[Chaptered] Honey Dew Part 1

“Aku menyukaimu, karena aku tak pernah bisa menghentikan senyumku tiap kali melihat wajahmu. Aku mencintaimu, karena aku ingin memilikimu. Aku menyayangimu, karena aku ingin melihatmu bahagia.”

***

2010…

“SMA adalah masa-masa paling indah dalam hidupku…” desah So Eun, menerawang ke jendela buram di kamarnya yang lupa dilap.

“Benarkah?” cibir Hye Sun, memancing pertengkaran untuk yang kesekian kalinya. “Bagian yang mana nih?”

“Bagian ketika aku pernah jatuh cinta dengan cowok yang ternyata jadi idolaku di TV.”

“Oh, berarti kita sama dong? Aku juga tidak bisa melupakan bagian di mana kita dipermalukan gara-gara ulah norakmu itu!”

“Aku kan sudah bilang maaf!” So Eun tidak mau disalahkan. “Lagipula kupikir dia oke saja…”

“Biar kugiling wajahmu itu sekarang! Iseul sampai harus menahan malu waktu dia maaf ke cowok itu, tahu kau? Tapi kau malah pacaran dengan orang lain!” Hye Sun menoleh ke arahku. “Iseul, bela aku!”

“Aku kan hanya penonton acara debat kalian…” kataku kalem. Menurutku, menonton mereka bertengkar menjadi hiburan tersendiri sebelum aku berangkat latihan ke klub.

“Jangan bersikap netral! Aku ingat kau ngambek dengan anak ini berhari-hari setelah kau minta maaf gara-gara ulah noraknya!” Hye Sun menunjuk hidung So Eun.

So Eun mewek. “Iseul, mianhae… Tapi itu kan sudah lama sekali…”

Hye Sun memotong ucapan So Eun. “Untung saja bukan kau yang sekelas dengan cowok itu, kau jadi tidak perlu malu dua kali. Kau harusnya terima kasih pada Iseul! Dia memang lebih cocok sekelas dengan cowok itu!”

Aku mendongak, protes. “Apa hubungannya?”

“Kau kan bukan tipe cewek yang selalu berteriak-teriak histeris kalau berpapasan dengan cowok ganteng, kan? Yah, paling tidak, kau hanya gugup hingga lupa kosakata Korea,” jawab Hye Sun menohokku.

“Iya benar juga, sih,” kata So Eun. “Semangat sedikit dong, Iseul. Kau hanya sangar di lapangan bulu tangkis saja, sih…”

“Oiya, aku ada latihan,” aku buru-buru mengambil tasku lalu berjalan menuju pintu.

“Kalau ketemu Yong Dae oppa, ajak dia ngobrol ya!” kata So Eun.

Aku tertawa. “Tapi dia tidak ikut ke Malaysia tahun ini, mungkin aku akan jarang bertemu dengannya.”

Aku hendak menutup pintu ketika pandanganku bertemu dengan tatapan Hye Sun yang menatapku penuh arti. So Eun tidak menyadarinya. Aku tersenyum singkat pada Hye Sun lalu pergi.

Sambil berjalan menuju halte, aku mengelus cincin di telunjuk kiriku. Mungkin Hye Sun sudah memahami ini bahkan sebelum aku menceritakan semuanya. Mendadak aku merasakan kerinduan yang sangat.

***

So Eun dan Hye Sun, dua cewek cerewet tadi, adalah teman sekolahku sekaligus tetanggaku. Kami bertiga tidak pernah terpisahkan sejak aku pindah dari Indonesia saat umurku lima tahun. Kami selalu masuk di sekolah yang sama bahkan hingga SMA, entah karena kami memang berjodoh atau karena memang kami punya kemampuan otak yang sama.

Kalau kau mengira aku bukan orang Korea, itu tidak benar. Aku, tepatnya, setengah Korea setengah Indonesia. Mendiang ayahku orang Indonesia asli, ibuku orang Korea. Setelah ayahku meninggal, kami pindah ke Korea dan aku memakai nama keluarga ibuku, Kim. Aku tidak pernah berani menanyakan kenapa aku tidak menetap di Indonesia saja. Akhirnya aku punya pikiran sendiri, mungkin Ibu tidak akan sanggup menahan kesedihan atas kepergian Ayah kalau kami terus menetap di Indonesia. Ah, sudahlah…

Sekarang aku sedang menuju klub tempat aku akan berlatih bulu tangkis. Ya, aku atlet sekarang. Dan bicara soal bulu tangkis, aku pribadi merasa sangat beruntung bisa satu klub dengan Lee Yong Dae sunbaenim, pemain bulu tangkis yang terkenal itu, di Samsung Electromechanics. Dua temanku yang cerewet itu tidak pernah berhenti meledekku ketika mereka tahu kalau aku menyukai Yong Dae sunbaenim. Mereka bilang aku tidak akan bertahan lama di klub karena aku akan selalu asyik memandangi Yong Dae sunbaenim sehingga kelupaan melakukan serve atau malah hanya terbengong-bengong di tengah lapangan. Untung saja racauan mereka tidak terbukti, karena mereka langsung bungkam begitu tahu kalau pada 2007 lalu aku menang di Asian Junior Championship dan Korean Super Series di tahun berikutnya kategori pemain tunggal wanita. Yah, lumayan lah. Tapi tetap saja, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Yong Dae sunbaenim yang sudah bergabung dengan timnas Korea Selatan saat umurnya baru limabelas tahun.

Bis yang kutumpangi hampir sampai ketika aku kembali memikirkan kata-kata Hye Sun tadi. Ya, aku memang pendiam, tak banyak ekspresi, dan satu yang belum dia ucapkan tadi, mudah gugup. Yang terakhir ini sungguh sifat yang buruk bagi atlet. Tapi anehnya aku tak pernah merasakan gugup saat bertanding apalagi latihan, minimal tidak segugup kalau aku harus bertemu atau bicara dengan orang yang belum terlalu kukenal, atau tidak separah gugupku kalau berpapasan dengan Yong Dae sunbaenim. Tiap kali bertemu dia, aku seperti lupa bahasa Korea.

Aku turun dari bis dan berjalan masuk ke gedung. Di lobi, aku melihat Yong Dae sunbaenim juga baru tiba. Mendadak aku ingin masuk ke dalam tas.

“Hai,” sapanya lalu tersenyum.

“Yong Dae sunbaenim,” aku sedikit membungkuk. Aku merasa konyol sekali.

“Tahun ini kau sudah masuk universitas ya?” tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk. Aku lupa bagaimana caranya mengatakan “iya” dalam bahasa Korea.

“Semangat ya, tahun ini kan ada Uber Cup. Kau harus bekerja keras supaya bisa bertanding di sana,” katanya.

“Iya, pasti,” jawabku. Aduh, kenapa omonganku jadi terkesan sombong begini?

Yong Dae sunbaenim tertawa, dia melambaikan tangan lalu pergi meninggalkanku yang masih kacau.

Ya, itulah aku. Tak pernah sedikitpun aku berpikir untuk berhenti menyukainya. Aku tidak peduli kalau nanti Lee Gi Kwang yang ditaksir So Eun sekelas denganku, bahkan duduk sebangku. Perasaanku tidak akan pernah berubah.

***

2006…

“Benarkah? Oh, bagus sekali, Iseul!” seru So Eun dan Hye Sun bersamaan. Saat itu hari pertama tahun ajaran baru, kami baru saja sampai di sekolah ketika aku menceritakan obrolan singkatku dengan Yong Dae sunbaenim di klub tempo hari. Mereka terus mendesakku untuk menceritakannya.

“Dia tahu kalau kau sudah masuk SMA? Menurutku itu bagus mengingat kalian berdua tidak akrab,” kata So Eun bersemangat. Aku hanya tersenyum.

“Memang sudah seharusnya atlet bulu tangkis pacaran dengan rekan satu profesi, lebih cocok,” Hye Sun menambahkan sok tahu.

“Kalian ini bicara apa, sih? Aku yang mengobrol kenapa kalian yang GR?” protesku, berdoa agar wajahku tidak memerah. Aku terkadang geli melihat mereka yang kelewat bersemangat hanya mendengar secuil cerita tak penting tentangku dan Yong Dae sunbaenim. Ya, tak penting karena perkembangan “hubungan” kami hanya sekadar berpapasan di lobi atau saling melempar senyum. Aku mempercepat jalanku menuju papan pengumuman supaya aku punya alasan untuk menghindari mereka.

“Kita sekelas, So Eun!” seru Hye Sun. “Tapi tidak ada nama Iseul. Hh, masa kita harus pisah dengannya?”

Aku tidak terlalu memperhatikan Hye Sun karena aku masih mencari-cari namaku. Tiba-tiba saja So Eun berseru,

“Kyaaaa! Itu dia! Itu dia!”

Ugh, kumat lagi, gerutuku dalam hati. Hye Sun, yang sudah terlatih menangani sahabat-ku yang isi kepalanya agak miring ini serta merta membekap mulut So Eun. Tapi tetap saja terlambat. Semua murid baru yang berjubel di depan papan pengumuman sontak menoleh kearah kami. Sebagian diantaranya langsung berbisik ke temannya, atau malah langsung membuat gosip baru dengan orang yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Aku tahu isi bisik-bisik mereka pasti tidak akan jauh dari kata-kata “norak”.

Aku tahu, kami semua tahu kalau So Eun jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Lee Gi Kwang sejak mendaftar SMA. Yah, aku maklum kalau So Eun bisa naksir cowok itu setengah mati, karena dia memang lumayan tampan. Aku dan Hye Sun sebelumnya sudah khawatir kalau tiba-tiba penyakit “gila” So Eun akan kumat kalau dia sedang terlalu bersemangat. Ternyata dugaanku benar. Aku dan Hye Sun langsung meninggalkan papan pengumuman, disusul So Eun yang langsung sibuk menyembah mohon ampun pada kami berdua.

Saat hendak menuju tangga, aku melewati Lee Gi Kwang yang masih bergerombol bersama teman-teman cowoknya. Entah kenapa mendadak aku juga merasa kesal dengan cowok ini, secara tidak langsung dia juga ikut andil atas insiden memalukan tadi.

Aku tak sengaja melirik Gi Kwang, wajahnya agak kusut sementara teman-temannya malah tertawa. Menertawakannya dan So Eun, dan pasti juga menertawakanku dan Hye Sun sebagai teman So Eun.

Aku malas bicara dengan So Eun hari ini.

***

Bahkan di kelas pun masih ada pembagian tempat duduk. Sebelum aku melihat denah kelas, aku mencoba berkenalan dengan beberapa teman.

“Senangnya bisa sekelas dengan pemenang termuda Korean Super Series,” puji Sun Mi. Aku hanya bisa tersenyum malu. Tapi Sohee memandangku dengan pandangan campuran antara iri dan keingintahuan.

“Iseul, kau sudah tahu siapa teman sebangkumu?” tanyanya.

Aku curiga. “Belum, aku belum melihat denah kelas.”

“Lihat saja di kertas di atas meja guru itu,” kata Sohee.

Sun Mi tertawa. “Tak usah pasang tampang iri begitu, Sohee…”

Aku beranjak mengambil denah kelas yang sudah di-laminating itu. Kepalaku langsung mendidih melihat nama yang tertera di sebelah namaku.

Lee Gi Kwang.

***

Gi Kwang membalas senyumku saat aku berjalan menuju bangkuku. Perasaan kesalku padanya sedikit mencair. Pikirku, kasihan kalau dia dijadikan kambing hitam. Dia kan tidak salah, So Eun saja yang terlalu norak.

“Kim Iseul?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Aku menonton pertandinganmu di Korean Super Series,” katanya lagi. “Kau hebat.”

Aku hanya tersenyum. So Eun pasti langsung mendadak terkena asma kalau seandainya dia yang ada di sini dan dipuji oleh cowok pujaannya.

“Oiya, kenalkan,” dia mengulurkan tangannya. “Aku Lee Gi Kwang.”

“Senang berkenalan denganmu,” aku menyambutnya. Aku belum pernah bicara berdua dengan cowok seperti ini sebelumnya, bahkan hanya untuk berkenalan saja. Kami diam beberapa saat, memperhatikan seisi kelas yang semakin ramai. Konyolnya aku, gerutuku dalam hati. Kenapa tingkahku jadi sama seperti ketika berpapasan dengan Yong Dae sunbaenim?

“Soal yang tadi…” aku memecah kebuntuan obrolan kami. Gi Kwang menoleh sambil tersenyum. “Maafkan temanku. Namanya… Kim So Eun. Dia memang suka begitu kalau… terlalu bersemangat.”

“Tidak apa-apa,” kata Gi Kwang. “Tampaknya dia orang yang menyenangkan.”

Kami kembali diam. Aku mengalihkan pandanganku darinya, pura-pura memeriksa isi tasku. Tapi aku masih bisa merasakan kalau Gi Kwang masih menatapku.

***

Gi Kwang cowok yang baik dan menyenangkan, itulah kesan yang kudapat setelah seminggu duduk sebangku dengannya. Karena dia, aku dengan cepat dapat beradaptasi dengan teman-teman sekelasku, karena hampir selalu ada yang menghampiri mejanya saat istirahat, sudah tentu mereka juga mengajakku mengobrol. Sekarang aku akrab dengan semua murid di kelasku, bahkan cukup banyak dari kelas lain, hal yang tidak mungkin terjadi saat aku masih SD dan SMP dulu.

Gi Kwang cukup populer, aku tahu itu. Banyak cewek-cewek yang menyukainya, dan lihat saja berapa banyak coklat yang dia terima saat Valentine. Dia dan adik laki-lakinya tidak kuat menghabiskan semuanya sehingga hampir setengahnya mereka bagi-bagikan ke tetangga, bahkan ada yang diberikan padaku.

Aku paling malas melihat tatapan iri cewek-cewek saat tahu kalau aku satu kelompok dengan Gi Kwang di kelas Biologi, atau saat dia sering mengajakku ngobrol tentang bulu tangkis atau apapun. Maka aku berusaha menjaga jarak dengannya. Tiap istirahat, aku lebih memilih bergabung dengan teman-teman lain atau nongkrong dengan So Eun dan Hye Sun di kantin. Itu bukan hal yang sulit karena aku juga sibuk latihan di klub sekolah dan di Samsung Electromechanics, jadi hubunganku dengan cowok itu hanya sebatas sebagai teman sebangku.

Kupikir So Eun akan girang setengah mati kalau dia tahu aku sudah menyimpan nomor HP Gi Kwang. Tapi dia malah tidak terlihat antusias. Aneh, sakit apa dia? Waktu hari pertama dia tahu kalau aku duduk sebangku dengan Gi Kwang saja dia cemberut dan mewek seharian.

“Kau sibuk, sih, lagipula kau beda kelas dengan kami. Kau mulai jarang ke kantin, pulang sekolah hanya istirahat sebentar lalu bikin PR atau latihan ke klub. Kau jadi ketinggalan berita kalau si So Eun babo ini sudah pacaran dengan kakak kelas,” kata Hye Sun.

“Tapi kemarin kita kan ke kantin, seharusnya saat itu kalian cerita!” aku melempar bantal ke arah So Eun. Malam itu aku dan Hye Sun menginap di rumah So Eun. So Eun hanya nyengir jelek.

“Dia bahkan melupakanku!” Hye Sun melanjutkan omelannya. “Yang ada di pikirannya hanya Kim Sang Bum oppa seorang…”

“Tentu saja!” So Eun sontak menanggapi Hye Sun sambil cengengesan. “Sang Bum oppa, saranghae…” dia langsung mengetik kata-kata itu dan mengirimkannya ke cowok pujaan barunya.

Aku tertawa. “Apa Sang Bum oppa-mu lebih tampan dari Gi Kwang?”

So Eun mengangguk. “Oh Iseul, aku jatuh cinta…” dia merentangkan tangannya hendak memelukku. Aku buru-buru naik ke tempat tidur setelah mendorong kepalanya.

“Menyingkir dariku!”

“Iseul, kau sekarang sedikit berbeda,” kata Hye Sun.

“Iya, benar,” So Eun menimpali kepalanya yang sakit bekas kudorong. “Kau lebih ceria dari biasanya.”

“Benarkah?” aku memilin piyamaku. “Tapi teman-temanku bilang aku ini sangat pendiam.”

“Mereka tidak mengenalmu sebaik kami mengenal kau,” kata Hye Sun. “Ah, aku tahu. Yong Dae oppa mengajakmu kencan, ya?”

“Masuk akal, sih. Belakangan ini Iseul rajin sekali ke klub. Kau pacaran dengannya, ya?”

“Kau sudah bilang ‘suka’ dan dia menerimamu? Atau malah dia yang bilang ‘suka’ padamu?”

“Jangan bilang sekarang kau malah naksir Gi Kwang…”

“Masuk akal juga, kau kan sudah punya nomor HP-nya, kau pasti rajin SMS-an dengan cowok itu malam-malam.”

“Tidak mungkin, Gi Kwang kan bukan pemain bulu tangkis.”

“Apa hubungannya, So Eun?”

“Bukan,” sanggahku jengkel. Kenapa mereka cerewet sekali kalau mendengar kata ‘Yong Dae sunbaenim’, malah akhirnya mengungkit-ungkit Gi Kwang segala? “Entahlah, tapi teman-teman sekelasku sangat lucu dan kompak dan aku merasa sangat nyaman. Mungkin aku terbawa suasana kelas.”

“Memangnya kami berdua tidak membuatmu nyaman?” tanya So Eun.

“Memangnya Iseul bisa nyaman kalau kau sudah merengek-rengek?” Hye Sun menohok So Eun.

“Aku tidak tanya padamu!”

HP-ku berbunyi, tanda ada SMS masuk. Aku membukanya, ternyata dari Gi Kwang.

“Siapa itu?” Tanya So Eun ingin tahu.

Aku tidak langsung menjawabnya, jadi So Eun langsung merangsek ke bahuku dan membaca isi SMS Gi Kwang.

Sedang apa?

“Aduh, mesranya… Berani-beraninya kau membohongi kami, Iseul…” sindir Hye Sun. Hye Sun ikut menghimpitku dan merampas HP-ku.

“Kembalikan!”

“Jelas, kan? So Eun, dia selingkuh dari Yong Dae oppa!” kata Hye Sun.

“Apa salahnya sih dia menanyakan itu padaku?” aku protes setengah berbisik. Tidak enak teriak-teriak di rumah orang.

“Balas saja, Hye Sun! Isinya ‘aku sedang memikirkanmu, sayang…’ Hi hi hi…” So Eun mengerjaiku.

“Kalian ini benar-benar…” aku merampas kembali HP-ku dan mengetik balasan.

Sedang dikerjai dua setan… tolong doakan aku supaya selamat… :p

“Sialan kau, Iseul!” Hye Sun mendorong kepalaku. “Sejak kapan kau berteman dengan setan?”

Aku tidak menjawab.

“Keluar lagi deh sifat pendiamnya,” kata So Eun. “Tidak apa-apa kok, Iseul. Aku kan sudah punya Sang Bum oppa, aku tidak suka dengan Gi Kwang lagi…”

“Bicara apa kau ini?” kataku gemas. Ada SMS masuk lagi.

Ha ha ha, aku ingin tahu setan seperti apa yang mengganggumu sekarang…

“Oke, oke. Sudah malam, tidur yuk!” kata Hye Sun setelah membaca SMS Gi Kwang. So Eun cekikikan.

“Kalian ini…” aku cemberut. Hye Sun tertawa.

“Aku serius, sekarang kan sudah malam,” katanya. So Eun segera naik ke tempat tidur dan mematikan lampu, tapi di balik selimutnya aku yakin dia sedang SMS-an dengan Sang Bum oppa. Aku dan Hye Sun tidur di kasur bawah.

“Jangan terlalu lama SMS-an, selamat tidur,” kata Hye Sun lalu menyelimuti dirinya.

“Selamat tidur,” kata So Eun dari balik selimut.

“Selamat tidur,” kataku. Aku memunggungi Hye Sun dan membalas SMS Gi Kwang.

Hari Senin kukenalkan mereka, ok? :p

Sekarang sudah malam, kenapa belum tidur?

Gi Kwang lumayan cepat membalas SMS-ku.

Harusnya aku yang bertanya begitu. Anak cewek tidak boleh tidur terlalu larut. Aku masih bersama teman-teman.

Soknya, cibirku dalam hati. Menyenangkan ngobrol dengan Gi Kwang, tapi setengah diriku merasa sedih, kenapa bukan Yong Dae sunbaenim yang mengobrol denganku seperti ini? Kami hanya mengobrol basa basi supaya tidak terkesan sombong dengan sesama pemain. Aku menyimpan nomor HP Yong Dae sunbaenim, tapi apakah dia masih menyimpan nomor HP-ku? Terakhir kali dia meng-SMS-ku adalah waktu aku pertama kali ikut turnamen Asian Junior Championship, ucapan selamat karena aku jadi juara. Itu saja, dan aku masih menyimpan SMS itu hingga sekarang. Bodohnya aku…

Tidurlah, sudah malam…

SMS dari Gi Kwang. Entahlah, menurutku dia kelewat perhatian padaku, tapi mungkin dia juga melakukan hal yang sama pada semua temannya karena dia memang baik.

Baiklah, tampaknya aku juga sudah ngantuk.

Terima kasih sudah menemaniku.

Dadaku berdebar tanpa sebab.

Cheonmanaeyo. Senang bisa menemanimu. Selamat tidur.

Mimpi yang indah…

Aku mengucapkan selamat tidur padanya. Saat mengetik kata-kata itu, aku membayangkan Yong Dae sunbaenim tersenyum padaku.

***TO BE CONTINUE***


15 thoughts on “[Chaptered] Honey Dew Part 1

  1. fiqih says:

    huaaaaaaa iri sama iseul T.T
    asik banget ya sms-an . hape aku mah sepi mulu *nasib orang single*
    kayaknya kalo baca ff buatan chingu terus aku bisa bener-bener cinta sama kikwang nih . andwaeeeee yoseob oppa harus tetep nomor 1😦 *plakk*
    aku tunggu lanjutannya ! ^^

    • v3aprilia says:

      hehehe,thanks udah komen disini fiqih🙂
      samaaaa, hape-ku juga sepi. Kalo bukan sms dari author FYIFM yg lagi satu, palingan sms dari operator, hahaha

      Eh, ngga apa2 lagi nge-fans ama 2 orang, ngga ada yg ngelarang tuh hehehe. Gomawo fiqih…

      • fiqih says:

        berarti kita senasib ya -,-
        iya bener juga, sekarang bias pertama aku yoseob kikwang deh . anggep aja mereka itu satu hahaha
        cheonmaneyo~🙂

  2. Cho Jiyoung says:

    hye sun pedes amat ngomongnya itu (¬_¬)
    Kyaaa kikwang oppa cocuittt *apadeh* aku suka giseul couple deh thor hehehehehehe. Lanjut thor penasaran ~^^~

    • v3aprilia says:

      Hehehe, tapi dibedain ya jiyoung, iseul yang FYIFM ama iseul yang disini orangnya beda. Satunya murid seungshin satunya lagi atlet bulu tangkis, kekeke
      Oke deh, gomawo jiyoung🙂

  3. honeyJung says:

    asik asik.. ada Yong Dae oppa!! hhaha..

    bener tuh apa kata fiqih *nunjuk2 komen diatas* bisa2 saya jatuh cinta nih ama kikwang gara2 sering baca ff ny author,, hoho *joker manyun*

    lanjutanny ak tunggu ya..🙂

  4. ichan says:

    iseul,kasiannya dirimu,suka ama cowo tapi malah kelewat gugup
    tapi mending iseul ama gikwang aja,toh mereka udah nyaman+akrab 1 sama lain *mesra*
    nama couplenya giseul kan? pertama ku baca keliru jadi gingsul –”
    tumben2an nggak da humornya yatapi nggak apa deh,so sweet gini sih~ q nggak akan nolak🙂
    lanjut ya kak~🙂

      • v3aprilia says:

        Nyaaah, gingsul? Kamu sudah menyinggung author, ichan… *ketauan author giginya gingsul, hahaha*

        Iya, kata-katanya sama kok, tapi FF ini lebih dulu ditulis, udah lumayan lama nih FF, hehehe

        Gomawo komennya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s