Honey Dew Part 3 of 6



Tadi malam aku meng-SMS So Eun dan Hye Sun sekaligus. Singkat saja, aku katakan pada mereka kalau Gi Kwang mengajakku kencan. Ugh, menggelikan sekali kata ‘kencan’ itu. Inginnya kuganti saja dengan ‘jalan-jalan’.

Hye Sun : hah, serius? Omo… Yong Dae sunbaenim telat selangkah dari Gi Kwang!

So Eun : sama dong, Sang Bum oppa juga mengajakku kencan hari Minggu. Jangan double date ya, tidak seru!

Hye Sun: kau harus dandan, Iseul. Hari Minggu datang ke rumahku dulu, kami yang mendandanimu. Jangan kencan pakai T-shirt longgar!

So Eun: dandan yang feminin sedikit. Kita buat dada Gi Kwang berdebar saat melihatmu Minggu nanti.

Hye Sun menyuruhku pergi ke rumahnya, tapi malah mereka yang menggedor pintu rumahku dan langsung nyelonong masuk sambil membawa baju dan alat make-up. Dan inilah aku, memakai polo shirt warna pink, mini dress jeans, dan flat shoes warna krem. Rambut hitamku diikat ke samping dan dipakaikan bando pink. Tak ketinggalan, gelang pink polkadot putih. Memangnya ini hari Valentine?

“Apa tidak terlalu pendek?” tanyaku khawatir saat melihat nyaris setengah pahaku tidak tertutup dress.

“Tidak!” jawab So Eun dan Hye Sun kompak. “Lihat kakimu, jadi terlihat jenjang kan?”

Omma senyum-senyum melihatku keluar kamar dengan kikuk.

“Omo, anak Ibu cantik sekali!” pujinya.

“Omma…” rengekku. “Sudahlah, aku ganti skinny jeans saja ya?”

“Jangan!” seru Hye Sun galak sambil berkacak pinggang. So Eun berjaga-jaga di depan lemari pakaianku. “Mini dress itu sengaja kupakaikan padamu supaya kau tidak duduk sembarangan!”

***

“Wah, kau manis sekali!”

Aku malah mengkeret dipuji begitu oleh Gi Kwang saat dia menemuiku di depan halte. Hari ini aku memakai pakaian yang “sama sekali bukan diriku”, dan ini hasil gotong royong So Eun-Hye Sun yang sangat memaksa.

“Jangan senyum-senyum begitu,” kataku pada Gi Kwang. Risih rasanya melihatnya menatapku dari ujung kepala ke ujung kaki.

“So Eun dan Hye Sun yang mendadanimu, ya?” tanyanya. “Wah, aku harus bilang terima kasih, nih.”

Aku salah tingkah.

Jalan-jalan dengannya sangat menyenangkan−aku sengaja tidak menyebutnya dengan ‘kencan’−, aku tidak merasa canggung sama sekali dengannya. Sesekali kami bercanda, aku atau dia saling ledek. Aku baru tahu kalau dia ternyata tidak suka dipanggil ‘manis’ atau dipuji seperti itu.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tidak suka saja,” jawabnya singkat. “Kalau memuji orang dengan sebutan ‘manis’, baru aku suka.”

Ternyata ada seorang ibu-ibu yang menyapaku di jalan, saat aku menodong Gi Kwang supaya membelikanku arumanis. Ibu itu mengaku mengenaliku saat menonton Korean Super Series.

“Anakku sangat menyukaimu,” katanya. Anak perempuan yang berdiri di sebelah ibu itu tersipu malu. “Dia juga ingin menjadi atlet bulu tangkis.”

Gi Kwang nyeletuk. “Apa anak laki-laki ibu juga mengidolakan Iseul?”

Aku menyodok lengan Gi Kwang.

Ibu itu tertawa. “Aku tidak punya anak laki-laki, tapi keponakan laki-lakiku tampaknya menyukaimu juga, Iseul-ssi.”

Bibi yang menjual arumanis tampaknya mendengar obrolan kami. Dia ikut menimpali, “Aku tidak heran kalau keponakan Anda menyukainya, dia manis sekali.”

Aku membungkuk, wajahku tampaknya mulai merah. “Aku masih belum apa-apa.”

“Semoga Iseul onnie bisa masuk tim nasional. Aku akan selalu mendukung onnie,” kata anak perempuan yang−katanya−mengidolakanku itu.

“Gomapseumnida,” aku membungkuk.

Kami berpisah dengan ibu-anak itu. Gi Kwang berbisik padaku, “Wah, aku kencan dengan atlet terkenal, rupanya.”

Aku tertawa. “Tapi kupikir, sebentar lagi aku akan kalah terkenal dibanding kau.”

Gi Kwang tersipu. Manis sekali, batinku. Tapi aku takut memujinya, takut kalau nanti dia mendadak ngambek.

Kami benar-benar bersenang-senang hari itu, hingga tanpa terasa hari mulai beranjak sore. Kami pulang naik bis.

“Terima kasih,” kataku tulus pada Gi Kwang. Dia membelikanku teddy bear warna cokelat yang lucu. Dia hanya tersenyum.

“Kenapa kau baik sekali padaku?” tanyaku.

“Karena aku sahabatmu,” jawab Gi Kwang sambil menatap keluar jendela. Tak biasanya dia tidak menatapku saat bicara.

Sepanjang perjalanan kami diam. Ketika sudah sampai di halte dan kami akan berpisah pulang, dia mencegahku.

“Tunggu sebentar,” katanya lalu mencopot cincin di kelingkingnya. Dia menarik tangan kiriku dan menyematkan cincinnya ke telunjukku.

“Aku tidak menyangka ternyata ukuran telunjukmu sama dengan kelingkingku,” katanya.

“Apa ini?” tanyaku.

“Masa tidak tahu? Ini cincin, bodoh.”

“Aku tahu!” kataku gemas. “Untuk apa?”

“Hadiah,” jawabnya. Dia menatapku lama. “Karena aku menyukaimu.”

Bahuku merosot. Halte mendadak terasa sangat sepi. Apa?

“Aku jatuh cinta denganmu, Kim Iseul,” kata Gi Kwang. Pandangannya benar-benar menohokku. Aku menggenggam teddy bear di tanganku erat-erat.

“Kau bercanda, kan?”

“Tidak, aku serius.”

Kami diam. Apa yang harus kujawab, bukankah dia sudah tahu kalau aku jatuh cinta dengan orang lain? Ya, Gi Kwang tidak mungkin lupa. Dia sendiri yang tanya itu padaku, dia sendiri yang menebak siapa yang kusukai.

“Aku tahu, seharusnya aku mengatakannya lebih dulu, sejak awal aku duduk sebangku denganmu. Tapi saat aku tahu kalau kau menyukai orang itu sejak kelas 1 SMP, aku sadar kalau aku benar-benar terlambat.” Dia tersenyum, senyum yang terpaksa. “Tapi kejujuran tidak pernah mengenal kata terlambat, kan?”

Aku kehabisan kata-kata. Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan ‘cinta’ padaku. Tapi kenapa dia? Kenapa bukan Yong Dae sunbaenim? Kenapa aku harus membuat orang lain sakit hati, bahkan sahabatku teman sebangku?

“Kenapa kau menyukaiku?”

Gi Kwang menatapku dalam-dalam, ingin rasanya aku menghidari mata itu. “Aku menyukaimu, karena aku tak pernah bisa menghentikan senyumku tiap kali melihat wajahmu. Aku mencintaimu, karena aku ingin memilikimu. Aku menyayangimu, karena aku ingin melihatmu bahagia.”

Omo, aku mau menangis saja rasanya. Aku tidak berani membayangkan perasaan Gi Kwang saat ini. Aku tidak perlu mengatakan apa-apa untuk menjelaskan bahwa aku menolaknya. Tak mungkin aku menerimanya…

“Tapi aku sadar, aku tidak mungkin memilikimu.”

Dadaku sesak.

Gi Kwang menghela napas sambil menatap langit. “Pulanglah, hari sudah sore.”

“Tidak mau,” kataku. Aku menunduk menahan air mata.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku pulang lebih dulu, sama saja dengan aku meninggalkanmu dan itu membuatku merasa sangat jahat.”

“Untuk apa kau merasa seperti itu? Aku kan hanya menyatakan perasaanku, masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan,” kata Gi Kwang, kali ini senyumnya benar-benar tulus. Dia menggenggam tanganku. “Aku menyayangimu, Iseul, karena aku ingin membuatmu bahagia. Jangan pikirkan aku, pulanglah.”

“Jangan jauhi aku,” kataku spontan. “Aku tidak mau kita musuhan, kau sahabatku yang paling baik…”

“Bukannya seharusnya aku yang mengatakan itu padamu?” kata Gi Kwang. “Aku tidak akan menjauhimu, aku janji. Sekarang pulanglah…”

“Tapi aku tidak bisa menerima ini, kau sudah berkorban banyak untukku,” aku hendak melepas cincin di telunjukku. Gi Kwang mencegahnya.

“Jangan, tolong simpan itu. Kumohon…” pintanya.

“Gi Kwang, aku takut kalau aku pulang, aku menangis…”

“Lari saja,” kata Gi Kwang. “Rasa lelah akan membuatmu lupa menangis. Percaya, deh.”

Aku mundur. “Maafkan aku…”

Dia mengangguk. “Hati-hati, Iseul…”

Dan dia pergi, tanpa sekalipun menoleh ke arahku. Aku memeluk teddy bear pemberiannya erat-erat. Aku berbalik, dan mulai berlari. Mini dress ini membuat langkahku terhambat, tapi aku tak peduli. Aku terus berlari, kata-kata Gi Kwang terngiang terus di telingaku. Aku sudah membuatnya sedih, aku jahat… aku jahat…

Aku tersengal-sengal di depan lobi apartemen. Aku mengendap-endap masuk ke apartemenku, jangan sampai So Eun dan Hye Sun melihatku. Tampaknya Omma sedang keluar rumah. Aku baru membaca SMS-nya. Aku masuk ke rumah dan langsung masuk kamar dan mengunci pintu.

Aku jahat, benar-benar jahat…

Setelah berganti pakaian, aku duduk di tepi tempat tidur. Kepalaku berat sekali. Inikah yang dirasakannya padaku, sejak kami duduk sebangku di hari pertama sekolah? Inikah sebabnya mengapa wajahnya sangat sedih saat kulihat di halte bis beberapa hari yang lalu? Inikah sebabnya dia sempat menjauhiku? Bagaimana mungkin?

Aku melihat teddy bear cokelat di sampingku. Aku tak tega menatap mata polos teddy bear itu, mengingatkanku dengan cowok itu…

***

2009…

“Kenapa kau tidak pernah cerita pada kami kalau Gi Kwang lulus audisi?” tanya So Eun.

“Iya, sekarang sudah pakai nama panggung lagi, AJ,” timpal Hye Sun.

“Aku juga tidak tahu, tampaknya dia ingin membuat kejutan,” kataku, berbohong. Kami sedang melihat MV debut Gi Kwang alias AJ, Dancing Shoes. Gi Kwang memanjangkan rambutnya, dan aku ingat saat aku mengatakannya mirip Rain. Yo Seob, teman sekolah kami juga ada di MV itu sebagai back-up dancer.

“Penggemarnya di sekolah semakin bertambah deh,” kata So Eun.

Hye Sun mengangguk setuju. “Aku jadi dikenal di sekolah sebelah hanya gara-gara aku ini temannya AJ. Sinting.”

Aku diam saja. Bagiku, ini semua tidak lagi berarti. Semenjak kelas dua hingga sekarang, kami benar-benar berpisah. Kami tidak lagi sekelas, dan aku sekarang malah sekelas dengan Yo Seob, hanya saja aku tidak duduk sebangku dengannya. Memang, semenjak dia mengatakan ‘suka’ padaku, komunikasi kami tidak berubah. Gi Kwang tetap ceria, dan atas permintaanku, dia tidak pernah menjauhiku, seolah-olah dia tidak pernah punya perasaan apa-apa padaku. Tapi semenjak kami pisah kelas, aku merasa Gi Kwang semakin menghilang. Aku merasa sangat jauh dengannya. Tak pernah lagi aku melihatnya berjalan di koridor atau di kantin, atau berpapasan denganku di ruang loker. Padahal teman-temanku tidak merasa begitu, mereka selalu bisa bertemu dengan Gi Kwang di sekolah.

Apa dia menjauhiku? Tapi dia kan sudah janji…

“Iseul, kenapa bengong?” tanya So Eun.

Aku tersentak. “Tidak, hanya memikirkan sesuatu.”

“Kau pasti terbebani karena minggu depan berangkat ke Malaysia ya?” tebak So Hwa. Minggu depan aku memang berangkat ke Malaysia mengikuti Malaysia Open. Aku mengangguk, berbohong.

“Tak biasanya kau begini. Santai saja, kau kan juara muda,” So Eun menyemangatiku. “Oiya, kau tidak pernah ketemu Gi Kwang lagi?”

Aduh, kenapa So Eun menanyakan itu sih?

“Jarang. Dia kan sekarang sibuk.”

“Iya juga sih, tapi sebagai cewek yang pernah kencan dengannya…”

“Hei, kau tidak pernah menceritakan tentang kencanmu dulu!” kata So Eun.

“Iya, benar. Kau menghindar terus tiap kali kami menanyakan itu,” timpal Hye Sun.

“Hanya kencan biasa, apa istimewanya? Aku hanya dibelikan teddy bear dan cincin, itu saja. Ini kan hadiah persahabatan,” kilahku.

Aku menghindari tatapan mereka. So Eun masih penasaran, sementara Hye Sun menatapku seolah dia ingin memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi denganku.

Maafkan aku, teman-teman…

***

Aku baru saja kembali dari ruang guru mengambil kopian materi pelajaran. Aku beberapa hari tidak masuk sekolah karena harus bertanding ke Malaysia. Omong-omong soal pertandingan, aku kalah di final melawan Wang Yihan dari Cina. Wah, Cina, memang menjadi momok bagiku.

Aku membaca kertas-kertas di tanganku sambil jalan menyusuri koridor, aku bahkan tidak sadar kalau di belakangku ada seseorang. Dia menyenggolku dengan keras dan aku langsung terjerembab. Kertas-kertas di tanganku bertebaran di lantai.

Ingin sekali aku melabrak orang ini! Aku sangat kesal. Paling-paling yang menabrakku ini adik kelas yang masih suka main kejar-kejaran.

“Aduh, maaf! Maaf! Aku saja yang bereskan!”

Aku mendongak dan mendadak lidahku kelu. Ternyata yang menabrakku Gi Kwang. Dia sendiri, selama beberapa detik juga merasa kikuk. Kami tidak pernah bertemu lagi di sekolah, sangat jarang. Sedih sekali, padahal kami dulu pernah akrab.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, tadi aku berjalan mundur…”

“Tidak apa-apa,” kataku lalu mengambil kertas yang disodorkan Gi Kwang. Dia membantuku berdiri.

“Ah, lututmu!” serunya.

“Tidak, ini memar karena aku terjatuh saat bertanding,” kataku.

“Hyung!” seseorang memanggil Gi Kwang, adik kelas yang aku tidak tahu namanya tapi jauh lebih tinggi dariku.

“Oh, ya, sebentar!” sahut Gi Kwang. “Maaf, aku buru-buru. Tapi kau benar tidak apa-apa?”

“Tidak, tidak apa-apa,” kataku. Dia tersenyum lalu pergi dengan adik kelas itu.

Begitu saja, tak ada kata-kata lagi, tak ada ledekan atau senyum jahil darinya. Aku ingin marah padanya, menanyakan janjinya dulu. Tapi untuk apa? Toh dia begini karena aku juga…

***

“Sunbaenim,” sapaku ketika melihat Yong Dae sunbaenim sedang duduk sendirian di bangku semen, sementara tak jauh di belakangnya ada sekelompok orang berlatih skateboard. Saat itu sudah agak malam.

Yong Dae sunbaenim menoleh, lalu tersenyum. “Iseul! Ayo, duduk di sini,” dia menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Aku duduk. Rasanya seperti mmpi bisa duduk berdampingan dengan orang yang kusuka. Yong Dae sunbaenim terdiam menatap langit.

“Pacarmu tidak marah kalau kau sibuk latihan saat malam minggu seperti ini?”

Aku tertawa. “Aku belum punya pacar.”

Kami terdiam. Aku bingung apa yang harus kubicarakan. Tiba-tiba aku teringat kata-kata Gi Kwang dulu.

Aku kan hanya menyatakan perasaanku, masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan.

Ah, Gi Kwang yang ceria, cuek, dan cowok. Ya, apa sulitnya bagi cowok? Cowok bisa dengan mudah menutupi perasaannya, atau dengan mudah bisa melupakan. Aku mungkin tidak bisa seberani itu, tapi aku tidak mau memendam ini lebih lama lagi.

“Sunbaenim, aku minta maaf…”

“Untuk apa?” tanya Yong Dae sunbaenim heran. “Kita baik-baik saja, kan?”

“Ya, tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku… aku menyukai sunbaenim.”

Senyap. Kakiku seperti mati rasa.

“Iseul?”

“Sunbaenim, maafkan aku,” kataku lalu buru-buru pergi dari tempat itu. Aku takut melihat kenyataan yang terjadi selanjutnya.

“Iseul, jangan pergi!” Yong Dae sunbaenim menarik tanganku, mencengkramnya erat. “Iseul, aku tidak suka dengan orang yang tidak berani menghadapi kenyataan dan memilih lari!”

Aku menatap Yong Dae sunbaenim. Baru kali ini aku melihat raut wajah setegas itu.

“Kau tahu, aku kagum denganmu,” Yong Dae sunbaenim memecah kesunyian. “Aku… aku bahagia kau menyukaiku. Tapi akulah yang seharusnya minta maaf padamu, karena selamanya kau akan kuanggap sebagai dongsaeng-ku.”

Hatiku mencelos, hampa, dan mendadak terasa nyeri. Ternyata seperti ini rasanya ditolak. Baru sekarang aku memahami perasaan itu.

“Aku senang,” kataku, berbohong. “Yang terpenting bagiku, sunbaenim tidak membenciku.”

“Aku tidak mungkin membencimu.”

Aku menghela napas. “Sunbaenim?”

“Ya?”

“Jangan menjauhiku,” kataku. “Jangan memusuhiku hanya karena aku…”

“Aku tidak akan menjauhimu,” kata Yong Dae sunbaenim.

Aku memberanikan diri menatap Yong Dae sunbaenim, membuktikan padanya kalau aku kuat. Tenggorokanku tercekat, dadaku terasa sangat nyeri.

“Gomawo,” kataku. Suaraku bergetar.

***

Di hari yang sepagi ini, aku sudah keluar rumah. Aku bilang pada ibuku kalau aku ingin lari pagi. Aku sengaja pergi sendiri, karena selain So Eun dan Hye Sun pasti masih mendengkur di balik selimut, aku memang sedang ingin sendiri.

Jalanan masih sepi. Hanya ada beberapa orang tua yang jalan-jalan santai di sekitar rumah mereka. Ternyata enak juga jalan-jalan di pagi hari, batinku.

“Lari saja. Rasa lelah akan membuatmu lupa menangis.”

Gi Kwang lagi. Dia seumuran denganku tapi begitu banyak hal yang diajarkannya padaku. Kalau aku tidak teringat dengan kata-katanya mungkin Yong Dae sunbaenim tidak akan tahu kalau aku menyukainya, dan mungkin sampai sekarang aku masih ke-GR-an mereka-reka kalau Yong Dae sunbaenim juga menyukaiku.

Aku mengelus cincin di telunjukku, menelusuri ukiran kecil di tengahnya dengan jariku. Lalu aku mulai berlari.

Angin pagi yang dingin menusuk wajahku, tapi aku tak peduli. Aku terus berlari, semakin lama semakin cepat, menelusuri rumah-rumah dan jalan yang masih sepi. Aku terus berlari hingga sampai di lapangan bola. Aku memasuki lapangan dan memutarinya sekali. Aku keluar, terus berlari hingga ke taman, dan aku memutari taman itu. Aku terus berlari hingga energiku habis. Aku jatuh berlutut di tanah, tersengal-sengal. Untung saja taman masih sepi, atau aku akan dikatakan aneh oleh orang-orang.

“Ya! Berlutut di tengah jalan!”

Aku mendongak, terkejut. Aku ingat dengan suara itu.

***TO BE CONTINUE***

8 thoughts on “Honey Dew Part 3 of 6

  1. fiqih says:

    waaaa udah part 3 . akhirnya kikwang nyatain perasaannya juga .
    kalo gini udah jelas deh . yongdae cuma nganggep iseul adik hehe . aku pikir bakal ada rebutan antara kikwang-yongdae .

    btw, setelah baca lagi FYIFM aku baru tau kalo chingu udah kuliah . berarti aku harus manggil eonnie dong ?😀

    seperti biasa, aku tunggu part 4 nya ^^

    • v3aprilia says:

      Annyeong fiqih… selalu setia komen di FF ini, gomawo ya
      Iya, aku udah kulih. Ya, panggil onnie boleh, ngga juga ngga apa-apa. Emang fiqih kelas brapa?

      • fiqih says:

        kekeke iya dong . aku kan fans eonnie😀
        aku baru kelas 9 eon, ntar lagi SMA . jauh ya beda umur kita -.-
        oh iya setelah baca komen lagi aku baru nyadar ada yang kurang . kata-kata kikwang sama kayak kata-katanya yoseob di ‘love is us’ ya ?

  2. honeyJung says:

    akhirnya iseul ngerasain perasaan kyak kikwang😥

    itu kikwang yah yg ngomong? O.o
    lanjutnya baca’y besok deh😀

    oia salam kenal author
    saya hani 21 yo, hehehe😀

  3. nadekers says:

    Waaa baru baca >< sedih hbngn kiseul jadi renggang T_T akhirnya iseul nyatain perasaan dia juga kekekeke tapi kasian ._. Mian thor udah lama ga ke sini _(_ _)_ oiya ini ngmng2 aku Cho Jiyoung (ganti uname) ehhehe ^^

  4. amelee says:

    entah knp aku jd jatuh cinta sama gikwang -o-”
    sayang bgt mereka jd jarang ngomong, jd simpati sama giseul *sini kupeluk* *maunya*
    lah itu siapa?
    melesat ke next part deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s