Honey Dew Part 2 of 6



Hye Sun melambaikan tangan sambil memasang tampang cemberut padaku ketika dia melihatku masuk ke kantin. Aku tidak melihat So Eun disampingnya.

“Dimana So Eun?” tanyaku.

“Tuh,” Hye Sun menunjuk ke sudut dengan dagunya, campuran antara ogah-ogahan dan sebal. Di meja kecil di pojok kantin, aku melihat So Eun dan seorang cowok duduk berdua, tampak sangat asyik mengobrol berdua. Aku baru tahu kalau cowok yang bersama So Eun itulah Sang Bum. Wajahnya tampak dewasa, padahal dia dan So Eun hanya terpaut satu tahun.

“Oh, jadi itu yang namanya Sang Bum,” bisikku. “Senangnya, dunia serasa milik berdua, meskipun hanya dapat tempat di pojok yang sempit.”

Hye Sun tertawa. “Kalau kau sudah jadian dengan Yong Dae oppa, jangan tiru dia ya.”

Aku tertawa. “Dasar!”

“Hei!”

Seseorang menepukku dari belakang. Ternyata Gi Kwang. Aku tersenyum padanya. Hye Sun mendehem keras.

“Kau yang sebangku dengan Iseul?” tanya Hye Sun.

Gi Kwang mengangguk. Dia langsung mengambil tempat duduk di sebelahku. “Kalian tahu bahkan dengan siapa Iseul duduk? Seberapa akrab kalian?”

“Yah, anggap saja aku ini dilahirkan untuk Iseul, dan Iseul dilahirkan untuk tersiksa dengan kelakuan Kim So Eun paboo,” kata Hye Sun sambil menunjuk So Eun dengan dagunya. Gi Kwang tertawa.

“Oiya, kenalkan, aku Go Hye Sun,” cewek itu mengulurkan tangannya. “Setan pertama.”

Aku tertawa. Rupanya dia masih ingat dengan SMS-ku untuk Gi Kwang.

Hye Sun menambahkan. “Dan So Eun itu setan kedua.”

Gi Kwang tertawa. “Aku heran kenapa kalian bisa berteman dengan Iseul yang begini pendiam.”

“Kau saja heran, apalagi aku,” balas Hye Sun. Kami tertawa lagi.

“Hei, ikutan dong!” beberapa teman menghampiri meja kami. Sun Mi, Sohee, Junho, Sunye, dan teman Gi Kwang dari kelas lain, Yo Seob. Meja kami yang semula sepi mendadak ramai, kami sampai harus menggeser meja dan kursi lagi supaya kami semua bisa duduk berdekatan bersama. Bahkan akhirnya So Eun dan Sang Bum oppa ikut bergabung. Sepanjang istirahat itu kami membicarakan banyak hal, bahkan saling menertawakan satu sama lain.

Kalau bukan karena Gi Kwang, mungkin aku dan Hye Sun hanya duduk berdua sepanjang jam istirahat, ngobrol berdua sambil mengomel karena So Eun sibuk sendiri dengan pacarnya. Gi Kwang benar-benar magnet hidup yang menyenangkan.

Kami baru benar-benar bubar ketika bel masuk berhenti berbunyi. Yo Seob masih melanjutkan leluconnya dengan Hye Sun sambil berjalan di koridor, meninggalkan aku dengan Gi Kwang.

“Terima kasih,” kata Gi Kwang padaku. Aku mengerutkan kening.

“Apa aku tak salah dengar? Harusnya kan aku…”

“Terima kasih sudah menganggapku teman,” lanjutnya. Aku tambah tidak mengerti.

“Kita kan memang teman,” kataku.

“Ya, tapi terkadang perlakuan teman-teman cewek di kelas agak berlebihan. Aku tidak bisa tenang sehari saja tanpa melihat ada segerombolan cewek-cewek yang berbisik tiap aku lewat, senyum-senyum sendiri kalau berpapasan denganku, atau histeris kalau aku melewati mereka.”

“Hei, kau tidak sedang menyombongkan diri, kan?” ledekku.

“Aku sedang serius, bodoh!” Gi Kwang mendorong kepalaku pelan. Selama beberapa detik aku tertegun. Belum pernah aku seakrab ini dengan seorang cowok.

“Aku senang berteman denganmu,” kata Gi Kwang pelan.

“Aku senang punya sahabat sepertimu,” balasku. Entah kenapa dadaku berdebar saat mengatakan itu.

“Hei, kalian!” Junho melongokkan kepala dari pintu kelas. “Jangan pacaran terus, cepat masuk!”

Anak-anak lain berhamburan keluar dan menyoraki kami. Aku cepat-cepat ambil langkah seribu memasuki kelas, sementara Gi Kwang hanya tertawa santai. Aku yakin wajahku mirip kepiting rebus saat ini.

***

Aku tidak sedang dalam keadaan fit saat berlatih di klub hari ini. Kepalaku agak pusing karena tugas-tugas sekolah lumayan banyak, terutama Biologi. Meskipun Gi Kwang sudah berjanji akan membantuku menyelesaikan PR, tapi aku tetap merasa hari ini sangat melelahkan. Ditambah lagi bulan depan aku ada pertandingan, jadwal latihanku jadi bertambah padat sehingga terkadang aku terpaksa bolos sekolah paling tidak sekali dalam seminggu.

Saat aku melakukan drop shoot, sabeumnim meneriakiku karena pukulanku masih tanggung. Aku tergopoh-gopoh meraih shuttlecock yang di-smash lawan mainku ke pinggir lapangan. Saat dia kembali melakukan smash, aku lengah dan shuttlecock-nya mengenai mataku dengan keras. Aku tersungkur, kurasakan sesuatu keluar dari mataku.

“Ya Tuhan, Iseul!” Ji Hyun, lawan mainku, histeris melihat darah yang keluar dari mataku. Dari sebelah mataku, aku melihat orang-orang mengerubungiku termasuk sabeumnim.

Lalu aku merasakan badanku ditarik dengan kasar menjauhi lapangan.

“Jangan buka matamu, Iseul! Kita ke klinik sekarang!”

Ternyata Yong Dae sunbaenim. Mendadak kepalaku langsung pusing.

Berjalan ke klinik klub terasa jauh lebih lama yang kubayangkan karena rasa sakit di mataku. Aku langsung dibawa ke ruang perawatan, ditemani Kim sabeumnim. Yong Dae sunbaenim memilih menunggu di luar.

Sementara mataku diperban, sabeumnim mengajakku bicara. Ini tak biasanya, karena kalau biasanya dia memasang tampang galak tiap latihan, sekarang wajahnya sangat khawatir.

“Kau kenapa, Iseul? Kau buruk sekali hari ini. Kau kelelahan?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan, takut perawat salah menempel plester. “Sedikit.”

“Banyak tugas di sekolah?”

Aku mengangguk lagi. Tepat sekali, Sabeumnim.

“Sabeumnim, aku ingin bertanding,” aku meratap untuk pertama kali. Perawat yang memperban mataku tersenyum.

“Lukamu tidak parah, kok. Istirahat saja seminggu dan kau boleh latihan lagi. Dia anak yang berbakat kan?”

Sabeumnim tersenyum. “Baiklah, istirahat saja seminggu. Ingat, benar-benar istirahat, atau kau akan datang ke pertandingan sebagai penonton,” ancamnya lalu tersenyum. Aku tertawa.

Yong Dae sunbaenim langsung berdiri saat melihatku keluar dari ruangan. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya. Konyolnya, aku merasa senang melihatnya khawatir.

“Hanya perlu istirahat seminggu,” sabeumnim menepuk bahuku. Aku melihat Yong Dae sunbaenim diam-diam mendengus lega.

Sabeumnim pergi meninggalkanku dan Yong Dae sunbaenim. Sunbae mengacak-acak rambutku, aku melihat kelegaan dari sorot matanya.

“Nanti kuantar pulang, ya,” katanya pelan.

Aku bahagia sekali.

***

“Iseul?” Ibuku menatap perban mataku dengan panik. “Kenapa kau?”

“Kena shuttlecock, hanya perlu istirahat seminggu kok, Omma,” kataku.

“Terima kasih sudah mengantarnya pulang,” kata ibuku pada Yong Dae sunbaenim. Sebenarnya aku sudah ingin turun di depan saja, tapi Yong Dae sunbaenim ngotot ingin mengantarku hingga ke depan pintu apartemenku. Bukan apa-apa, aku tidak mau sampai terlihat oleh So Eun atau Hye Sun, mereka pasti meledekku lagi.

Dan lihat saja, mereka berdua malah nongol di ruang makan! So Eun melihatku dengan ekspresi seperti sedang tersedak kimchi. Sementara Hye Sun membeku, sumpitnya menggantung tanpa ada makanan apa-apa.

“Yong Dae oppa? Itu Yong Dae oppa? Benar-benar pemain bulu tangkis itu?” tanya So Eun norak. “Oppa, jangan pulang dulu! Aku mau foto bersama!”

“Ikut!” Hye Sun menghambur ke pintu depan. Aku buru-buru masuk.

“Jangan norak!” aku mengomel.

Yong Dae sunbaenim tertawa. “Tidak apa-apa,” katanya, sementara So Eun sudah memegang handphone, siap-siap mengambil gambar.

“Bagaimana bisa shuttlecock-nya mendarat di matamu? Kau masih memegang raket kan waktu itu?” tanya ibuku, masih dengan ekspresi panik.

“Omma ada-ada saja, tentu saja aku masih pegang raket,” kataku. Ibuku terkadang melontarkan pertanyaan konyol kalau sedang panik. “Aku tidak lihat waktu lawanku men-smash terlalu keras. Jangan salahkan dia, Omma. Aku yang lengah.”

“Aku pulang dulu,” kata Yong Dae sunbaenim. So Eun tampak girang melihat foto di handphone-nya. “Istirahat ya, Iseul.”

“Gomapseumnida,” aku dan ibuku membungkuk. Yong Dae sunbaenim membungkuk lalu pergi. Di tangga, dia masih melambaikan tangan padaku.

“Ganti baju lalu makan, ya,” kata ibuku. Aku mengangguk, sulit melihat ibuku seutuhnya dengan mata sebelah.

“Sering-sering saja kau sakit mata, Iseul,” kata So Eun. Hye Sun tertawa.

“Sembarangan!” omelku.

“Kalian pacaran, ya?” Hye Sun mengikutiku hingga ke kamar.

“Tidak,” jawabku singkat. “Sunbae hanya mengantarku pulang, itu saja.”

So Eun membantuku melepas baju. “Dia mengkhawatirkanmu, Iseul. Kalau tidak, untuk apa sunbae mengantar hoobae-nya hingga ke depan pintu apartemen?”

Hye Sun mengangguk setuju.

Aku diam saja, sementara So Eun dan Hye Sun sibuk diskusi tentang Yong Dae sunbaenim. Tidak, aku tidak merasa Yong Dae sunbaenim memiliki perasaan khusus seperti yang So Eun pikirkan. Mungkin memang dia terlalu baik pada semua orang. Mungkin…

Aku teringat saat Yong Dae sunbaenim mengacak-acak rambutku di klinik tadi.

Mungkin… dia hanya menganggapku adik kecil yang harus dilindungi. Dadaku mendadak terasa sangat nyeri memikirkan itu.

***

Terima kasih banyak untukmu, Lee Gi Kwang. Gara-gara dia menertawai mataku yang diperban sebelah, sekarang teman-temanku malah ikut-ikutan memanggilku Bajak Laut. Aku tidak mau bicara dengannya sepanjang hari itu, bahkan aku nyaris membatalkan janji mengerjakan PR bersama.

“Baik, baik, maafkan aku,” Gi Kwang merajuk saat bel pulang berbunyi. Sunye dan Junho cekikikan di belakangku. “Hei, Spongebob, sedang minta gaji ke Tuan Crabb, ya?” ledek Junho ke Gi Kwang.

Sunye terbahak. Aku ngambek, kabur ke perpustakaan.

“Aku kerjakan semua PR-mu, deh. Jangan ngambek, ya,” Gi Kwang masih sibuk membujukku. “Mau mengerjakan PR di perpustakaan?”

Aku masih diam saja.

“Aiish, susah sekali sih membujukmu! Iseul, jangan merengut begitu, kau tetap manis kok meskipun dengan mata sebelah…”

Aku merasa geli mendengar kata-katanya, tapi aku gengsi tertawa. “Ini bukan urusan aku terlihat manis atau tidak. Aku juga tidak suka pakai perban, apalagi di mata!”

“Iya, iya, aku tahu. Maaf…” Gi Kwang menangkupkan tangannya. Kelihatannya dia sungguh-sungguh. Aku sendiri heran kenapa dia sebegitu niatnya minta maaf padaku.

Aku mendengus keras. “Ayo selesaikan PR.”

Perpustakaan terlihat sepi saat itu. Hanya ada dua penjaga perpus dan beberapa murid. Anehnya, hanya kami berdua yang tidak memakai kacamata di ruangan itu.

“Tahu begitu aku bawa saja kacamata John Lennon-ku kemari,” celetuk Gi Kwang.

Aku mendengus menahan tawa.

“Akhirnya ada yang tersenyum juga,” kata Gi Kwang. “Oiya, hari ini kau tidak ada jadwal latihan?”

Aku menunjuk mataku yang diperban. Gi Kwang mengangguk mengerti. “Tapi bukannya pertandingan tinggal sebulan lagi?”

Gi Kwang ternyata sangat mengingat jadwal pertandinganku.

“Aku hanya istirahat seminggu saja,” jawabku singkat.

Menit berikutnya kami sudah tenggelam dalam kesibukan mengerjakan PR. Yang kusuka dari Gi Kwang, dia sangat bersemangat mengerjakan sesuatu, dan selama aku berteman dengannya aku belum pernah mendengarnya mengeluh. Terkadang aku iri dengan semangatnya.

“Kau satu klub ya dengan Lee Yong Dae?” tanya Gi Kwang, saat kami berjalan keluar dari gerbang sekolah. “Samsung Electromechanics, kan?”

“Iya, kenapa?” tanyaku. Gi Kwang senyum-senyum.

“Kenapa?” tanyaku curiga. Aku jelas curiga, baru kali ini aku melihat cowok menanyakan Yong Dae sunbaenim lalu senyum-senyum sendiri.

“Kau suka dengannya, ya?” tanyanya.

Aku tersandung. Gi Kwang malah tertawa. “Kau gugup, ya, kalau ditanya soal itu?”

“Kenapa kau bisa bicara seperti itu?” Gawat, kenapa dia tahu, batinku panik.

“Jangan salah, aku ini ahli membaca ekspresi orang. Baru ditanya begitu saja wajahmu sudah semerah itu, tersandung lagi,” ledeknya. “Kau suka dia?”

“Kau ini apa-apaan, sih?” kataku sewot sambil membuang muka.

“Tenang saja, aku ini pandai kok menjaga rahasia,” Gi Kwang berusaha meyakinkanku.

“Apa So Eun atau Hye Sun yang mengatakannya padamu?” tuduhku.

“Dari awal kulihat, tiap kali kau membicarakan Yong Dae hyung ekspresimu selalu sama. Kalau tidak wajah memerah, omonganmu mendadak belepotan, salah kata sana sini. Pikirmu aku ini bodoh?”

Aku masih merengut. Gi Kwang terus mencerocos.

“Dia cinta pertamamu ya? Sudah berapa lama kau suka dengannya?”

Selama beberapa saat aku diam. Dia ikut diam, menatapku dan menungguku bicara. Aku menatapnya balik.

“Aku bisa jaga rahasia, Kim Iseul, tenang saja,” katanya.

“Sejak aku kelas 1 SMP,” kataku. “Dan selama itu pula aku tak pernah bisa benar-benar menatap wajahnya kalau sedang bicara.”

“Kau parah sekali,” kata Gi Kwang. “Padahal kau satu klub dengannya, dan dia sunbae-mu, seharusnya kau punya banyak sekali hal yang bisa kalian bicarakan. Kau bisa minta padanya untuk latihan bersama denganmu, atau sedikit tanya-tanya kenapa dia bisa sehebat itu, atau apalah.”

Teori sih gampang, batinku.

“Kau tidak pernah mengatakan ‘suka’ padanya?” tanya Gi Kwang lagi.

Aku menggeleng. “Belum.”

“Oiya, kulihat kau terkadang pulang sekolah agak terburu-buru. Kenapa?” tanyaku. Sebenarnya aku sengaja menanyakan itu supaya kami tidak membicarakan Yong Dae sunbaenim lagi.

“Sebenarnya aku sedang training,” jawab Gi Kwang. “Kau bisa jaga rahasia, kan?”

Aku mengangguk. “Aku tidak akan bilang bahkan pada So Eun dan Hye Sun. Tapi training untuk apa?”

“Aku… lolos audisi di JYP Entertainment, dan sekarang sedang training,” jawabnya. Wajahnya tersipu.

“Benarkah?” aku tak percaya dengan ucapannya tadi. “Kau akan jadi penyanyi?”

“Belum, kan kubilang aku masih training,” katanya, masih tersipu.

“Tak ada yang tahu tentang hal ini?” tanyaku. Gi Kwang menggeleng.

“Kalau Yo Seob sih tahu, dia juga lolos audisi.”

“Ya ampun, tidak!” aku tertawa. “Teman-temanku calon superstar!”

Kami tertawa. Gi Kwang mendorong bahuku pelan.

“Eh, tapi benar lho, kalau kau sedikit memanjangkan rambutmu, sekilas kau mirip Rain.”

Gi Kwang tertawa. “Kau ini sakit mata ya?”

Bis yang akan kutumpangi tiba. Tapi Gi Kwang tidak ikut naik.

“Aku naik bis berikutnya saja,” katanya.

“Baiklah, aku pulang dulu,” aku melambai padanya lalu masuk. Dari jendela bis aku masih melihatnya melambai ke arahku. Tapi apa yang kulihat? Seraut ekspresi paling sedih yang pernah ditunjukkan Gi Kwang. Dia menggigit bibirnya saat melihatku, dan senyumnya… Aku belum pernah melihat senyum yang sangat terpaksa seperti itu.

Ada apa dengannya?

***

Gi Kwang tidak pernah menelepon atau meng-SMS-ku selama sebulan ini. Kami hanya bertemu dan mengobrol di sekolah saja. Selebihnya, kami seolah sibuk dengan urusan masing-masing. Aku latihan untuk persiapan pertandingan yang sudah semakin dekat, sementara dia sibuk training.

Tapi aku tidak bisa melupakan raut sedih Gi Kwang yang kulihat tempo hari. Sepertinya dia sedang memendam masalah. Tapi dia tak pernah menunjukkannya di sekolah, dia tetap ceria dan masih suka tertawa semaunya.

Tanpa terasa, pertandingan tinggal dua hari lagi. Aku sedang mengunci lokerku ketika Gi Kwang menghampiriku.

“Gugup menghadapi pertandingan?” sapanya.

“Sedikit,” aku tersenyum. Beberapa anak cewek menatapku iri. Aku pura-pura cuek.

“Iseul, aku ingin kencan denganmu.”

“HAH?!”

Teriakanku lumayan keras, sehingga anak-anak yang berada di sekitar loker menoleh ke arahku. Mereka pasti bingung karena mendadak seorang Kim Iseul berteriak norak. Aduh, Iseul, kau ini memalukan sekali, batinku.

“Kau ini norak sekali, sih. Belum pernah kencan, ya?” Gi Kwang protes.

“Habisnya… kau mengajakku kencan seperti mengajakku belajar kelompok saja,” kataku. Padahal dia benar, seumur-umur aku belum pernah kencan. “Lagipula, aku tak tahu kapan…”

“Setelah pertandingan, hari Minggu. Kau mau?” tanyanya.

“Tapi aku…”

“Kau kan belum pacaran dengan sunbae-mu itu, tak masalah kan?”

Aku bimbang. Kencan? Kalau dia mengajakku jalan-jalan saja sih, tidak masalah. Aku kan bisa mengundang teman-teman untuk ikut. Tapi ini… kencan? Itu artinya aku harus dandan? Itu artinya aku harus minta tolong So Eun dan Hye Sun memilihkan baju untukku?

“Baiklah,” kataku.

Gi Kwang tersenyum lega. “Terima kasih,” dia berlalu meninggalkanku. Tapi di ujung koridor dia masih berteriak, “Semoga sukses di pertandingan, ya!”

Aku bengong. Sepertinya kata-katanya tadi bagaikan mimpi.

***

Handphone-ku dibanjiri SMS ucapan selamat dari teman-temanku. Ya, aku jadi juara di pertandingan. Tapi yang paling tidak bisa kulupakan adalah ketika Yong Dae sunbaenim memelukku dan mengacak-acak rambutku, lalu mengucapkan selamat padaku. Dia memelukku! Mimpi pun tidak pernah. Hye Sun dan So Eun bersorak lebih kencang dari penonton lain saat melihatku dipeluk Yong Dae sunbaenim saat sudah turun dari podium.

“Selamat, ya!” katanya lalu mengacak-acak rambutku. Aku melayang.

Gi Kwang mengacungkan jempolnya saat bertatapan denganku. Aku melambai bahagia ke arahnya. Dia dan Yo Seob menyempatkan diri menonton pertandingan finalku. Tapi dia tidak menghampiriku lagi saat aku beranjak pulang ditemani ibuku dan teman-temanku.

“Dia dan Yo Seob pulang lebih dulu. Sibuk, katanya,” jawab Hye Sun saat kutanya. “Hebat benar mereka. Sibuk apa, ya?”

Tampaknya Hye Sun dan So Eun masih belum tahu tentang itu, batinku.

Malamnya, ibuku hendak mematikan TV ketika aku duduk disampingnya. Aku mau minta ijin ibuku untuk pergi bersama Gi Kwang. Hh, apa yang harus kukatakan? “Omma, aku mau kencan. Boleh, tidak?” atau “Omma, aku diajak jalan-jalan oleh temanku. Dia bilangnya sih kencan, tapi sungguh, kami tidak pacaran kok. Boleh, tidak?”

Ah, susah sekali…

“Ada apa?” tanya ibuku.

“Omma… hari Minggu, temanku mengajakku jalan-jalan…”

“So Eun dan Hye Sun?” tanya ibuku. Aku menggeleng.

Ibuku tersenyum. “Kencan, ya?”

Aku merasa tersedak ludah sendiri.

Omma mengelus rambutku sambil tertawa pelan. “Jangan pulang terlalu malam, ya?”

Aku tersenyum lega, sekaligus malu.

“Dengan Yong Dae-ssi?”

“Bukan,” jawabku cepat, wajahku terasa panas. “Teman sekelas. Gi Kwang.”

“Apa aku mengenalnya?”

“Tidak, dia belum pernah kerumah.”

Ibuku mengangguk lalu tersenyum. “Tidurlah, sudah malam.”

“Terima kasih. Selamat tidur, Omma,” kataku. Omma mengecup keningku, lalu aku pergi ke kamar. Tapi aku sama sekali tidak bisa tidur.

***TO BE CONTINUE***

8 thoughts on “Honey Dew Part 2 of 6

  1. Cho Jiyoung says:

    gikwang oppa kenapa itu? O,o enaknya jadi iseul…. cogan bertebaran disekitarnya *halah* oiya thor, saebumnim itu apa? Hehehe aku bingung jadi aku nganggepnya pelatih ._.a lanjut ya thor, penasaraaan ehehe, hwaiting! ^^

    • v3aprilia says:

      Et dah, bertebaran? Daun kali, hehehe
      Iya saebumnim itu pelatih, setauku sih gitu *barusan ngubek2 mbah gugel*
      Gomawo ji young🙂 sip sip, tunggu ya

  2. fiqih says:

    wah cinta segitiga nih *sotoy*
    aih iseul diajakin kencan sama kikwang, kalo aku mah ngga mikir lagi langsung ‘iya’ aja haha
    lanjutannya ditunggu~ aku ngecek blog ini pagi siang sore malem *lebay* nungguin ff ini😀

  3. honeyJung says:

    langsung shock liat ni ff udah tamat ampe part 6!! O.O
    huwaaaaa saya ketinggalaaannn :'((((

    ceritanya anak muda sekalii..
    jadi inget jaman SMA *curcol*
    lanjut baca aahh😀

  4. amelee says:

    holaaa, aku mampir ngerusuh😀 *tamu tak diundang*
    gomen ga komen di part awal, huhuhu *bowbowbow*
    nih author satu emang top dah, romancenya enak dibaca, jd ngiri sama iseul -,,-”
    mau ngubek2 isi blog ini dulu haha *minta izin*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s