengan melakukan drop shoot.

Shuttlecock-nya menyangkut di net.

Kami menang!

Jung Soo sunbaenim adalah orang pertama yang melompat kegirangan setelah memastikan Korea menang 21-19. Ji Hyun memeluk leherku dan melompat-lompat dengan satu kaki. Kami menghambur ke lapangan dan saling memeluk satu sama lain. Penonton bersorak sorai. Kali ini aku kembali percaya kalau apapun bisa terjadi dalam bulu tangkis.

Di podium, aku sempat meneteskan air mata saat mendengar lagu kebangsaan Korea Selatan berkumandang. Suasana haru juga rupanya menyelimuti benak para pemain dan  Jung Soo sabeumnim. Baru setelah kami meraih Piala Uber, kami bersorak kembali. Aku yang berdiri paling pinggir dan jauh dari piala hanya bisa menatap dengan bangga.

“Iseul, kesini! Angkat piala!” seru Min Jung sunbae dan Kyung Won sunbae. Aku sumringah. Aku setengah berlari menuju mereka, medaliku menggantung di leher. Aku, Jung Soo sabeumnim, Min Jung sunbae, Kyung Won sunbae, Hyo Jung sunbae, dan Jung Eun sunbae bersama-sama mengangkat piala.

Penonton kembali bersorak. Aku harus berjinjit untuk mengimbangi pemain lain saat mengangkat piala. Maklum, dengan tinggi 169 cm, aku pemain putri paling pendek di timnas.

Appa, semoga kau melihat ini semua dari atas sana…

Aku meneteskan air mata.

***

Kami bertiga lagi. Aku, So Eun, dan Hye Sun.

Aku merindukan mereka. Saat aku menginjakkan kakiku lagi di tanah Seoul, orang pertama yang kucari adalah ibuku. Melihat ibuku menunggu bersama dengan keluarga atlet lain saat penyambutan, aku menghambur ke pelukannya. So Eun dan Hye Sun yang ikut menjemputku memelukku bahagia. So Eun membawa koran yang di halaman depannya terpampang wajahku yang sedang tersenyum pada Ji Hyun.

Dan di sore yang cerah ini, kami naik kereta, jalan-jalan bertiga. Ini liburan paling membahagiakan bagiku. Di sepanjang jalan banyak yang menyalamiku atas kemenangan Korea Selatan di Uber Cup. Berulang kali aku membungkuk mengucapkan terima kasih.

“Mereka kalah ya dengan kita,” bisik So Eun pada Hye Sun, saat melihatku berfoto bersama beberapa gadis SMP. “Mereka baru punya foto Iseul yang sekarang, kalau kita sih, sudah punya selusin. Bahkan fotonya waktu masih TK.”

Hye Sun terkikik.

Kami duduk-duduk di pinggir lapangan sementara hari mulai menggelap. Di kejauhan kami melihat kereta meluncur cepat, orang-orang di lapangan asyik dengan aktivitas mereka masing-masing. Bermain basket, latihan skateboard, atau hanya duduk-duduk. Aku ingat, di bangku semen inilah aku duduk disamping Yong Dae sunbaenim.

“Siapa itu, Iseul?” tanya Hye Sun, saat melihatku melambai kearah seorang anak cowok yang tampaknya masih SMP.

“Tidak tahu,” jawabku. Kami tertawa bersama.

“Tahu tidak, saat aku pulang ke hotel, aku baru sadar kalau seharian aku tidak sempat melihat handphone-ku. Baru saat kubuka, ternyata ada 100 lebih SMS masuk,” ceritaku. So Eun tertawa.

“Siapa saja?”

“Teman-teman kampus, beberapa teman SMA, Yong Dae sunbaenim, ibuku, dan B2ST.”

“Hah? Semua member?” tanya Hye Sun. Aku mengangguk.

“Bagi nomor telepon Dong Woon, dong,” rengek So Eun.

“Hahaha, kau sudah bosan dengan Sang Bum oppa ya, sekarang malah mengincar maknae,” ledek Hye Sun. So Eun cemberut.

“Gi Kwang menghubungimu?” tanya Hye Sun. Aku mengangguk.

“Dia meneleponku. Katanya dia baru saja pulang dari Amerika dengan B2ST,” jawabku. Hye Sun dan So Eun mengangguk barengan.

“Iya, mereka tampil di sana. Hebat ya,” kata mereka.

Aku tersenyum. “Tahu tidak, aku menyatakan perasaanku pada Yong Dae sunbaenim di bangku semen ini.”

“Omo!” seru So Eun.

“Yang benar?” sahut Hye Sun.

“Kapan?”

“Kok tidak cerita?”

“Dan dia hanya menganggapku adik,” kataku. Aku mengelus cincin di tanganku. So Eun mengelus punggungku.

“Menurutku itu lebih baik. Aku kan hanya menyatakan perasaanku, masalah diterima atau tidak, itu urusan belakangan,” kataku, mengutip kata-kata Gi Kwang dulu.

Hye Sun menggenggam tanganku. “Cincin itu…” dia menatapku. “Gi Kwang yang memberikannya?”

So Eun menatapku penuh rasa ingin tahu. Aku mendongak, aku agak terkejut Hye Sun bisa menebak setepat itu, tapi aku juga maklum karena dibandingkan So Eun, terkadang Hye Sun terlalu perhatian padaku.

“Iseul…” gumam So Eun.

“Aku… baru menyadari kalau sesungguhnya aku benar-benar orang yang tamak…”

“Iseul, jangan bicara begitu,” So Eun memeluk bahuku. Dadaku mendadak nyeri.

“Aku sudah jelas-jelas menolak Gi Kwang, tapi aku tidak mau dia menjauhiku. Aku sudah tahu dari awal kalau Yong Dae sunbaenim tidak pernah menganggapku lebih dari adik, tapi aku juga mengharapkan sunbae mau menerimaku. Aku mengerti, aku terima ini sebagai hukuman kalau aku memang seburuk itu. Aku akan terima kalau Gi Kwang menjauhiku…”

Hye Sun menggenggam tanganku lebih erat. Matanya berkaca-kaca. “Iseul…”

“Bisa kau bayangkan, seseorang yang kutolak justru mengajarkanku supaya aku menyatakan perasaanku pada orang lain, dan setelah akhirnya aku ditolak, justru dia adalah orang pertama yang menghiburku. Padahal bisa saja Gi Kwang mengejekku, bisa saja dia bilang, “Siapa suruh kau menolakku? Sekarang kau baru tahu kan, sakitnya ditolak?” atau menertawaiku. Tapi kenapa dia tidak melakukannya? Kenapa dia tidak mengeluh, marah atau menuntut apapun dariku? Dia berhak melakukan itu padaku…”

“Karena dia mencintaimu, Iseul,” jawab Hye Sun. Dia dan So Eun memelukku. Kami  bertiga merapat di bangku semen itu. “Bukan hanya sekadar ingin memilikimu, tapi dia ingin melihatmu bahagia meskipun bukan dia yang mendampingimu. Dia pikir kau akan bahagia dengan Yong Dae oppa, dan dia mengorbankan perasaannya sendiri demi kau.”

Hye Sun melepas cincin dari tanganku. “Dan cincin ini, untuk apa dia terus menyuruhmu menyimpan benda ini? Karena itu adalah tanda bahwa dia akan selalu menjaga perasaannya padamu, selama kau selalu mengingatnya.”

Air mataku mengalir deras. Dadaku sakit. Aku benar-benar jahat…

“Tapi dia tidak mungkin mengatakan cinta dua kali, karena sudah dua kali dia melihatku menyukai orang lain…” isakku.

“Kalau begitu kau saja yang katakan, Iseul!” seru So Eun. “Kau cinta dengannya, tidak?”

Aku menatap So Eun.

“Iseul, cinta bisa memilih, cinta bisa membuat kita kuat dan rapuh dalam waktu yang bersamaan, tapi cinta tidak bisa menunggu.”

Saat aku masih bimbang, So Eun kembali bicara, “Kau sendiri kan yang bilang, masalah diterima atau tidak, itu urusan belakangan?”

***TO BE CONTINUE***

6 thoughts on “Honey Dew Part 5 of 6

  1. fiqih says:

    mian eon baru komen, sebenernya kemarin udah baca tapi pas mau komen koneksinya putus -,-
    eonnie suka bulutangkis ya ? kayanya tau banyak tentang bulutangkis .
    “tapi cinta tidak bisa menunggu” waaaaa ini bagiannya kibum di FYIFM kan ? waktu kikwang nembak iseul ><
    kekeke heboh banget deh rasanya kalo ketemu sesuatu yang berhubungan sama FYIFM .
    part terakhir ditunggu eon ! endingnya ngga boleh mengecewakan ya *maksa.com*😀

    • v3aprilia says:

      Gwenchana, malah seneng ada yang komen🙂
      Ya lumayan, lagian waktu nulis ini kan lagi hebohnya Thomas Uber cup, jadi sekalian nonton bultang sekalian nulis, hahaha *author multitask*

      Oke deh, Insya Allah ngga ngecewain. Gomawo komennya fiqih😀

  2. honeyJung says:

    ah iya iya iyaaa aku inget wktu uber kmren tim uber korsel menag dr cina kan yah??
    ak ampe jijingkrakan wktu nonton finalnya #digeplakauthorkarnacurcol wkwk

    ‘bkn hnya skdar ingin mmlikimu, tp dy ingin mlihatmu bhagia walaupun bkn dy yg mendampingimu’ <– Like this!😀

    • v3aprilia says:

      mian onnie, telat bales komen. Iya, ini nulisnya juga waktu hebohnya Uber korsel menang itu, tapi juga sekaligus kecewa Yong Dae absen, hehehe :p
      Gomawo udah komen onnie🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s