Honey Dew Part 4 of 6



Aku mendongak menatap sosok namja yang berdiri di depanku.

“Gi… Kwang?” sengalku.

“Napasmu sampai tersengal seperti orang asma begitu,” katanya. “Ngapain kau memutari taman?”

“Olahraga,” kataku. Gi Kwang membantuku berdiri. Dia menyodorkan botol air mineral di tangannya. Aku segera menenggak isinya hingga hampir tandas.

“Olahraga itu harus santai. Kau itu lari seperti sedang dikejar hantu saja,” katanya lalu membuka sepatu. “Aiish, kerikil ini menyebalkan sekali.”

Jujur, aku merindukannya. Aku merindukan sahabatku yang dulu duduk sebangku denganku ini. Aku rindu ledekannya, aku rindu raut wajah cemberutnya kalau aku memujinya ‘manis’. Aku merindukan saat-saat ketika kami tidak canggung satu sama lain.

“Kau sombong,” kataku.

“Apa? Sombong? Menurutku kau yang sombong, terakhir kali kita ketemu kan waktu upacara kelulusan. Kau hanya menyalamiku, berkata “Semoga sukses” dan pergi. Apa-apan itu? Kalau ibumu tidak ada di sampingmu aku pasti sudah menjitakmu.”

Aku tertawa. “Kau sendiri? Aku tidak pernah lagi bisa leluasa menemuimu atau mengobrol denganmu di sekolah, apalagi sejak kau berubah nama menjadi AJ.”

Gi Kwang tertawa.

“Oiya, aku sudah lihat MV-mu,” kataku.

“Oh ya? Yang mana nih?”

“Keduanya, Nunmureul Dakkgo dan Dancing Shoes. Yo Seob jadi backup dancermu ya? Menurutku Dancing Shoes keren juga.”

“Benarkah? Aku keren ya, di sana?”

Aku tersenyum, geli rasanya melihat wajah Gi Kwang yang berbinar seperti anak kecil minta dipuji. Aku mencubit pipinya gemas.

“Kau manis sekali di sana.”

Gi Kwang cemberut. “Hah? Manis?”

“Iya, kau manis,” aku mencubit pipinya lagi. Gi Kwang mengangkat kakinya, bersila di atas bangku taman.

“Huh, padahal aku sudah merasa keren sekali.”

“Kau masih tidak suka dipanggil ‘manis’?”

“Karena menurutku kau yang cocok dipanggil ‘manis’,” dia membalas mencubit pipiku. Aku tertawa.

Kami mulai bertukar cerita. Dia menanyakan kabar So Eun dan Hye Sun. Aku cerita padanya kalau So Eun belajar di sekolah keperawatan dan Hye Sun masuk universitas yang sama denganku.

“Oiya, cerita padaku tentang Yong Dae hyung,” Gi Kwang tiba-tiba mengganti topik. “Kau sudah bilang ‘suka’ padanya?”

Mendadak dadaku berdebar. Aku bingung menjawab apa.

“Kau sudah bilang?” tanyanya lagi.

Aku memainkan botol minuman di tanganku. Mataku mulai panas. “Sudah.”

“Lalu?”

Aku berusaha kuat. Aku menatap mata Gi Kwang sambil tersenyum. “Aku…”

“Iseul, maaf… Tak usah cerita kalau tidak sanggup…”

“Dia hanya menganggapku adik,” kataku. “Aku sudah tahu dari awal. Dari caranya mengobrol denganku, dari kebiasaannya yang suka mengacak-acak rambutku, dari ekspresi khawatirnya ketika mataku terluka saat sedang latihan… aku semakin tahu kenyataan yang sebenarnya saat aku mengatakan ‘suka’ padanya.”

Gi Kwang menggenggam tanganku. “Aku menyesal sudah bertanya. Mianhae…”

“Tak apa. Kalau kupendam sendiri, aku tidak yakin akan tahan…” air mataku semakin menderas. “Padahal aku sudah tahu sunbaenim pasti menolakku, aku tetap tidak kuat…”

Detik berikutnya aku sudah tidak mampu bicara apa-apa lagi karena dadaku sudah terasa sangat sesak. Aku membiarkan Gi Kwang memelukku. Aku menangis sekuat-kuatnya, meskipun air mata yang kukeluarkan membuat hatiku semakin sakit, karena ini pertama kalinya aku merasakan patah hati.

Dan aku semakin merasa sakit karena orang pertama yang menghiburku justru orang yang pernah kusakiti.

***

Saat ini sudah mulai larut malam ketika tiba-tiba Gi Kwang meneleponku. Tampaknya dia benar-benar ingin menghiburku setelah melihatku menangis tadi pagi. Dia menemaniku mengobrol tentang apa saja. Terkadang aku ingin mengatakan agar dia tidak usah terlalu khawatir denganku, aku benar-benar merasa tidak enak dengannya.

“Gi Kwang, tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja,” kataku.

“Bohong, anak cewek mana bisa melupakan patah hati dalam sehari. Sebulan saja belum tentu bisa,” kata Gi Kwang, penyakit soknya kumat lagi.

“Iya, tapi aku baik-baik saja. Aku merasa kau terlalu baik padaku.”

Aku mendengar helaan napas di seberang sana. “Kau lupa kata-kataku dulu? Ini semua karena aku menyu…”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di belakang Gi Kwang. Gi Kwang berteriak mengusir seseorang, lalu aku mendengar suara ribut seperti ada yang merebut handphone-nya, lalu…

“Halo? Halo? Iseul, ya? Apa kabar?”

Aduh, suaranya bersemangat sekali. Aku sampai menjauhkan telingaku dari handphone. Tapi aku kenal suaranya.

“Yo Seob-ssi? Aku baik-baik saja. Apa kabar?”

“Baik! Aku baik sekali!” katanya lalu tertawa. Aku mendengar suara Gi Kwang berteriak, “Kembalikan!”

“Hei, Gi Kwang lagi nelepon cewek nih!” teriak Yo Seob−tentu saja setelah dia menjauhkan mulutnya dari handphone−, lalu terdengar suara-suara gaduh lain di seberang. Ada juga yang tertawa.

Aigoo… ingin kujitak saja anak ini, batinku gemas. Apa sebaiknya kumatikan saja teleponnya?

“Jangan berisik!” teriak suara di seberang. Telingaku mendadak bising.

“Jangan berteriak padaku, Junhyung, salahkan Yo Seob nih! Kembalikan!” Gi Kwang tampaknya berhasil meraih handphone-nya lagi. “Iseul, maaf ya…”

“Hahaha, cewekmu tidak akan marah kok…” terdengar suara Yo Seob. Aku mendengar suara cowok-cowok tertawa, lalu bersuit-suit.

“Kau tidak mengaktifkan loudspeaker-nya, kan?” tanyaku khawatir.

“Tidak, tenang saja,” kata Gi Kwang. Lalu aku mendengar suara orang lari tergopoh-gopoh.

“Halo? Gi Kwang?” tanyaku.

“Iya, halo,” katanya.

“Yang berlari itu kau?”

“Iya, aku kabur dari kamar. Sekarang aku di beranda,” katanya.

Aku tertawa, dan kami melanjutkan obrolan kami yang ngelantur ke sana kemari. Aku senang, sepertinya aku kembali ke kelas satu dengan mesin waktu.

***

Aku menyudahi obrolanku dengan Gi Kwang dan bersiap-siap untuk tidur, ketika aku mendadak merasa ingin melihat cincin ditelunjukku. Aku mengamati ukiran kecil di tengah cincin. Aku melihat ukiran itu membentuk tulisan. Tulisan itu berupa huruf latin, diukir miring dan agak sulit dibaca. Aku meraih lampu bacaku dan menyinari cincin itu. Aku menulis huruf-huruf yang kulihat di cincin itu di selembar kertas.

Il n’y a pas compare a vous.

***

2010…

“Iseul noona, berjuang ya! Kami mendukungmu!”

Beberapa anak cowok memakai seragam SMP tampaknya mengenaliku, saat aku bersiap-siap masuk ke dalam kereta. Meskipun sedikit lelah, aku tetap melambai ke arah mereka sambil mengucapkan terima kasih.

Belakangan ini aku mulai sering disapa orang-orang yang berpapasan denganku di jalan setelah namaku secara resmi masuk dalam anggota tim nasional Uber Cup 2010. Siapa yang menyangka itu? Aku merasa sangat bahagia hingga rasanya mau menangis. Aku tahu, ini bukan turnamen dimana aku hanya bertanding untuk diriku sendiri seperti Korean Super Series, tapi ini Uber Cup. Korea sudah mempercayakan kami tim nasional untuk berjuang mengharumkan nama negara. Hahaha, maaf kalau kata-kataku agak berlebihan.

Sejak itulah hari-hariku mulai disibukkan dengan jadwal latihan. Aku harus pintar membagi waktu antara kuliah dan latihan, sehingga aku jarang bertemu dengan teman-teman. Bahkan aku jarang mengobrol lama dengan Omma karena sepulang latihan aku sudah letih. Untung Omma dan teman-teman mau mengerti. Bahkan So Eun dan So Hwa mendadak cerewet dan sibuk mengatur pola makanku supaya tetap sehat.

“Kalau sampai kami memergokimu makan junkfood…” ancam So Eun sambil mengepalkan tinjunya.

“Atau begadang nonton TV sampai pagi…” timpal Hye Sun.

Aku tertawa. “Iya, iya, aku tahu,” kataku.

Sung Ji Hyun, temanku di klub, senang sekali saat tahu kalau namaku masuk daftar timnas. Kami memang akrab karena umur kami sebaya.

“Sayang ya, Yong Dae sunbaenim tidak ikut tim Thomas.”

Aku mengangguk. Yong Dae sunbaenim tidak ikut tim tahun ini karena cedera pada tangannya. Bahkan yang kudengar dia juga akan absen di Indonesia Super Series dan Singapura Super Series.

Saat aku sedang bengong di bangkuku, seorang pria setengah baya yang duduk tak jauh dariku menyapaku ramah. Sorot matanya teduh dan senyumnya ramah. Kalau Appa masih hidup mungkin usianya sebaya dengan pria ini.

“Kim Iseul?” sapanya. Aku mengangguk.

“Di usia semuda ini sudah bergabung dengan tim nasional, kau hebat, Nak.”

“Aku masih belum apa-apa kalau dibandingkan dengan Lee Yong Dae, Ahjussi.”

Ahjussi itu tertawa. Tentu saja, Yong Dae sunbaenim pertama kali bergabung dengan timnas saat baru berumur limabelas tahun.

“Kau gugup?” tanyanya.

“Ya, sedikit. Ini turnamen besar, Ahjussi. Ini pertama kalinya bagiku.”

“Ah ya, memang, selalu ada kata ‘pertama kali’ dalam segala hal yang terjadi dalam hidup kita, iya kan? Orang-orang terkadang terlalu terpaku pada kata ‘pertama kali’ sehingga akhirnya mereka jadi gugup. Dan kalau gagal, mereka akan bilang, “Ini pertama kalinya bagiku, jadi wajar kalau aku gagal karena masih banyak orang yang lebih berpengalaman dariku”.”

Aku mengangguk. Aku mulai tertarik dengan obrolan kami.

“Padahal sesungguhnya, sukses lebih disebabkan oleh semangat daripada kemampuan,” ahjussi itu menatapku yang terlihat ragu. “Tidak percaya? Coba lihat lampu itu. Kalau saja Thomas Alva Edison kehilangan semangatnya, tidak akan ada percobaan ke-3000 yang akhirnya menciptakan lampu yang sangat berguna ini. Kalau saja Alexander Graham Bell kehilangan semangatnya dan menyerah pada cemoohan orang-orang, kau tidak akan pernah tahu bentuk telepon.

Iseul-ssi, juara sejati adalah orang yang memberikan segalanya untuk sebuah kesuksesan, orang yang berani bangkit dari kegagalan, dan orang yang teguh mempertahankan kemenangannya namun tetap rendah hati. Dan apa yang membuat seorang juara berani melakukan semua itu? Semangat.”

Kereta perlahan melambat. Kami keluar dari kereta.

“Nah, Iseul,” kata pria itu. “Semangatlah, dan berjuang dengan seluruh kemampuanmu. Korea akan bangga memiliki anak sepertimu.”

Ahjussi itu menepuk bahuku. Aku membungkuk mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Ahjussi itu tersenyum lalu pergi. Dia terus berjalan tanpa menolehku lagi. Aku merasakan keteduhan dalam hatiku. Aku seperti menemukan ayahku dalam diri pria itu.

***

“Kau gugup?” tanya Gi Kwang saat aku iseng meneleponnya malam itu. Dia sangat girang saat tahu kalau aku masuk timnas, aku meng-SMS-nya tentang berita itu di siang hari, tapi dia baru meneleponku pada malam harinya. Saat meneleponku untuk mengucapkan selamat, dia sempat berebut dengan Yo Seob, karena Yo Seob juga ingin mengucapkan selamat padaku.

“Sedikit,” jawabku sambil memilin piyama. “Aku gugup karena aku jadi pemain tunggal pertama.”

“Wow, pertama itu bagus, lho,” katanya menyemangatiku.

Aku tertawa. “Gi Kwang?”

“Ya?”

“Aku senang bisa membahagiakan ayahku.”

“Maksudnya?”

“Ayahku sangat suka bulu tangkis. Omma yang cerita padaku. Katanya, dulu ayahku atlet bulu tangkis di sekolah, tapi impiannya untuk jadi atlet profesional harus dilupakan karena setelah kematian kakekku, Appa sebagai anak laki-laki sulung harus konsentrasi menyelesaikan SMA, supaya bisa kuliah sambil bekerja demi menghidupi keluarga. Padahal cita-cita terbesar Appa dulu adalah bisa bergabung di timnas, lalu memenangkan piala Thomas, atau emas Olimpiade. Mungkin kecintaannya pada bulu tangkis itu menurun padaku, ya.”

“Ya, pasti,” kata Gi Kwang. “Kau benar-benar mengenal ayahmu, ya.”

“Ini semua karena Omma. Dia selalu menceritakanku tentang Appa, bahkan kadang-kadang Omma mengajakku mengobrol menggunakan bahasa Indonesia,” aku terkekeh.

“Benarkah? Kapan-kapan ajari aku ya,” katanya.

Aku tertawa. “Gi Kwang, menurutmu apa aku bisa?”

“Iseul, mungkin sesekali kau pernah berpikir kalau ‘tidak apa-apa aku kalah, toh aku memang belum berpengalaman dan mereka memang juaranya dibidang ini’. Justru dengan itu, kau sudah menegaskan pada orang-orang kalau kau ini pecundang.

Kau tahu, seseorang pernah mengatakan padaku, menjadi pecundang di antara para juara memang lebih baik daripada menjadi juara di antara para pecundang, tapi apa bagusnya sih jadi pecundang? Karena itu, jangan pernah berpikir untuk menjadi pecundang, sekalipun berhadapan dengan para juara. Kau harus berusaha, kau pasti bisa.”

“Wow, Gi Kwang, kau belajar kata-kata itu dari mana?” tanyaku.

Gi Kwang terkekeh. “Doo Joon yang mengatakan itu padaku. Aku juga heran dia dapat kata-kata itu dari mana.”

“Ya! Jangan mengajarkan atlet bulu tangkis bergosip, apalagi menggosipkanku!” teriak suara di belakang Gi Kwang. Pasti itu Doo Joon oppa, batinku sambil menahan tawa.

“Mianhae!” balas Gi Kwang lalu tertawa.

“Gi Kwang,” panggilku. “Kau terlalu baik padaku.”

“Mungkin karena…” Gi Kwang terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Il n’ny a pas comparer a vous.”

Aku bengong. “Sejak kapan kau bisa bahasa Prancis?”

“Ah, tidak juga. Untuk mengucapkan kalimat itu sama aku belajar mati-matian pada kakak sepupuku.”

“Makanya jangan sok!” teriak Yo Seob, suaranya terdengar sayup-sayup, lalu disambung suara tawa beberapa orang. Lalu terdengar suara Yo Seob mengaduh. Mungkin Gi Kwang melemparnya dengan sesuatu.

“Oh ya, aku menemukan kalimat itu di cincin yang kau berikan padaku,” kataku.

“Iya, aku tahu. Makanya aku berikan padamu.”

“Memang apa artinya?”

Gi Kwang tertawa. Aku curiga penyakit soknya kumat dari caranya tertawa. “Cari sendiri di kamus.”

Tuh, benar kan?

“Pelit!”

***

Malam sebelum aku berangkat ke Kuala Lumpur, aku memimpikan ayahku. Aku bermimpi memasuki kereta, dan aku melihat Appa sedang duduk. Dia tersenyum padaku. Aku menghambur memeluknya sambil menangis, aku merasa sedang mengatakan sesuatu sambil menangis sesenggukan, tapi aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Appa tersenyum sambil terus mengelus kepalaku dengan lembut.

Tiba-tiba saja kami sudah tidak berada dalam kereta. Kami berjalan berdampingan di suatu tempat seperti hutan di musim gugur. Semuanya berwarna kuning kecoklatan, daun-daun pohon berguguran memenuhi jalan. Indah sekali. Aku merapat ke tubuh Appa, tak sekalipun aku melepaskan genggaman tangannya.

“Aku tidak pernah meninggalkanmu, Iseul,” katanya, dia mengelus rambutku lagi.

Dan aku terbangun. Aku meraba wajahku dalam kegelapan, aku merasakan bekas-bekas air mata membasahi wajahku.

***TO BE CONTINUE***

5 thoughts on “Honey Dew Part 4 of 6

  1. fiqih says:

    eonnie, itu tulisannya bukan ‘Il n’y a pas comparer a vous’ ya ? soalnya aku coba artiin ‘Il n’ny a pas comparer a vous’ pake google translate ngga ketemu .
    itu yang ngomong sama iseul di kereta ayahnya iseul ya ? *kumat lagi sotoy-nya*

    part 5 ditunggu eon ~

  2. v3aprilia says:

    Iya deh kayaknya, kayaknya tulisan yg bener Il n’y a pas compare a vous deh #apaaah *author somplak* Udah kuganti koq, gomawo udah diingetin…

    Lha ayahnya iseul kan udah meninggal sayang, hehehe. Gomawo komennya ya🙂

    • fiqih says:

      hehe sama-sama eon😀
      oh udah meninggal ya ? kirain ngilang gitu ._. *ketauan ga terlalu nyimak cerita*

  3. honeyJung says:

    banyak hikmah yg bisa ku petik dr ni ff, hehe
    sama! ak jg heran dujun dapet kata2 itu drmana?O_o hahaha

    ciee Indonesia numpang eksis, wkwk
    ayo Iseul!! semangat!!

  4. amelee says:

    setuju sama komen di atas *tunjuk2* di sini aku dpt pencerahan hahaha
    senang jd iseul, dia dikelilingi org2 baik dan sayang sama dia hihihi :d
    semangat Seul😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s